For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Marinir AS Dibantu Keledai untuk Temukan Musuh

Ada saja cara Marinir Amerika Serikat untuk menemukan musuh saat perang Afghanistan. Salah satunya dengan melepaskan seekor keledai dari gerobak. Dari hal itu pasukan Marinir berhasil menemukan markas para militan.

Hal itu dikisahkan Wakil Menteri Pertahanan Amerika Serikat, Robert Work. Ketika mengunjungi Pangkalan Militer Guam, Rabu 20 Agustus 2014 dia menceritakan hal ini. Kolonel pensiunan Angkatan Laut ini bercerita sejumlah Marinir sedang melakukan patroli di Afghanistan. Salah satu hal yang harus diwaspadai saat patroli adalah bahan peledak yang ditaruh sebagai jebakan.

Saat itu mereka melihat sekelompok orang. Namun ketika Marinir datang, orang-orang itu lari meninggalkan gerobak.” Marinir turun, dan benar saja, itu dia. Di gerobak ada segala macam bahan bom,” kisahnya.
Seorang sersan yang bertanggungjawab pada patroli itu mengatakan kepada rekan-rekannya untuk melepas kaitan keledai itu dari gerobak, dan memutuskan akan mengikutinya ke mana pun ia pergi.
“Jadi mereka mengikuti keledai dan ia pergi ke sebuah desa, dan di sana, lihatlah, adalah empat orang yang mereka lihat,” kata Karya.
Seorang Letnan heran dan akhirnya bertanya “Bagaimana bisa, strategi ini benar-benar baik,” kata letnan itu. “Apa yang Anda pikirkan sehingga mengikuti keledai ini?”
Sersan, menurut Work, menjawab: “Pak, saya lahir di sebuah peternakan. Aku dibesarkan di sebuah peternakan. Saya sudah mengikuti keledai sepanjang hidup saya.”

Work mengatakan kepada pasukan di Guam bahwa ia berbagi cerita untuk menggambarkan bahwa mereka harus benar-benar berinovasi tanpa henti. “Kau tidak akan pernah meninggalkan teman Anda di belakang dalam kondisi apapun. Tidak pernah, “katanya. “Itulah yang membuat gaya ini begitu istimewa. Kekuatan kita bukan jenderal tetapi tamtama. Anda selalu menjadi tulang punggung dari militer Amerika.” katanya di depan para tamtama.

Sumber: Washington Post

Facebook Comments

Comments are closed.