Fitter Jelas Bukan Lawan Tanding Super Hornet

Jika F/A-18E Super Hornet mampu menembak jet tempur bomber Su-22 itu bukan hal yang aneh. Keduanya adalah pesawat dengan kemampuan yang terpaut jauh dengan misi yang berbeda.

F/A-18E Super Hornet merupakan generasi paling mutakhir dari keluarga Hornet. Pesawat yang dibangun Boeing ini didedikasikan untuk beroperasi dari kapal induk Angkatan Laut Amerika Serikat.

Pesawat memiliki kemampuan serangan darat tetapi juga membawa kemampuan pertempuran udara yang cukup mumpuni. Wajar, karena Hornet dibangun untuk menggantikan F-14 Tomcat, pesawat superioritas udara yang beroperasi dari kapal induk.

Meski kemampuan dalam pertempuran udara tidak mampu mengimbangi Tomcat, Super Hornet yang modern tetap sangat menakutkan dalam misi dogfighting.

Sementara Su-22 dibangun dengan tujuan yang berbeda. Pesawat ini dirancang sebagai pesawat dengan kecepatan tinggi, jarak menengah, untuk misi serangan darat. Pesawat ini sejak awal dirancang untuk memiliki kemampuan pertempuran udara ke udara yang terbatas.

Pesawat dikembangkan dari Su-27 pada tahun 1950an, desain terus dikembangkan hingga memunuclkan sayap menyapu Su-17 / 22. Pesawat ini menjadi  pembom tempur  paling modern dan kuat Pakta Warsawa yang oleh NATO disebut sebagai “Fitter”.

Desainnya menunjukkan  dua ciri utama yang identik dengan peralatan militer Rusia yakni perpaduan antara kesederhanaan dan kekokohan, baik dalam konstruksi fisik pesawat maupun operasinya.

Tujuannya adalah untuk memiliki kemampuan dalam melakukan serangan di medan sulit dengan kemudahan perawatan. Baik badan pesawat dan mesin Lyulka AL-21 F-3  memenuhi tantangan ini.

Su-22M-4 adalah versi ekspor terakhir dari jenis ini dan merupakan puncak dalam evolusi desain. Pesawat ini masih banyak digunakan di Eropa dan Timur Tengah, yang secara luas kompatibel dengan Tornado GR1 meskipun tidak memiliki kemampuan misi dalam cuaca buruk yang lama.

Seperti Tornado pesawat dilengkapi dengan laser range finder designator dan terrain following radar  dan bisa dilengkapi dengan bom, peluru kendali dan roket di samping kanon kembar 30mm yang terpasang untuk peran serangan udara ke permukaan.

Untuk melawan ancaman udara ke udara pesawat mengandalkan peluru kendali dan kanon di samping sistem ECM dan sekam.  Tetapi sekali lagi pesawat ini tidak memiliki kemampuan tempur udara tinggi, karena sejak awal memang tidak dibangun untuk misi tersebut.

Pesawat satu kursi ini memiliki kecepatan maksimum  1,380 mil per jam dengan rentang terbang 675 km. Pesawat miliki panjang  13,80 m, berat kosong 95.00kg dan berat lepas landas 19.500 kg. Pesawat menggunakan satu mesin turbojet Lyul’ka AL-21F-3 afterburner berkekuatan 11250 kg.

Untuk persenjataan pesawat membawa dua meriiam 30 mm NR-30 dengan 80 putaran per senjata. Memiliki cantelan untuk 4250 kg senjata, termasuk senjata nuklir taktis, AAM, ASM, bom  dipandu, bom, bom curah, , tangki napalm, roket kaliber besar, peluncur roket.  Pod meriam, tangki drop dan pod ECM, yang dibawa dibawa pada sembilan cantelan eksternal

Pesawat ini dioperasikan oleh beberapa negara antara lain Aljazair, Angola, Bulgaria, Republik Ceko, Iran, Slowakia, Libya, Peru, Polandia, Rusia,  Yaman dan Suriah.

Lalu bagaimana dengan F/A-18 Super Hornet, mari kita lihat…

NEXT: SUPER HORNET, PUNCAK GENERASI KEEMPAT
Facebook Comments