For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Apakah Lebih Baik Korea Selatan Juga Kembangkan Nuklir?

Empat dekade lalu Presiden Korea Selatan Park Chung-hee, meluncurkan program untuk memiliki senjata nuklir. Washington, pelindung militer Selatan, memberi tekanan besar untuk membunuh program itu. Dan hari ini apa yang diinginkan atau diupayakan Park mungkin benar.

Republik Demokratik Rakyat Korea tanpa henti mengembangkan senjata nuklir dan rudal jarak jauh mereka. Memiliki pasukan khusus dan tidak lagi menerapkan taktik konvensional  seperti menggunakan terowongan di bawah Zona Demiliterisasi untuk mengancam untuk mengganggu operasi sekutu. Meski sebagian besar dari senjata konvensional mereka bobrok, Pyongyang masih bisa melampiaskan malapetaka di Seoul dengan artileri dan rudal Scud.

Selatan mencoba untuk menemukan suatu respon yang efektif. Salah satunya dengan menutup kompleks industri Kaesong, yang menyediakan Utara hampir US$100 juta setiap tahunnya.

Seoul juga berbicara dengan luar AS tentang rencana menginstal Terminal High Altitude Area Defense (THAAD). Namun demikian, tak satu pun dari langkah-langkah ini kemungkinan akan banyak mempengaruhi perilaku Pyongyang.

Meskipun Korea Utara tidak mungkin untuk menyerang karena akan kalah dalam perang skala penuh, Republik Korea tetap nyaman tergantung pada Amerika.

Tetapi komitmen Washington untuk Korea Selatan kemungkinan akan menurun ketika keuangan Amerika memburuk dan banyaknya tantangan di tempat lain. Seoul bisa menemukan dirinya sendiri tidak siap untuk mencegah Utara.

Sebagai tanggapan, pembicaraan tentang menghidupkan kembali opsi nuklir Korsel kini kembali tumbuh. Won Yoo-cheol, pemimpin parlemen dari Partai Saenuri yang berkuasa, mengatakan kepada Majelis Nasional beberapa waktu lalu: “Kita tidak bisa meminjam payung dari tetangga setiap kali hujan. Kita perlu memiliki jas hujan dan memakainya untuk kita sendiri. ”

Won tidak sendirian dalam pandangan ini. Chung Moon-jong, anggota Majelis Nasional, dan juga calon presiden, dan pendiri Asan Institute menyampaikan hal yang sama bahkan dua tahun lalu.

Dia mengatakan kepada Amerika “Jika Korea Utara masih menolak untuk menyerahkan senjata nuklirnya maka kita harus membuat pilihan utama.”

Artinya, “Jika Korea Utara bersikeras memiliki nuklir maka mereka harus tahu bahwa kita akan memiliki pilihan pergi nuklir. “Dia menyarankan bahwa Selatan menarik diri dari Perjanjian Nonproliferasi nuklir atau Nuclear Nonproliferation Treaty (NPT) dan mengambil langkah langkah demi kemajuan nuklir dan baru berhenti jika Korea Utara juga berhenti. ”

Publik tampaknya cenderung untuk mengikuti saran tersebut. Kepercayaan orang Korea terhadap kesediaan Amerika menggunakan senjata nuklir dalam membela Korea Selatan telah menurun, sedangkan dukungan untuk program nuklir Korea Selatan mengalami kenaikan hingga 66 persen pada tahun 2013. Hampir sepertiga orang “sangat mendukung” opsi tersebut.

Sementara pemerintah Korea Selatan tetap berkomitmen untuk ikut NPT, Seoul telah melakukan percobaan nuklir dan menolak pengawasan oleh Badan Energi Atom Internasional. Seperti Jepang, Korea Selatan bisa mengembangkan senjata cepat jika memilih untuk melakukannya. Bahkan  mungkin dalam hitungan bulan.

Next: Amerika Terjebak dalam Keruwetan
Facebook Comments