For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Setelah 15 Tahun Ditinggalkan, US Army Kembali Berlatih Menggunakan FIM-92 Stinger

FIM-92 Stinger/Army Mil

Angkatan Darat Amerika untuk pertama kalinya akan kembali berlatih menggunakan sistem rudal pertahanan udara Man-Portable FIM-92 Stinger. Ini adalah latihan pertama setelah 15 tahun senjata ini dilupakan karena dinilain tidak diperlukan di medan perang.

Pelatihan pertama akan dilakukan di 7th Army Training Command’s Joint Multinational Readiness Center (JMR) di Honenfels Jerman mulai 10 Januari 2018. JMRC adalah pusat pelatihan tempur pertama yang menerima pelatihan Stinger ini.

“Berdasarkan inisiatif Kepala Staf Angkatan Darat, pasukan di Eropa menjadi prioritas untuk mendapatkan pelatihan short-range air defense (SHORAD) Stinger agar memiliki tim Stinger kembali secara online,” kata Letnan Kolonel Aaron Felter, Direktur pelatihan dan doktrin Air Defense Integrated Office yang melatih langsung penggunaan senjata tersebut.

“Kami akan pergi ke National Training Center dan Joint Readiness Training Center, namun, fokus utamanya adalah Eropa dan membuat Eropa siap untuk bertempur malam ini membela Eropa melawan musuh manapun,” katanya sebagaimana dilaporkan Army.Mil Jumat 12 Januari 2018.

Dalam 15 tahun terakhir, Angkatan Darat Amerika secara perlahan telah meninggalkan FIM-92 Stinger, karena lebih fokus pada misi perang kontra pemberontak yang tidak memiliki pesawat. FIM-92 Stinger merupakan rudal permukaan ke udara yang menggunakan inframerah yang sudah ada sejak akhir 1970-an. Namun, menurut Felter, sekarang Stinger menjadi salah satu titik utama Angkatan Darat Amerika.

“Membawa kembali Stinger akan menutup celah yang diciptakan sendiri oleh Angkatan Darat,” tambah Felter. “Kami kembali ke dasar-dasar dan menyediakan pertahanan udara jarak pendek untuk manuver unit.”

Upaya Angkatan Darat Amerika untuk memulihkan lagi tim Stinger jelas terkait dengan perkembangan keamanan dunia yang mereka hadapi. Ketegangan dengan Rusia, Korea Utara dan juga China jika pada akhirnya pecah menjadi konflik, maka senjata ini kembali diperlukan. Sementara di Afghanistan, Stinger nyaris tidak berguna karena lawan tak punya pesawat.

Facebook Comments