For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Selamat Jalan KRI Rencong…

KRI Rencong

KRI Rencong milik Angkatan Laut Indonesia terbakar dan tenggelam di perairan Sorong Selasa 11 September 2018. Beruntung seluruh awak selamat dalam kecelakaan.

KRI Rencong menjadi bagian dari armada Gugus Keamanan Laut Komando Armada III TNI AL. Kapal lain dalam kelas yang sama adalah KRI Mandau-621, KRI Badik-623, dan KRI Keris-624. Mereka merupakan kapal Kapal Cepat Rudal (KCR).

KRI  Rencong-622 dan kapal sejenisnya juga mampu melaksanakan operasi Cast and Recovery atau penerjunan dan penjemputan kembali pasukan. Beberapa kali kapal tersebut melakukan latihan misi tersebut.

Kapal ini dibuat di Galangan kapal Tacoma SY, Masan, Korea Selatan pada tahun 1979 dan didasarkan pada kapal patroli kelas Dagger/Ashville yang dibangun Amerika.

Kapal menggunakan bodi alumunium itu, sehingga bobotnya ringan dan lincah digerakkan mesin gas turbin General Electric LM 1500 selain dua mesin diesel untuk kecepatan rendah. Dengan kekuatan ini kapal bisa melaju dengan kecepatan hingga 40 knot atau sekitar setara 74,08 kilometer perjam.

Persenjataan kapal ini diisi dengan kehadiran empat peluru kendali permukaan ke permukaan MM-38 Exocet Aeropastiale, Prancis. Rudal ini cukup legendaris karena memiliki jam tempur terkenal ketika Inggris menggelar Perang Falkland. Namun perkembangan selanjuntya rudal tersebut digantikan dengan C-802 buatan SACCADE, China.

Kapal juga dilengkapi sistem pertahanan titik meriam Bofors 40/70 dan 57/70 mm buatan Bofors/Saab, Swedia, pemandu tembakan Signaal WM28, kanon penangkis serangan udara Rheinmetall 20 mm, dan dia mampu membawa satu helikopter.

Di ruang sistem manajemen tempurnya, terdapat sistem radar MR-302/Strut Curve untuk memandu tembakan sistem pertahanan MR-123 Vympel/Muff Cob.

KRI Rencong juga sempat terlibat ketegangan dengan KD Karambit Malaysia pada Maret 2005 yang saat itu memang ada ketegangan  terkait dengan persoalan kawasan Ambalat yang diklaim sebagai wilayah Malaysia.

Ketegangan memang baru sebatas adu mulut melalui alat komunikasi dan manuver KRI Rencong Indonesia dengan Kapal Diraja Karambit dari Malaysia dan belum mengarah pada pertempuran.

Ketegangan terjadi ketika KD Karambit berusaha memperingatkan KRI Rencong agar meninggalkan kawasan perairan Karang Menarang yang diklaim sebagai wilayah Malaysia.

KRI Rencong yang mendapat peringatan itu, membalas dengan permintaan agar kapal perang Malaysia itu meninggalkan perairan yang sama karena masuk dalam daerah teritorial Indonesia.

Setelah itu, KRI Rencong berupaya untuk mengikuti gerakan KD Karambit hingga keluar dari perairan Karang Menarang dan Ambalat sambil mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan terburuk.

KD Karambit yang diikuti akhirnya melalui alat komunikasi minta dilakukan patroli bersama pada KRI Rencong.

Guna menghindari tindakan provokasi permintaan itu dipenuhi dengan tetap menjaga kapal Malaysia tidak masuk ke perairan Karang Menarang dan Ambalat dengan jarak sekitar 1.000 yard.

Kini KRI Rencong telah melakukan misi terakhirnya. Salah satu andalan Angkatan Laut Indonesia itu harus berakhir dengan mengenaskan. Selamat Jalan KRI Rencong…

Facebook Comments