For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Sejarah Singkat Bom Cluster Rusia

Tidak hanya Amerika, Rusia juga memiliki bom cluster. Ketika pembom pertama digunakan dalam peperangan, pilot secara harfiah menjatuhkan bom pada target musuh dengan tangan. Banyak yang telah berubah sejak saat itu dan pesawat modern menggunakan bom cluster canggih, memukul target dengan presisi dan kehancuran yang ekstrem dari jauh.

Memukul target musuh dari pesawat bukanlah tugas yang mudah. Salah satunya adalah bagaimana menemukan, mengidentifikasi dan menghancurkan satu objek stasioner musuh, tapi menjadi cukup misi menantang untuk berhasil melaksanakan serangan udara besar-besaran, menyebabkan kerusakan serius pada musuh di tanah. Demikian dilaporkan Channel TV Zvezda.

Jerman adalah negara yang pertama untuk memperkenalkan bom anti-personil canggih selama Perang Dunia II.

Pilot Luftwaffe menjatuhkan bom AB-23 SD-2 dan AB-250, bernama Butterfly. Disebut demikian karena setelah silinder bom hancur di udara dia merilis sekelompok bom-bom yang tampak seperti kupu-kupu.

Bom AB-250 memiliki 180 peledak yang dirilis di udara. Bom seri AB adalah bom cluster pertama yang pernah digunakan dalam sejarah pertempuran dan mereka terbukti sangat efektif terhadap musuh.

Soviet menggunakan bom PTAB melawan musuh di darat. Bom dijatuhkan terutama dari bomber IL-2 yang bisa membawa 192 bom. Setiap bom PTAB memiliki antara 1,5 dan 2,5 kg bahan peledak dan menghancurkan area seluas 15 meter persegi.

Selama pertempuran sengit, seperti pada Pertempuran Kursk, pilot IL-2 membawa kapasitas maksimum 192 bom.

Menurut sejarawan Andrei Rumin, pesawat IL-2 mengemas dengan 300 bom PTAB di Kursk untuk menghancurkan semua tank Wehrmacht yang bergerak ke arah Soviet.

Sejak 1970-an, Soviet mulai menggunakan bom cluster RBK-250 AO-1 dan menjatuhkan mereka dari pembom Su-17 dan helikopter serang Mi-24. Setiap bom memiliki 150 kelompok bom kecil dan bisa menutupi area 4.800 meter persegi.

Bom-bom itu efektif digunakan selama perang Soviet di Afghanistan dan perang Chechnya pertama. Sebuah pesawat Soviet mengemas RBK-250 bom, bisa “merancang ulang lanskap pegunungan Afghanistan” dan membawa teror untuk Mujahidin.

Dimulai pada tahun 1990-an, militer Rusia mulai mengembangkan bom cluster RBK-500 dan PBK-500 dengan sistem penguncian target khusus. Ketika target mengedentifikasi dan bom dijatuhkan, teknologi penargatetan mandiri mempercepat amunisi untuk mencapai kecepatan hingga 2.000 meter per detik untuk kehancuran maksimal.

Ahli militer mengatakan bahwa ketika bom tersebut mengunci target mereka, apakah itu sebuah kendaraan infanteri, tank atau kendaraan lapis baja lainnya, mereka hampir tidak memiliki kesempatan untuk bertahan hidup.

Jika bom tidak mencapai target, sistem self-destruct akan diaktifkan dan bom dihilangkan.

Facebook Comments

error: Content is protected !!