Drone yang bulan lalu mempermalukan sistem pertahanan udara Israel dengan menerobos wilayah udara Israel dan gagal diintersep ternyata milik Rusia. Semula pesawat tanpa awak itu diduga milik kelompok Hizbullah Libanon.
Laporan surat kabar Haaretz Minggu 8 Agustus 2016 mengungkapkan drone Rusia memasuki wilayah udara Israel dari arah Suriah pada 17 Juli 2016.
Dugaan awal bahwa drone itu milik Hizbullah Libanon diungkap Layanan Keamanan Israel. Bahkan Israel sempat meminta Hizbullah bertanggung jawab.
Kini para pejabat Rusia kini mengaku kepada para pejabat Israel perihal fakta adanya drone Moskow yang menerobos wilayah udara Israel. Para pejabat Rusia mengklaim insiden itu sebagai hasil dari “human error” ketika militer Rusia sedang menguji kemampuan pertahanan udara Israel.
Pesawat Rusia menyeberang ke wilayah udara Israel sejatinya bukan yang pertama kali. Namun, tindakan balasan atas pelanggaran dengan penembakan oleh IDF baru pertama kali terjadi.
Unit pertahanan udara Israel menembakkan dua rudal Patriot untuk menjatuhkan drone itu, keduanya gagal. Sebuah rudal yang dilesatkan dari jet tempur Israel juga tidak mampu menjatuhkannya hingga kemudian drone meninggalkan wilayah udara Israel dengan selamat.
Sementara itu, seorang pejabat militer Israel kepada Channel2 juga mengakui bahwa drone misterius yang semula diduga milik Hizbullah, memang milik militer Rusia. Pejabat yang menolak diidentifikasi itu, mengatakan bahwa manuver drone tersebut sempat memicu alarm serangan udara di Israel utara.

