For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Horn Masjid

Selasa, 16 Juli 2013 malam seperti biasa saya nongkrong di pos ronda. Ini memang jadwal saya mendapat jatah ronda di kampung tempat saya tinggal. Ada sebuah cerita menarik yang saya dapat dari teman-teman satu tim saya yang kebanyakan adalah orang-orang yang lebih tua dengan profesi petani dan buruh.

Sebuah kejadian di kampung sebelah kami. Senin tengah malam, seorang warga yang rumahnya tinggal dekat dengan masjid tiba-tiba mengamuk. Horn masjid diturunkan dan dirusak. Padahal pengeras suara itu tengah digunakan untuk tadarus Alquran.

Tentu saja seluruh warga kampung geger. Orang tersebut diumpat-umpat dan dianggap melecehkan agama. Bahkan mereka sepakat untuk mengusir warga yang merusak properti masjid itu. Untung, aparat desa bisa mengendalikan massa dan akhirnya masalah bisa diselesaikan. Perusak tadi hanya dihukum mengganti horn yang rusak serta berjanji tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.

Kenapa orang itu bisa begitu nekat? Jawabannya karena dia benar-benar sudah terganggu dengan suara nyaring horn masjid. Saat dia (dan tentu orang lain) ingin istirahat setelah lelah bekerja seharian, suara nyaring khas horn masjid tak berhenti.

Benar, yang dilantunkan adalah ayat Alquran. Tetapi dengan karakter suara horn yang tidak ada bass-nya sama sekali memang sangat memekakkan telinga. Terlebih ketika bulan Ramadan, mungkin suara horn hanya istirahat sebentar. Setelah tadarus malam, jam 02.00 WIB orang sudah berteriak kencang-kencang untuk membangunkan sahur.

Ini persoalan pelik sebenarnya. Dan saya pun pernah mengalaminya. Ketika pindah di kampung yang kami tinggali sekarang ini, rumah saya tepat berada di depan musala. Hanya dibatasi oleh jalan raya. Saya merasakan betul bagaimana pekak-nya ketika mendengar suara azan, atau orang shalawatan. Terlebih horn itu tepat mengarah ke rumah kami.

Mahrib yang seharusnya bisa dinikmati dengan tenang sering kali menjadi sangat ribut. Apalagi anak-anak saya masih kecil sehingga kerap rewel jika suasana tidak nyaman.

Saya bingung mau bersikap bagaimana. Jika saya minta agar suara dipelankan tentu saya akan dicap sebagai antiagama. Atau setidaknya antisholawatan. Apalagi saya dikenal sebagai orang Muhammadiyah. Dan kampung itu kebanyakan adalah orang NU. Dua kelompok yang punya pandangan berbeda soal sholawatan setelah azan di masjid.

Saya hanya bisa pasrah. Sampai suatu ketika tetangga yang rumahnya tepat di samping rumah kami melahirkan anak. Dan hanya seminggu kemudian, tetangga saya itu pada malam hari diam-diam memutar arah horn agar tidak mengarah ke rumah kami. Rupanya, dia pun merasakan hal yang sama. Akhirnya….

”Seharusnya mendengarkan azan atau sholawat itu bisa membuat hati tenteram. Tetapi kalau suaranya pekak seperti ini malah bikin emosi,” ucap tetangga saya. Dan akhirnya saya pun curhat dengan situasi yang sudah saya alami sebelumnya.

Sepele tetapi pelik. Jika mau jujur, orang yang dekat dengan masjid kerap terganggu dengan suara-suara pekak dari horn. Kadang sampai gendang telinga sakit karena tingginya frekuensi suara yang keluar dari alat tersebut. Tetapi jika mau mengeluh, lagi-lagi harus berhadapan dengan cap anti agama. Padahal persoalannya tidak di situ. Sama sekali tidak.

Ketika saya kecil, tidak semua masjid punya horn. Dan jarak masjid juga masih cukup jauh. Maka alat itu menjadi efektif digunakan karena daya jangkaunya yang jauh. Tetapi sekarang? Dari rumah kami saja, setiap azan akan terdengar lebih dari empat horn dari berbagai masjid berkumandang bersama-sama. Dan nada suaranya sama. Tinggi dan pekak.

Kenapa tidak dipikirkan untuk mengganti teknologi pengeras suara di masjid. Apa benar horn masih pas? Kenapa tidak mencoba alat yang bisa menghasilan suara yang lebih lembut dan frekuensi rendah? Pasti azan, sholawat atau alunan ayat Alquran juga akan lebih lembut terdengar di telinga hingga bisa menenteramkan hati.

Saya hanya mempersoalkan soal horn. Bukan azan atau shalawatan. Mungkin hal sepele ini harus dipikirkan bersama.

Facebook Comments