Perbatasan

Waktu baru saja melintasi perbatasan. Semakin tua saja dia. Tapi tetap saja dia sangat merdeka. Sedemikian merdekanya sampai-sampai terlihat begitu angkuh. Tak punya sedikitpun kepedulian.

Ini hari ketiga secara berturut-turut aku menyaksikan dia melintasi perbatasan setelah puluhan tahun aku tak sempat melakukannya. Dulu, ketika aku kecil, menyaksikan dia berarak selalu aku lakukan. Aku sering melakukannya di bawah pohon beringin besar yang di bawahnya ada mata air sekitar 100 meter dari rumahku.

Ibuku selalu khawatir dengan kesenanganku duduk di bawah pohon beringin itu. Mungkin dia cemas anaknya yang paling kecil itu kesambet Mbah Bisu, jin yang dipercaya kampungku sebagai penunggu pohon beringin. Mbah Bisu katanya jin yang jail tapi tidak bisa bicara alias bisu. Sehingga kalau dirasuki jin ini, orang juga jadi gagu bahkan tidak bisa bertutur kata sampai Mbah Bisu keluar dari tubuhnya.

“Jangan suka duduk di situ, saat waktu melintasi perbatasan jin, setan dan iblis bersuka ria dan keluar dari sarangnya,” kalimat halus tapi bernada ancaman itu seringkali diucapkan ibuku.

Tapi aku tetap saja duduk untuk menunggu waktu itu. Tapi tak terhitung berapa kali aku duduk di bawah pohon itu tak pernah sekalipun aku merasa bisu. Padahal aku juga sering berbuat jail di tempat itu dengan memakan sesaji orang kampung untuk persembahan pada jin tersebut. Tetap saja Mbah Bisu tidak marah padaku.

Aku tidak tahu kenapa aku suka menunggunya di tempat itu. Mungkin karena dari bawah pohon beringin itu aku bisa melihat jubahnya yang sangat besar. Hanya ada satu yang bisa menutupi jubah itu, yakni hujan. Dan aku selalu marah jika hujan turun saat waktu harus melintasi perbatasan. Pada saat itulah aku berlari ke rumah dengan perasaan takut. Aku jadi kesepian.

Tiga hari, setelah puluhan tahun, aku bisa melihat lagi perbatasan ini. Hanya saja tidak lagi di bawah pohon beringin. Pohon beringin tinggal cerita lagi karena sudah mati. Mata airnya pun juga sudah hilang. Pohon elo-nya pun tak ada lagi. Yang ada tinggal seonggok benteng tak berguna yang dulu digunakan untuk menampung air yang keluar dari bawah beringin. Setiap aku datangi tempat itu lagi aku selalu berpikir apa dengan kondisi yang seperti ini Mbah Bisu masih juga ada.

“Mbah Bisu sudah pulang ke Gunung Merapi. Hanya sekali-kali saja dia datang menengok rumahnya,” jawab Mbah Pawiro, orang paling tua di kampungku ketika suatu hari aku menanyakan hal itu kepadanya.

Aku hanya manggut-manggut tanpa komentar. Ternyata Mbah Bisu diyakini sebagai prajurit Sapu Jagat, penguasa Merapi. Tiga hari ini aku menunggu waktu melintasi perbatasan di sebuah menara batu. Jauh dari tempat pohon beringin. Sangat jauh bahkan. Dan yang pasti di sini tidak ada legenda Mbah Bisu.

Tetapi sebenarnya aku justru merasakan banyak iblis di menara ini. Bahkan secara nyata orang-orang juga kesambet. Hanya karena iblisnya sedemikian hebat orang tak merasa kesambet. Atau mungkin kesambet sudah jadi hal yang biasa sekarang ini. Tidak, tidak. Bukan karena kesurupan menjadi hal yang biasa, tetapi kesurupan zaman sekarang adalah kenikmatan.

Berbeda dengan masa lalu, orang kesurupan biasanya teriak-teriak, kejang, mata melotot dan jika sudah sembuh badannya terasa sakit semua. Kesurupan sekarang justru menjadikan orang tersenyum riang, tertawa terbahak-bahak, dan kemudian tidur dengan lelap. Iblis-iblis itu yang aku berhasil kalahkan dalam tiga hari terakhir hingga aku bisa menikmati perbatasan ini. Artinya, aku juga baru tersadar dari kerasukan jin.

Dan seperti dulu, tiga hari inipun sama. Saat melintasi perbatasan waktu berlalu begitu saja dengandiam. Tak pernah sekalipun dia bicara. Terlebih berhenti. Dia benar-benar tetap merdeka. Bedanya, selama tiga hari aku belum menemukan bentuk yang jelas saat dia melintas. Tidak seperti dulu, aku bisa melihat dia dalam bentuk jelas dan berubah-ubah.

Beberapa kali aku melihatnya seperti prajurit yang gagah sedang berbaris ke medan perang. Bagian depan membawa meriam besar berwarna hitam, sedangkan di belakangnya ribuan serdadu berbaris dengan berjajar tida ke belakang. Namun beberapa kali juga dia terlihat sebagai prajurit yang tercerai berai karena kalah perang. Giliran meriam yang ada di belakang berjalan terseok-seok. Sesekali dia tampak seperti gadis yang anggun dan sopan.

Tetapi beberapa hari kemudian dia seperti wanita berbaju seronok. Setelah aku besar, ketika melihat pelacur jalanan aku ingat sosok itu mirip dengan wujud yang ditunjukkan sang waktu. Bermacam-macam bentuk yang terlihat. Kadang terlihat beribawa, angkuh, sombong, lembut, tapi juga pernah terlihat sebagai sosok pengecut yang ketakutan.

Yang paling aku benci ketika dia terlihat seperti segerombolan burung gagak. Titik-titik hitam yang sangat banyak melintas perbatasan sehingga yang terlihat hanya gelap. Gagak adalah burung bangkai. Itu sebabnya dulu kalau muncul burung gagak orang-orang kampungku khawatir akan ada orang mati. Karena gagak sudah mencium bangkainya. Itu yang menjadikan aku tidak suka ketika saat melintasi perbatasan waktu seperti sekelompok burung gagak.

Seperti banyak sekali kematian yang dia bawa pergi. Tapi tiga hari ini tidak ada wujud yang jelas. Hari pertama aku hanya merasakan dingin. Ada sedikit kabut yang melayang dan setitik api kecil. Tapi api itu hanya terlihat sebentar saja sebelum kemudian kabut berubah menjadi hitam. Pada hari kedua, saat melintas perbatasan, waktu justru hanya berbentuk garis lurus saja. Dia terlihat sangat tergesa-gesa. Tidak sempat sama sekali dia meninggalkan bekas.

Jangankan jubah yang dulu berkibar-kibar, setitik api pun tidak ada. Dan tadi, aku hampir tidak sadar waktu telah sampai di perlintasan. Aku seperti kehilangan momentum untuk sesuatu yang aku tunggu-tunggu. Aku hanya sempat melihat sekilas wajahnya yang semakin tua. Tapi belum lagi aku lebih jelas melihat, dia sudah melesat dan menghilang. Aku tidak kecewa. Itu tidak ada gunanya.

Tetapi aku tetap berpikir ada apa dengan waktu? Kenapa tidak seperti dulu? Jangan-jangan dia merasa kesepian? Jangan-jangan dia merasa tidak lagi penting? Atau mungkin dia berpikir orang tidak lagi menghiraukan saat dia melintasi perbatasan sehingga tak perlu dia bergaya dengan wujud-wujudnya yang jelas. Ah, sedemikian banyak pertanyaan dan harus aku mencari sendiri jawabannya. Mana aku sanggup?

Sementara yang punya jawaban tak mau bicara sedikitpun. Seharusnya waktu sedikit menanggalkan kesombongannya untuk memberi penjelasan kenapa dia bertingkah seperti itu. Aku jadi ingat, di kampungku dulu, saat waktu hendak melintas perbatasan, orang-orang melakukan penyambutan. Mbah Muskam bergegas memasukkan sapinya ke kandang, Pakde Sastro dan istrinya memastikan ayam-ayamnya sudah lengkap di kandang. Ibuku memastikan anak-anaknya sudah mandi dan semua pekerjaan sudah selesai. Sedangkan bapak segera menyalakan lampu minyak.

Pada titik ini semua mengakhiri sesuatu dan bersiap melakukan sesuatu yang lain. Bahkan para jin, setan dan iblis pun menggunakan saat ini untuk keluar dari rumahnya dan bersuka ria. Mungkin karena itu waktu merasa perlu berdandan saat hendak melintas agar orang, jin dan setan tahu dia lewat.

Tiba-tiba aku merasa panik. Aku belum mandi. Tidak ada yang aku akhiri dan aku awali di titik ini. Dari tadi aku berpeluh dan masih akan berkeringat. Ini bukan ritual di perbatasan. Pintu-pintu menara batu ini juga masih terbuka lebar. Orang-orang aku belum berhenti berlarian ke sana kemari. Beberapa kali aku mendengar orang justru mencaci maki dengan sumpah serapah kepada waktu. Sungguh ini bukan ritual saat waktu melintasi perbatasan.

“Atau tak ada lagi apa yang disebut perbatasan? sehingga tak perlu ritual macam-macam. Atau perbatasan hanya menjadi sebuah ritual milik sang waktu saja?” masih saja aku mencoba mencari jawaban.

Dan aku semakin panik ketika tiba-tiba aku merasa tidak bisa bersuara. Saraf otakku memerintahkan aku untuk berteriak, memaki sekeras-kerasnya. Tapi aku tak mampu melakukannya. Hingga aku kemudian sadar, Mbah Bisu tengah merasuk ke dalam tubuhku

Facebook Comments

error: Content is protected !!