For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Setelah 5 Tahun, A-10 Warthog Kembali ke Medan Perang Afghanistan

Pasukan Amerika di Afghanistan mengerahkan sebuah skuadron pesawat tempur darat A-10 Warthog untuk mengintensifkan sebuah kampanye udara yang meningkat lebih dari tiga kali lipat pada tahun 2017 dibanding tahun sebelumnya.

Jumlah serangan udara Amerika di Afghanistan telah melonjak sejak Donald Trump menjabat sebagia Presiden setahun yang lalu.

A-10 kembali ke Afghanistan untuk pertama kalinya sejak 2012, dengan 12 pesawat yang beroperasi dari pangkalan udara Kandahar, jantung militan berjuang untuk menggulingkan pemerintah yang didukung Barat dan mengusir pasukan asing.

Mayor Jenderal James Hecker dari USAF mengatakan Selasa 22 Januari 2018,  A-10 Thunderbolt II kembali untuk memenuhi kebutuhan dukungan udara yang meningkat dalam sebuah kampanye yang menargetkan sumber pendapatan Taliban termasuk fasilitas penghasil obat dan operasi kontra-terorisme.

Pesawat tersebut telah melakukan serangan pertama mereka untuk melanjutkan perang terpanjang dalam sejarah Amerika yang belum juga ad menunjukkan tanda-tanda akan berakhir meski sudah berlangsung selama lebih dari 16 tahun.

“Kami sudah lama berperang melawan musuh,” kata Hecker. “Di tahun 2017 saja, kami telah menjatuhkan lebih banyak bom daripada dua tahun terakhir. Lebih dari 4.000 bom telah digunakan untuk melawan Taliban, terhadap ISIS dan sebagainya,” katanya sebagaimana dilaporkan Business Insider Selasa 22 Januari 2018.

A-10 merupakan pesawat dukungan udara yang sangat dihandalkan. Kemampuan pesawat untuk terbang lambat dan rendah menjadikannya platform yang sangat cocok untuk mendukung pasukan darat. Apalagi melawan musuh yang tidak memiliki sistem pertahanan udara seperti Taliban. A-10 akan dengan mudah mengamuk.

Pesawat ini secara harfiah bisa disebut sebagai tank terbang, pilot benar-benar duduk di kotak titanium yang memberikan perlindungan yang luas dari tembakan anti pesawat dari amunisi 23mm. Posisi mesin membuat mereka menjadi target yang sulit untuk ditembak. Sistem kontrol penerbangan memiliki hidrolik ganda bersama dengan mekanik cadangan untuk sistem hidrolik. Tank bahan bakar memiliki lapisan polyurethane untuk mengurangi hilangnya bahan bakar dan kerusakan.

MQ-9 Reaper

Drone Reaper

Hecker juga mengatakan bahwa keberhasilan kampanye melawan ISIS berarti A-10 dapat dikirim ke Afghanistan dan bukan Pangkalan Udara Incirlik di Turki, di mana mereka seharusnya berada.

Selain itu, pesawat tak berawak MQ-9 Reaper juga akan digunakan sebagai bagian dari peningkatan besar aset intelijen, pengawasan dan pengintaian atau intelligence, surveillance and reconnaissance (ISR) (ISR) yang mendekati tingkat yang terlihat pada puncak keterlibatan Amerika di Afghanistan.

“Kami akan meningkatkan kapasitas ISR kita di sini sekitar sepertiga, yang akan membuat kita agak dekat dengan level yang kita miliki di masa lalu,” katanya.

Taliban telah melakukan terobosan sejak NATO mengakhiri operasi tempur utamanya pada 2014 dan sekarang diperkirakan menguasai setidaknya 40 persen negara tersebut. Komandan Afghanistan secara teratur meminta dukungan udara lebih banyak.

Setelah meninjau ulang kebijakan Afghanistannya selama berbulan-bulan, Trump pada bulan Agustus 2017 membawa Amerika Serikat kembali ke sebuah konflik terbuka di negara tersebut dan menjanjikan sebuah kampanye yang ditingkatkan untuk melawan gerilyawan Taliban.

Menurut USAF Jumlah senjata yang dilepaskan dalam serangan udara Amerika di Afghanistan pada 2017 adalah 4.361 yang meningkat dibandingkan dengan 1.337 pada tahun sebelumnya.

Peningkatan serangan udara telah menyebabkan kekhawatiran korban sipil, terutama setelah PBB melaporkan lonjakan kematian akibat serangan udara tahun lalu.

Facebook Comments