
Khalij Fars, rudal balistik anti kapal atau anti-ship ballistic missile (AShBM) milik Iran dinilai bisa menggeser keseimbangan militer di kawasan Teluk. Senjata ini sedang sedang dikirim ke unit operasional. Hal tersebut diungkapkan Departemen Pertahanan AS dalam laporan tahunan kepada Kongres terhadpa kemampuan militer Republik Islam Iran.
“Teheran diam-diam mengembangkan sistem senjata simetris dan asimetris yang canggih dan mematikan, termasuk dalam kekuatan angkatan laut, kapal selam kecil tapi canggih, sistem rudal jelajah, kapal serang, dan rudal balistik anti kapal,” kata Pentagon dalam laporan tersebut.
Ini adalah pengakuan pertama Amerika terhadap kemajuan teknologi perang Iran. Salah satunya tentang rudal Khalij Fars yang diakui bisa mengubah peta kekuatan di kawasan Teluk. Namun Para pejabat AS menolak memberikan komentar lebih lanjut tentang laporan, yang diserahkan kepada Kongres pada bulan Januari.
Khalij Fars adalah versi dari Fateh-110. Sebuah rudal balistik taktis dengan (EO) pencari elektro-optik yang memungkinkan untuk mencapai target jauh dan presisi tinggi. Media Iran melaporkan bahwa rudal itu memiliki jangkauan 300 km dan hulu ledak 650 kg.
Laksamana James Syring, Direktur Badan Pertahanan Rudal AS, menyebutkan dengan kemampuan jangkauan 300 km, berarti mampu mengancam kegiatan maritim di seluruh Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Khalij Fars akan lebih sulit untuk mencegat daripada konvensional rudal anti-kapal Iran karena kecepatannya lebih tinggi (dikatakan Mach 3) dan lintasan parabola. Rudal pertama kali diperkenalkan pada bulan Februari 2011, ketika Iran merilis rekaman ketika rudal menghantam sebuah kapal bekas yang dijadikan target. Tes kedua diumumkan pada Juli 2012.
Sementara media Iran melaporkan sejak Februari 2011 rudal itu sedang diproduksi massal, tidak sampai 5 Maret 2014 bahwa Departemen Pertahanan mengadakan upacara di mana beberapa Khalij Fars secara resmi dikirim ke militer.
Analis sebelumnya telah skeptis terhadap program AShBM Iran. Sebuah makalah yang diterbitkan oleh Center for Strategic and International Studies (CSIS) mengatakan: “Para ahli merasa Iran memiliki rudal dengan sedikit atau bahkan tidak memiliki kemampuan yang disebut Khalij Fars”
Laporan CSIS mengatakan Iran tidak memiliki cara yang efektif untuk memperoleh dan melacak over-the-horizon target sehingga sistem bimbingan rudal bisa diprogram dan kemudian diperbarui selama penerbangan untuk memastikan seeker yang bisa menemukan target di fase terminal.
Tetapi kini fakta berbicara lain. Pentagon berkata “Iran berpotensi mengubah keseimbangan angkatan laut kawasan Teluk dengan rudal ini”
