Berita bukan solusi!!!!

“Rasanya males liputan. Karena aku pikir-pikir mencari berita tidak menjadi solusi persoalan ekonomi. Berita bukan solusi.”

Ucapan seorang teman wartawan pada suatu pagi di bulan puasa 2007 di ruang Forum Wartawan Kampus Gadjah Mada (Fortakgama) membuat saya dan sejumlah wartawan lain terpingkal-pingkal.

Tidak terima ditertawakan, teman saya tersebut langsung melanjutkan kalimatnya dengan nada tinggi. “Kok malah cengengesan. Sekarang coba dipikir, kerja keras di lapangan setiap hari mencari berita, ternyata gaji yang diterima tidak bisa mencukupi hidup. Bahkan untuk kebutuhan sendiri saja tidak cukup. Untung saja istri juga kerja jadi pertahanan keluarga bisa tetap berdiri,” Kali ini wartawan yang lain tidak lagi cengengesan meski masih ada juga yang senyum-senyum kecil.

“Keluhan basi,” kata saya singkat.

“Ya basi memang basi, tetapi apa iya sampai tua akan terus-terusan seperti ini. Kita jurnalis bung. Jurnalis!!!. Kalau jurnalis tidak bisa hidup dari berita yang dia cari terus suruh hidup pakai apa?” tegasnya.

Jujur saja, kalimat terakhir ini yang membuat saya terdiam. Benar juga, kalau wartawan tidak bisa hidup layak dari berita yang dia cari terus suruh hidup pakai apa?

“Kalimat berita bukan solusi itu tadi adalah hasil terbaik dari puasa kamu sampai saat ini,” goda saya

“Prex,” sautnya singkat.

Tulisan ini saya tulis sekitar seminggu setelah kejadian kecil di ruang Fortagama itu. Kalimat Kalau jurnalis tidak bisa hidup dari berita yang dia cari terus suruh hidup pakai apa? telah mengganggu saya. Harus hidup dengan cara apa? Apa yang bisa dilakukan wartawan jika gajinya di bawah Rp1 juta. Bahkan tidak sedikit yang di bawah Rp750 ribu. Dengan uang sebanyak itu so what gitu loch? buat beli bensin, rokok, pulsa saja sudah ludes. Kerja wartawan itu ya mencari berita. Jadi salahkah jika dia berharap berita-berita itu bisa menjadi solusi ekonominya?

Berhari-hari saya berpikir mencari jawaban atas pertanyaan itu. Dan sampai tulisan ini saya buat, tidak ada satupun solusi yang ketemu. Atau jangan-jangan wartawan Indonesia memang disuruh Mbodrex saja? atau wartawan memang tidak boleh kecukupan dalam hal ekonomi?

Beberapa hari sebelum kejadian itu saya berbincang-bincang dengan seorang wartawan senior. Benar-benar senior dan cukup punya nama di tingkat nasional. Mengeluh dia, karena disuruh istrinya beli beras tetapi tidak punya uang. “Mau minta uang sama istri gak enak,” katanya.

‘Untunglah’……………. pada hari itu ada acara yang memberikan amplop pada wartawan. Tidak pikir panjang diambil saja sama teman saya tersebut.

“Persetan orang mau bilang apa. Kenyataannya aku butuh uang untuk beli beras,” katanya.Saya hanya tersenyum kecut sambil geleng-geleng kepala. Beli beras saja kok benar-benar tidak mampu. Apa ini wajar? Kalau sudah begini apa ya tega menuduh wartawan tersebut melanggar etika jurnalistik dengan menerima amplop?

Dan beberapa jam sebelum saya menulis ini, seorang teman di Jakarta mengirim SMS ke saya. Dia menawari saya untuk memberi pelatihan jurnalistik kepada mahasiswa Magister Rumah Sakit UGM tentang kiat menghadapi wartawan. Tawaran teman sewaktu kuliah ini langsung saya sanggupi karena saya anggap ini sebagai sebuah rezeki.

Tetapi setelah tulisan ini saya buat, saya langsung tercengang. Bingung, apa yang harus saya sampaikan nanti karena saya harus memberi materi kiat berhubungan dengan pers termasuk dalam hal amplop. Saya tidak tahu apa yang harus saya sampaikan nanti. Apakah tega saya akan mengatakan “Jangan memberi amplop pada wartawan?” sementara jika saya mengatakan sebaliknya maka bisa-bisa saya disebut melakukan Pelacuran Jurnalistik.

Saya benar-benar bingung harus bagaimana….

entah…

gak tahu…

gak mudeng….

mbuh ra weruh…..

MODARO WAE!!!!!!!!!!!!!

September 2007

Facebook Comments

error: Content is protected !!