Gunakan Senjata Tua, US Army Kini Bisa Tenggelamkan Kapal

Army Tactical Missile System

Pada masa lalu Amerika bisa dengan mudah membangun  supremasi udara dan luatnya. Tetapi saat ini beberapa kalangan militer mulai menilai bahwa ada kekuatan negara lain yang terus berkembang dan mengancam dominasi Washington. Negara tersebut adalah China.

China  terus membangun pertahanannya melawan amerika Serikat.  Untuk tujuan ini, Beijing telah membangun beragam sistem senjata yang berbeda yang dirancang untuk secara efektif melawan kelompok tempur kapal induk Amerika. Senjata ini termasuk rudal berbasis darat, pesawat tempur generasi baru, dan armada kapal selam yang semakin kuat.

Senjata ini dirancang terutama untuk pertahanan karena hampir tidak  mungkin China akan menyerang Amerika. Tetapi kekhawatiran ada bentrok kedua negara terbuka setelah China terus memperkuat klaim di Laut China Selatan sementara Amerika Serikat menentangnya.

Meskipun mereka agak lamban, sekarang tampaknya militer Amerika Serikat mulai merespons keadaan ini. Tapi alih-alih melalui proses panjang yang mahal untuk menugaskan senjata baru, mereka telah mengambil pendekatan baru dengan mendesain ulang senjata tua.

Kembali pada 2016, Pentagon mengumumkan bahwa Sistem Rudal Taktis Angkatan Darat atau Army Tactical Missile System  (ATACMS) akan ditingkatkan. Ini adalah sebuah rudal yang biasanya ditembak dari sebuah truk dengan target darat, namun setelah diupgrade akan diarahkan ke laut, dan diberi sebuah sistem panduan baru, yang memungkinkannya untuk melacak dan mencapai target yang bergerak pada kisaran hingga 186 mil.

Tentu ini langkah yang cukup menarik.  Biasanya Pentagon selalu ngotot dengan membangun senjata baru ketika ancaman datang dan menghabiskan ratusan juta dolar. Dan sebagian program mahal justru tidak menunjukkan hasil maksimal.

Re-purposing rudal juga masuk akal dari sudut pandang taktis. Sistem rudal telah digunakan secara luas di Irak dan Afghanistan, dan memiliki catatan sukses  di sana. Hal ini terutama dibuktikan karena kemampuannya untuk mencapai target yang bergerak tepat di depan jangkauan operasionalnya, sebuah fakta yang seharusnya tidak mengejutkan mengingat bahwa kisaran ini telah dikurangi secara artifisial agar sesuai dengan Intermediate Range Nuclear Forces Treaty.

Senjata “baru” itu menandai adanya pergeseran penekanan pada Angkatan Laut Amerika Serikat dalam perang laut. Pertahanan anti-kapal semacam ini belum pernah dipikirkan sejak tahun 1960an. Meski  pertahanan pesisir  memainkan peran luas di Perang Dunia II, perkembangan pesawat terbang dan artileri berbasis kapal yang dengan cepat meningkat menjadikan senjata tersebut menjadi usang tak lama setelah perang.

Sementara  selama Perang Dingin musuhnya adalah Rusia dan peperangan laut pun terlupakan.  Selama bertahun-tahun, Amerika pada dasarnya tidak tertandingi di laut, tapi ini adalah situasi yang telah berubah belakangan ini. Seiring perkembangan China, ia telah menghabiskan sejumlah besar uang untuk Angkatan Lautnya, dan sekarang memiliki kekuatan rudal balistik konvensional terbesar di dunia. China juga telah mengembangkan dua jenis rudal yang dirancang khusus untuk menenggelamkan kapal perang Angkatan Laut Amerika dan pada tahun 2020 akan memiliki angkatan laut biru air terbesar kedua di dunia.

Penumpukan ini telah menyebabkan beberapa orang di militer AS khawatir bahwa mereka tertinggal. Saat ini, senjata anti-kapal utama yang digunakan oleh Amerika adalah rudal Harpoon, yang dikembangkan beberapa dekade yang lalu dan pasti menunjukkan umurnya.

Rudal ini beroperasi dengan terbang rendah di permukaan laut, dan perkembangan terbaru dalam teknologi radar menjadikan Harpoon semakin mudah dideteksi lawan.

Sebaliknya, sistem persenjataan baru itu bersifat balistik. Senjata akan naik ke ketinggian yang sangat tinggi  dan kemudian turun ke sasaran. Hal ini membuat lebih sulit untuk dideteksi, seperti halnya kecepatannya. Saat on-target, bisa mencapai kecepatan hingga 3 Mach.

Menembakkan rudal anti-kapal dari sebuah truk mungkin terdengar sedikit aneh, namun membunuh kapal dengan cara ini memiliki keuntungan besar. Pertama, tentu saja, truk jauh lebih sulit dideteksi daripada kapal perang besar. Truk dapat disembunyikan, dan dipindahkan setelah setiap tembakan, sehingga pada dasarnya tidak terdeteksi ke kapal musuh.

Selain itu, tidak ada masalah pasokan senjata. Sebuah kapal harus membawa semua rudal yang dibutuhkannya, dan hanya bisa mendapatkan lebih banyak dengan berlabuh di pelabuhan dan membuatnya rentan. Truk, tentu saja, dapat dengan mudah mengambil lebih banyak rudal kapanpun mereka membutuhkannya.

Dan pengalihan ATACMS ini tampaknya merupakan awal dari langkah menuju persenjataan anti-kapal mobile. Sebuah laporan RAND dari tahun 2013 menyimpulkan bahwa sistem rudal berbasis darat merupakan jalan dalam membatasi kemampuan China untuk memproyeksikan kekuatan laut terhadap Amerika.

Baca juga:

Sadar Tak Mampu Imbangi  Rudal Rusia, Ini Yang akan Dilakukan US Army

Facebook Comments