For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Ada 1001 Alasan Memilih dan Membeli Jet Tempur

KAI KT-1 Woongbi, F-16 dan Su-27 milik TNI Angkatan Udara

Pesawat tempur adalah salah satu sistem senjata tunggal yang paling penting di gudang persenjataan negara manapun. Mereka bukan hanya  paling mematikan, tapi juga paling fleksibel  dan paling terlihat.

Pesawat tempur bisa sangat efektif  karena kehadiran mereka – tanpa melepaskan tembakan satu pun. Tidak mengherankan, kekuatan pesawat terbang dan udara tidak hanya paling rakus pada anggaran pertahanan.

Ada banyak alasan kenapa sebuah negara memilih jet tempur tertentu untuk memperkuat angkatan udara mereka.

Sebagian orang tidak bisa membedakan antara kekuatan udara yang berfungsi dalam kerangka kerja perjanjian pertahanan dengan kekuatan udara yang berfungsi dalam konteks mereka sendiri.

Pasukan udara  untuk operasi gabungan biasanya dilengkapi dengan rencana beroperasi dalam koalisi. Misalnya koalisi kekuatan militer yang dipimpin oleh Amerika Serikat atau NATO. Dalam koalisi semacam itu, pesawat mereka harus khusus.

Namun, mayoritas angkatan udara di seluruh dunia tidak ada dalam konteks seperti itu. Sebaliknya, sebagian besar kekuatan udara bekerja sendiri.

Yang paling penting adalah masalah dana atau tekanan anggaran lainnya. Hal ini menghasilkan situasi di mana angkatan udara sebuah engara harus mempertahankan kekuatan yang kredibel  namun mengalami kekurangan uang. Sebagian besar angkatan udara semacam itu biasanya akan membentuk  mereka sesuai dengan persepsi ancaman.

Persepsi ancaman sangat bervariasi dari satu negara ke negara lain. Sebuah negara yang terisolasi secara geografis tidak akan pernah memiliki persepsi ancaman yang  sama dengan negara yang bertetangga dengan beberapa negara lain.

Tetapi ada juga dua negara yang sama-sama dikelilingi oleh samudra memiliki persepsi ancaman tidak sama. Selandia Baru dan Filipina misalnya, keduanya dikelilingi oleh samudra. Namun, Selandia Baru tidak menghadapi banyak pemberontakan atau tetangga dari luar negeri yang ingin menguasai bagian laut yang relatif dekat dengan pantainya.

Demikian pula,  militer sebuah negara yang hancur total dalam beberapa dekade perang saudara atau invasi asing, atau yang berada di bawah pendudukan militer  asing, tidak dapat memiliki persepsi ancaman serupa – atau kebebasan memilih – seperti halnya militer negara-negara yang memiliki stabilitas  dan situasi damai selama puluhan tahun. Afghanistan tidak berada pada posisi yang sama dengan Botswana.

Selanjutnya, setiap dinas militer memiliki favorit sendiri dalam hal sumber dan jenis senjata. Beberapa militer mengikuti pola Barat yang spesifik berkaitan dengan doktrin, strategi dan taktik, dan dengan demikian berkaitan dengan rekrutmen, pelatihan dan peralatan.

Yang lainnya mengikuti pola Rusia atau Cina. Ada sejumlah militer yang menggunakan campuran dua atau bahkan ketiga hal tersebut. Iran misalnya, dia menggunakan standar militer Amerika dan Rusia.

Pemilihan pesawat juga didasrkan pengalaman mereka  yang  menghasilkan strategi, taktik, pelatihan dan peralatan mereka sendiri.

Pada tahun 1960an, Angkatan Udara Irak didominasi oleh sejumlah perwira tinggi yang dikenal sebagai “Hunter Mafia” karena menyukai jet tempur Hunter buatan Inggris. Pada 1970-an, sekelompok perwira lain mendominasi dinas tersebut dan kemudian dikenal sebagai ” Sukhoi Mafia ” karena menjadikan jet Soviet sebagai favorit mereka.

Hunter Mafia yakin bahwa tidak ada pesawat tempur buatan Soviet yang bisa mengalahkan tipe-tipe Barat seperti Hunter, F-4, Mirage dan Hawk. Sejalan dengan itu, mereka berusaha untuk mendapatkan jet-jet tempur jenis seperti itu selama bertahun-tahun tetapi tidak banyak  berhasil.

Sementara Sukhoi Mafia yakin bahwa jet tempur buatan Sukhoi jauh lebih bisa bertahan, bisa membawa lebih banyak senjata dan lebih mudah dipelihara serta beroperasi daripada tipe lainnya. Pengaruh mereka mengakibatkan Irak membeli sejumlah besar Sukhoi pada tahun 1970an dan 1980an.

Sukhoi Mafia sangat menentang dorongan Hunter Mafia untuk membeli Mirages F.1 Prancis, dengan alasan bahwa mereka akan terlalu mudah untuk ditembak jatuh. Ketika Hunter Mafia menempatkan pesanan kedua F.1 Mirage pada tahun 1983, Mafia Sukhoi hampir melakukan kudeta terhadap Saddam Hussein.

Dalam banyak kasus, proyek pengadaan militer tertentu didorong oleh pengalaman pribadi komandan militer dan politik utama mereka. Jika jajaran tertinggi angkatan udara tertentu dilatih di AS atau di tempat lain di Barat, mereka cenderung mengembangkan kecenderungan kuat untuk pesawat A.S. dan Barat.

Akhirnya, ada beberapa negara dan angkatan udara yang tidak dapat menerima pesawat dari sumber lain. Contoh yang bagus dalam hal ini adalah Suriah. Beberapa upaya intensif untuk mendapatkan pesawat asal Barat  yakni dari Inggris dan Italia pada tahun 1960an dan 1970an  semuanya tidak membuahkan hasil.

Bahkan dorongan kuat untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan Cekoslowakia tetap saja tidak menjadikan mereka Suriah mendapat pesawat dari negara tersebut. Damaskus tidak punya pilian selain terus membeli dari Moskow.

Kerap kali banyak yang tidak paham tentang alasan pembelian jet tempur. Hingga sering muncul pendapat, buat apa sih membeli jet tempur mahal? Apa dibutuhkan?

Jawabannya biasanya terletak pada sejarah operasional, pengalaman tempur dan penilaian ancaman terhadap angkatan udara yang bersangkutan.

Uganda adalah negara Afrika pertama yang membeli pesawat tempur Su-30 dari Rusia. Meskipun alasan untuk melindungi sumber minyak sebagai alasan, ada alasan lain kenapa mereka membeli Su-30.

Sebagian besar terkait dengan keterlibatan Uganda di Perang Kongo berlangsung antara tahun 1996 dan 2003 dan, baru-baru ini, Uganda juga harus melawan milisi bersenjata. Kedua pengalaman tersebut menunjukkan bahwa angkatan udara Uganda membutuhkan pembom tempur jarak jauh multi-peran  untuk mencapai target yang berada di luar jangkauan jet yang telah ada.

Dengan pilot Uganda yang sudah terlatih dengan pesawat blok Timur seperti MiG-21 dan L-39 dan kemudain memilih Su-30 adalah hal yang masuk akal.

Angola juga memesan Su-30 untuk alasan yang sama, termasuk persyaratan untuk menggantikan MiG-23 dan Su-22 yang sudah usang. Negara ini memiliki pengalaman di Perang Kongo dan juga melawan pemberontak lokal. Angola juga perlu mengalahkan CF-5 Botswana jika terjadi perselisihan perbatasan.

Mungkin contoh terbaik dari keseluruhan kepentingan politik, ekonomi dan keamanan yang sangat spesifik yang mempengaruhi keputusan terkait pengadaan  jet tempur adalah Qatar. Ketika negara tersebut diisolasi oleh empat anggota Dewan Kerjasama Teluk, kekayaannya memungkinkannya melakukan membeli jet tempur dalam jumlah besar dan berbagai jenis yakni F-15, Rafale dan Typhoon sekaligus.

Meskipun terlihat acak, akuisisi ini ini akan mengamankan pengaruh Doha di ibu kota negara bagian paling penting selama setidaknya satu dekade mendatang.

Pada akhirnya ada begitu banyak alasan kenapa sebuah negara memilih jet tempur yang akan dibelinya. Dari masalah uang, karakter operasi, ancaman hingga politik.

Facebook Comments