For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Koalisi Pimpinan Amerika Siapkan Pertempuran Terakhir Melawan ISIS

Koalisi pimpinan Amerika Serikat sedang mempersiapkan pertempuran terakhir melawan ISIS di Suriah. Setelah empat tahun perang digelar, kelompok militan tersebut kini memiliki benteng terakhir di kota Hajin di Suriah timur.

Mayjen Felix Gedney seorang perwira Angkatan Darat Inggris atas yang terlibat dalam kampanye mengatakan lebih dari 1.000 pejuang ISIS bersembunyi di kota Hajin, dekat perbatasan Irak, termasuk sejumlah pejuang asing

“Kami memperkirakan ISIS telah membuat persiapan dengan membangun benteng pertempuran untuk menghadapi serangan,” kata Gedney yang juga, wakil komandan untuk strategi dan dukungan koalisi pimpinan Amerika untuk melawan ISIS sebagaimana dikutip Foreign Policy Kamis 2 Agustus 2018.

“Karena ini adalah salah satu daerah terakhir yang mereka pegang  kami pikir pertempuran untuk mengeluarkan mereka dari daerah itu akan sulit,” katanya.

Gedney mengatakan, Pasukan Demokratik Suriah atau Syrian Democratic Forces, milisi yang didukung koalisi telah membawa beberapa konvoi sipil meninggalkan Hajin. Tapi pejuang ISIS diyakini mencegah orang lain keluar untuk menggunakan mereka sebagai perisai manusia.

SDF telah mendorong pertempuran melawan ISIS di darat dan akan memimpin serangan pada Hajin. Amerika Serikat terutama akan memberikan dukungan udara.

Gedney tidak berpikir pasukan koalisi akan menghadapi pasukan Rusia atau Suriah selama pertempuran terakhir. Kedua pihak pada umumnya menggunakan Sungai Eufrat sebagai garis pemisah. Koalisi beroperasi di sebelah timur sungai, sementara pasukan Rusia dan Suriah beroperasi di barat. Kedua belah pihak berkomunikasi secara teratur pada “jalur deconfliction,”  di markas koalisi di Qatar.

Para ahli mengatakan pertempuran Hajin dapat menandai berakhirnya misi koalisi di Suriah, meski tidak akan bisa benar-benar menghapus ISIS.

Menurut Will Todman, seorang peneliti di Program Timur Tengah Center for Strategic and International Studies’ ISIS telah kehilangan 99,5 persen dari wilayah yang dipegangnya di Irak dan Suriah. Pada puncaknya pada tahun 2014, kelompok ini menguasai 34.000 mil persegi tanah.

Koalisi pimpinan Amerika Serikat meluncurkan kampanye melawan ISIS pada akhir 2014. Butuh waktu tiga tahun untuk merebut Raqqa, ibu kota de facto ISIS.

Perkiraan jumlah korban dalam perang koalisi melawan kelompok sangat bervariasi. Menurut Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia, kelompok pemantau yang bermarkas di Inggris, sedikitnya 3.250 orang telah tewas, di antaranya 1.130 warga sipil, tetapi kelompok lain mengatakan jumlahnya lebih tinggi.

Todman mengatakan Hajin adalah benteng terakhir ISIS yang tersisa di sebelah timur Sungai Eufrat tetapi beberapa kantong kelompok itu tetap di sebelah barat sungai, dikelilingi oleh wilayah yang dikuasai rezim Suriah.

Namun, menurut Melissa Dalton, Direktur program keamanan internasional Center for Strategic and International Studies ada bukti bahwa kelompok militan telah bergerak secara efektif di bawah tanah dan beroperasi bebas di malam hari.

Sejumlah pejuang diperkirakan telah mencoba berbaur dengan penduduk sipil. “Dalam hal bagaimana koalisi membingkai perjuangan saat ini melawan ISIS, dari pengertian operasional  Hajin mungkin adalah salah satu benteng terakhir,” kata Dalton. Tetapi ISIS memiliki jaringan untuk dengan mudah beregenerasi di tempat lain, katanya. “Kami belum melihat yang terakhir dari mereka.”

Dengan pertempuran yang sekarang surut, Pasukan Demokrat Suriah membersihkan peralatan peledak dari banyak daerah, sementara pasukan Angkatan Darat Amerika lebih fokus pada pemulihan air, listrik, dan layanan penting lainnya.

Gedney, jenderal Inggris, mengatakan lembaga sipil akan memimpin upaya stabilisasi tetapi koalisi militer akan terus memberikan keamanan di daerah-daerah yang telah dievakuasi oleh ISIS.

Facebook Comments