For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Sinyal Pembalik Zaman Gaber

 “15 Tahun yang lalu saya hampir mati. Tiga bulan dirawat di rumah sakit. Ratusan kantong darah saya habiskan. Menahan sakit luar biasa di sekujur tubuh. Tidak ada yang menduga saya masih bisa hidup,”

Bukan sekali itu saja saya mendengar Sudarli mengucapkan kalimat semacam itu. Dan kata-kata itu kembali dia ucapkan ketika kami sekeluarga berkunjung ke rumahnya Lebaran 2013 lalu. Wajar dia tidak bisa melupakan kejadian mengerikan yang menimpa dirinya itu.

Ya, saya tahu kisah apa itu karena waktu itu saya juga ikut menungguinya di Rumah Sakit Bethesda, Jogja. Kondisinya memang mengkhawatirkan. Hari itu, ketika dia tengah berjalan di ladangnya, seekor ular kobra menyambar kakinya. Gigitan sekilas ular itu langsung menyebarkan racun maut ke aliran darahnya. Darahnya harus terus diganti karena setiap transfusi darah langsung tercemar racun.

”Kalau saya cepat-cepat bisa ke rumah sakit mungkin tidak akan separah itu kondisinya. Tetapi waktu itu untuk mencari kendaraan saja lama sekali. Yang punya kendaraan pergi dan tidak bisa dihubungi. Coba waktu itu handphone sudah ada seperti sekarang ini,” tambahnya.

Peraih Kalpataru 2012 ini tinggal di Dusun Pringsanggar Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Gunungkidul. Berjarak sekitar 35 km dari Wonosari, Ibu Kota Kabupaten. Pada masa itu, untuk bisa melakukan komunikasi via telepon harus menempuh jarak tidak kurang dari 15 kilometer untuk ke warung telekomunikasi (wartel) terdekat.

”Makanya orang-orang macam saya ini sangat merasakan betapa luar biasanya handphone. Karena pernah merasakan susahnya berkomunikasi. Beda dengan anak-anak sekarang yang lahir sudah memegang handphone,” ujarnya lagi.

Saya memang kerap bertemu sosok ini karena masih terhitung famili misan. Dia adalah kakak dari ibu mertua dan waktu istri saya kecil karena ditinggal orangtuanya kerja di Semarang, dia dirawat Pakdhe Darli, demikian kami biasa memanggilnya. Jadi setiap ada kesempatan saya selalu berkunjung ke rumahnya.

Tepus, seperti halnya daerah pesisir selatan Gunungkidul memang menjadi salah satu daerah yang paling terlambat berkembang di banding wilayah lainnya. Bahkan dahulunya daerah ini dikenal dengan kekeringan, kemiskinan, keterbelakangan dan akses yang sangat sulit. Era 1960-an ketika terjadi bencana kelaparan, Tepus menyumbang jumlah korban meninggal terbanyak. Generasi Sudarli pasti ingat apa yang disebut Zaman Gaber. Gaber adalah makanan yang diimpor pemerintah untuk memenuhi makanan orang-orang Gunungkidul. Padahal aslinya Gaber adalah makanan babi.

Hingga era 90an Tepus masih saja menjadi daerah ya tertinggal. Bahkan, pada masa itu ketika orang mencari pembantu atau babu, pesisir Selatan termasuk Tepus menjadi daerah yang dicari.

Daerah ini menjadi paling akhir dalam hal merasakan jalan aspal, listrik dan komunikasi. ”Dulu, kalau sudah di rumah ya sudah tidak akan tahu apa-apa. Kejadian di Wonosari misalnya, ya tahunya dari para penjual yang datang ke tempat ini. Televisi jarang yang punya karena kalau punya televisi pasang antenanya juga harus di atas bukit biar dapat menangkap siaran,” tambah laki-laki berusia 67 tahun itu.

Istri saya yang berusia 36 tahun pun masih ingat betul bagaimana memprihatinkannya kondisi daerah ini waktu itu. Untuk menuju daerah ini dari Wonosari harus melewati jalan yang terjal, menanjak, berkelok dan tentu saja gelap gulita ketika malam. Dia ingat betul suatu malam ketika bersama om-nya ke Tepus dari Wonosari harus berhenti di tengah jalan dengan menggigil ketakutan karena di depannya, tepat di tengah  jalan, ada seekor harimau tengah mengoyak-ngoyak mayat manusia yang masih menggunakan kain kafan. ”Kami harus bersembunyi di balik batu sampai macan itu pergi. Ngeri luar biasa kalau ingat itu,” kata istri saya.

Sebenarnya pada masa Hindia Belanda, Tepus justru punya potensi berkembang cukup besar. Karena jalan Anyer-Panarukan yang dibangun masa Daendeles melewati daerah ini. Sisa-sisa jalan itu juga masih tampak beberapa penggal berupa jalan batu. Namun karena jalur itu tidak lagi digunakan Tepus secara pelan namun pasti tertinggal dengan daerah lain, khususnya Gunungkidul bagian tengah dan utara. Tengah karena berbatasan dengan Jogja, utara bisa berkembang karena berbatasan dengan Jawa Tengah. Belum pasti apakah pembangunan kembali jalan Daendeles menjadi jalur jalan lintas selatan juga akan menghidupkan jalur tua di Tepus ini.

Tetapi tidak dengan sekarang. Tepus, dan pesisir Selatan menjadi daerah dengan perkembangan paling cepat. Ribuan orang saat ini terus berduyun-duyun mendatangi daerah ini. Jangan coba-coba datang ke pesisir Selatan saat liburan, karena kemacetan panjang akan betul-betul terasa. Bahkan ketika Lebaran kemarin saya memaksakan diri hari pertama saya berkunjung ke Tepus, karena jika mundur sehari pasti sudah akan terjebak macet luar biasa.

Gunungkidul memang sedang seksi hingga mengundang perhatian banyak orang. Indrayanti, Siung, Sepanjang, Wedi Ombo, kini menjadi begitu ramai. Sinyal digital seperti membawa gelombang perubahan di pantai-pantai yang semula selalu kesepian itu.

Dan itu terjadi setidaknya dalam 7 tahun terakhir. Sejak teknologi komunikasi begitu marak. Karena kalau misalnya ramainya daerah ini karena akses jalan yang bagus, pengaspalan jalan ke sini sudah dilakukan jauh sebelum itu. Tetapi wisatawan baru luar biasa dalam beberapa waktu terakhir. Kenapa? Karena orang mulai tahu dari internet. Orang-orang motret kemudian menaikkan di facebook dan sebagainya. Itulah yang menjadikan orang tahu tentang Indrayanti, Siung dan sebagainya.

”Bukannya memuja teknologi. Tetapi saya termasuk orang  yang merasakan bagaimana manfaat teknologi ini. Saya merasakan betul bagaimana perubahan dari situasi yang sangat sulit menjadi seperti sekarang ini. Ada dua teknologi yang benar-benar terasa manfaatnya. Pertama listrik, kedua handphone dan internet. Infrastruktur penting tetapi tanpa ada keduanya itu buktinya daerah ini sulit berkembang. Kalau soal ada efek buruk dari teknologi, semua tergantung orangnya,” imbuh Sudarli yang mendapat penghargaan Kalpataru karena upayanya melakukan penanaman bibit pohon di area sekitar Mata Air Mendolo seluas sekitar 75 hektare, terdiri atas pohon-pohon jati, mahoni dan akasia.

Sudarli yang memiliki sebuah rumah di kawasan Pantai Siung ini juga bercerita bagaimana dulu para nelayan setelah pulang dari pantai menjual ikan hasil tangkapannya tanpa daya. Mereka menuruti saja harga yang ditawarkan pembeli. Karena tidak tahu bagaimana kondisi pasar di kota. ”Sekarang? Mana bisa begitu. Pembeli tidak bisa seenaknya mengatur harga karena para nelayan bisa tahu dengan cepat harga ikan terkini. Ini riil dialami para nelayan,” imbuhnya.

Sayangnya, karena daerah yang berbukit-bukit tidak semua operator bisa tembus dengan sinyal bagus di wilayah ini. Secara jujur harus diakui, Telkomsel memiliki sinyal paling tinggi dibanding dengan yang lain.

Akhirnya, perkembangan teknologi memang tidak bisa dihindari, ditolak apalagi dilawan. Justru harus dimanfaatkan. Benar akan selalu ada efek buruk dari sebuah teknologi. Tetapi jangankan teknologi hasil  karya manusia, agama yang merupakan produk Tuhan pun jika salah dalam memaknai dan menerapkan juga akan memunculkan efek buruk. Toh faktanya sinyal telekomunikasi dan informasi telah secara nyata mengubah Tepus yang pernah suram dengan Jaman Gaber menjadi begitu seksi.

Jogja, 26 Agustus 2013

Facebook Comments

Comments are closed.