Belajar dari Bencana

*) Sebuah catatan pribadi tentang pengalaman meliput bencana

Gempa 27 Mei 2006 yang berpusat di daerah Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi satu pekerjaan besar bagi kalangan wartawan. Berbulan-bulan jurnalis nyaris tanpa libur untuk melakukan peliputan berkaitan dengan kejadian itu. Melelahkan, tetapi banyak hal yang didapat oleh jurnalis. Bukan saja pengalaman jurnalistik, tapi dari kejadian itu jurnalis bisa melihat dengan mata telanjang tentang penderitaan, nilai-nilai kemanusiaan, ketulusan hingga kemunafikan.

Mohon maaf sebelumnya jika tulisan ini terkesan menjadi kesombongan seorang wartawan karena ada beberapa bagian yang mengunggul-unggulkan profesi ini. Saya hanya mencoba menulis apa yang saya rasakan.

Ketika gempa terjadi sekitar pukul 06.00 WIB, sesungguhnya para jurnalis di Yogyakarta sudah dalam kondisi kelelahan. Hampir dua bulan sebelumnya, konsentrasi wartawan sudah disedot oleh aktivitas Merapi yang meningkat. Selama dua bulan aktivitas Merapi wartawan dibuat sangat sibuk. Hampir tiap hari wartawan naik turun gunung untuk memantau perkembangan gunung dan masyarakat sekitar. Bahkan tidak sedikit dari mereka tidur di lereng Merapi untuk mendapatkan gambar yang paling bagus. Apalagi sejak 14 Mei 2006, status Merapi dinaikkan menjadi Awas, status terakhir Merapi sebelum erupsi. Kesibukan wartawan semakin bertambah.

Namun tanpa diduga sama sekali, ledakan bencana justru tidak berasal dari Utara Yogyakarta, namun justru dari arah Selatan. Gempa berkekuatan 5,9 SR menggunjang DIY dan sekitarnya. Gempa yang berpusat di tempuran Oya-Opak ini menjadi kerja besar yang sama sekali tidak diduga semua orang.

Waktu itu kantor menunjuk saya untuk berada di posisi paling selatan, artinya berada langsung di jantung lokasi bencana dengan dibantu teman dari Solo yang digeser ke Bantul. Dua teman yang lain ditugasi untuk memantau distribusi bantuan, rumah sakit dan aktivitas pemerintahan. Sementara untuk Klaten, teman dari Purwokerto digeser ke sana bergabung dengan satu teman yang memang wilayah liputannya di daerah tersebut. Sempat juga diturunkan tiga orang dari kantor pusat, namun saya sendiri tidak pernah bertemu, dan baru tiga hari mereka sudah kembali ditarik ke kantor dengan alasan yang saya tidak tahu.

Saya sendiri terlambat sampai ke jantung bencana karena anak saya sempat hilang dua jam dibawa mengungsi tetangga hingga Muntilan, Magelang saat ada isu tsunami. Sehingga ketika masuk ke Bantul, kepanikan sudah agak berkurang. Tetapi hampir semua jurnalis waktu itu terlambat, kecuali mereka yang benar-benar di posisi Bantul. Itupun banyak wartawan yang berada di Bantul tidak bisa liputan karena juga menjadi korban. Selain sebagian besar wartawan harus mengurus keluarganya sendiri, keterlambatan ini dikarenakan sebagian wartawan, terutama fotografer masih berada di lereng Merapi. Bahkan waktu itu ada beberapa wartawan kecele, ketika gempa terjadi mereka langsung lari mendekat ke Merapi karena mengira gempa yang terjadi akibat aktivitas Merapi. Hal ini yang menjadikan banyak wartawan yang sedikit terlambat datang ke lokasi.

Satu tempat yang saya datangi pertama kali adalah Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Bantul. Dan siapapun akan tidak bisa berkata apa-apa ketika melihat ribuan orang tergeletak dengan berlumur darah di sepanjang jalan depan RS tersebut. Mereka bergeletakan begitu saja di jalan tanpa tahu kapan akan mendapat pertolongan pertama dari tim medis. Saya sempat bertemu mata dengan seorang wanita tua yang seluruh rambutnya sudah putih tergeletak di tepi jalan sisi timur. Mungkin dia berpikir saya petugas kesehatan karena melihat kondisi saya yang segar bugar tanpa luka sedikitpun. Dari tatapan matanya tampak dia berharap saya mendekat dan memberikan pertolongan medis. Saya sendiri tidak bisa berbuat apa-apa. Bahkan sebotol air putih pun saya tidak bawa karena tergesa-gesa. Paling tidak kalau bawa sebotol air putih bisa saya berikan kepadanya untuk sedikit membantu. karena saya yakin dia juga kehausan.

Sekitar 30 menit saya di lokasi tersebut saya tidak bisa melakukan apapun. Apalagi menolong, untuk melaksanakan tugas jurnalistik pun nyaris tidak bisa. Jelas tidak mungkin saya melakukan wawancara dengan orang-orang yang sedang sibuk dengan rasa kesakitan dan kebingungan tersebut.

Akhirnya, saya putuskan untuk meninggalkan RS untuk pergi ke kampung-kampung guna memantau situasi. Saya kemudian keluar masuk ke berbagai kampung yang kondisinya sudah porak poranda. Saya sempat merinding ketika masuk ke dusun Puton. Saat masuk ke kampung itu situasinya sangat lengang. Nyaris tidak ada orang yang bisa ditemui. Mata saya menangkap lima sosok orang tergeletak di pos ronda. Saya semula berfikir mereka adalah warga yang kelelahan dan tertidur di pos tersebut. Saya bergerak mendatangi mereka, tetapi saya tiba-tiba tertegun, karena melihat lima sosok tersebut ditutupi tikar seluruh tubuhnya dan hanya keliatan ujung kakinya. Ternyata mereka adalah mayat korban gempa. Bulu kuduk saya langsung merinding dan langsung berbalik arah untuk meneruskan perjalanan. Tetapi baru beberapa meter, saya semakin merinding saat melihat sosok mayat lain digeletakan begitu saja di sebuah kursi kayu panjang. Dari kaki yang terlihat, sosok itu masih anak-anak.

“Ke mana orang-orang kampung ini? kenapa mayat-mayat itu tidak diurus sama sekali,” saya berguman sendiri. Barulah setelah beberapa saat kami berhasil menemukan beberapa orang. Menurut orang-orang itu kampung ini sepi karena sebagian sedang membuat kuburan dan sebagian lain belum pulang setelah lari terbirit-birit karena isu tsunami. Hampir tiga jam saya keluar masuk kampung untuk memantau situasi.

Dalam kondisi seperti ini wawancara sepertinya menjadi hal yang tidak terlalu penting, meski tetap diperlukan. Situasi lapangan yang penuh dengan kehancuran merupakan fakta yang tidak perlu ditanyakan lagi kepada para korban. Jujur saja, hari pertama merupakan hari paling sulit untuk membuat berita. Saya menyebut saat itu wartawan mengalami muntah fakta. Terlalu banyak fakta, semuanya bagus dan layak ditulis. Namun keterbatasan space membuat wartawan benar-benar kebingungan mengambil fakta terbaik.

Kedodoran

Hari kedua dan beberapa hari setelahnya, seperti biasa mulai terlihat pemerintah selalu kedodoran dalam menangani bencana. Penyaluran bantuan, khususnya makanan, menjadi persoalan yang tidak beres. Satu hal yang benar-benar tidak saya mengerti waktu itu adalah kenapa begitu cepat pemerintah memutuskan memberikan bantuan pangan dalam bentuk bahan mentah. Kenapa tidak didirikan dapur-dapur umum yang sebenarnya bisa dilakukan dengan ribuan tenaga relawan yang sudah mengalir ke Bantul.

Penyaluran bantuan pangan dalam bentuk bahan mentah jelas mengundang berbagai persoalan. Bagaimana bisa orang yang sedang dalam kondisi demikian harus masak sendiri? apa mereka punya alat masak? apa air bersih dipastikan ada di setiap daerah? Kelemahan lain yang lebih berbahaya adalah dengan bantuan bentuk mentah maka muncul potensi penimbunan oleh pihak-pihak tertentu. Beda jika bantuan yang diberikan dalam bentuk matang yang tidak mungkin ditimbun.

Sifat dasar manusia adalah tidak pernah merasa cukup dan aman berkaitan dengan makanan. Jika sudah punya 5kg beras maka dia berfikir akan lebih aman jika punya 10kg. Punya 10 kg berfikir untuk lebih aman jika punya 20 kg, begitu seterusnya. Yang terjadi kemudian, setiap orang yang ditanya apakah sudah mendapat distribusi bantuan, hampir seluruhnya menjawab belum pernah. Saya sempat bingung dengan kondisi seperti ini.

Saya juga mulai ragu apa mereka benar-benar belum mendapat bantuan atau sekadar berbohong agar diberi bantuan lagi. Mungkin sifat curiga saya terlalu jahat untuk saya keluarkan pada situasi seperti itu, tetapi apa iya daerah yang hanya beberapa kilometer dari posko pusat belum mendapat bantuan sama sekali? apa iya petugas segeblek itu? Akhirnya saya cukup berhati-hati jika sudah berkaitan dengan soal bantuan. Saya yakin banyak orang yang tidak jujur, meski saya juga yakin banyak yang memang belum mendapatkan.

Dalam kondisi seperti itu akhirnya saya memilih bertanya pada orang-orang yang saya kenal untuk menanyakan soal bantuan. Beberapa orang yang rumahnya di Bantul dan kenal saya datangi. Asumsi saya, mereka akan lebih jujur kepada orang yang dia kenal. Tetapi secara umum, pemerintah memang sangat gagap dalam kondisi seperti ini. Apalagi dalam hal penanganan medis korban yang terkesan sangat amburadul.

Rumah Sakit benar-benar lumpuh karena kurangnya tenaga kesehatan, apalagi pada tiga hari pertama. Seluruh RS kekurangan ruang, dan obat-obatan. Kondisi baru mulai normal setelah tim-tim medis dari berbagai pihak termasuk dari luar negeri mulai masuk dan menggelar rumah sakit lapangan. Bahkan jujur saja saya sempat dibuat terkagum-kagum dengan tim kesehatan luar negeri yang sangat profesional. Sementara tim dari TNI juga sempat membuat saya geleng-geleng kepala karena mereka begitu cekatan dalam bekerja.

Sekitar empat hari setelah gempa, Bantul mulai dipenuhi posko-posko dari banyak lembaga dari partai politik, ormas, perusahaan, LSM, lembaga pendidikan dan lain sebagainya. Bendera dan umbul-umbul besar milik berbagai lembaga berkibar-kibar di depan posko yang bertebaran di banyak tempat. “Kok kayak masa kampanye ya?” seloroh seorang teman waktu itu. Saya baru sadar bahwa apa yang dikatakan teman itu benar setelah memperhatikan banyak sekali bendera-bendera partai politik yang dipasang waktu itu. Apakah mereka menggunakan momentum gempa ini untuk kampanye? saya juga tidak tahu.

Muak

Yang pasti, kondisi Bantul mulai memunculkan kemuakkan pada diri saya dan banyak wartawan yang lain. Salah satunya tingkah laku relawan yang tidak jelas kerjanya. Banyak relawan yang hanya wira-wiri ke sana kemari dengan jip terbuka tanpa jelas apa maksudnya. Dengan tulisan relawan di kaca depan mobilnya mereka tampak sibuk. Tetapi kok hanya wira-wiri tidak jelas seperti itu.

Hal lain yang juga mulai menyebalkan adalah banyaknya orang yang datang untuk melihat lokasi bencana. Dan mereka benar-benar hanya berputar-putar dengan mobil untuk melihat rumah-rumah yang luluh lantak akibat gempa. Warga korban gempa sendiri tampaknya juga jengkel sehingga di jalan Imogiri dipasang tulisan besar “Selamat Datang di Lokasi Wisata Gempa”. Entah sadar atau tidak mereka disindir, orang-orang yang datang malah makin banyak.

Padahal kalangan jurnalis sendiri mulai merasakan risih untuk datang ke lokasi bencana. Bukan apa-apa, jurnalis kerap kali datang hanya untuk tanya-tanya tentang kondisi mereka dan sama sekali tidak memberi bantuan yang mereka butuhkan. Akhirnya, untuk menjaga rasa risih itu wartawan memakai strategi membawa apapun yang mereka punya. Yang bisa mendapatkan tenda atau bahan makanan mereka bawa ke lokasi yang dia liput untuk kemudian diberikan kepada masyarakat. Tidak ada artinya sama sekali, tetapi setidaknya itu bisa mengurangi rasa risih ketika mengorek data dari mereka. Jika tidak ada barang yang bisa dibawa, wartawan biasanya membawa makanan atau sekadar permen yang dibagikan kepada anak-anak korban gempa.

Bahkan gara-gara cara ini saya harus rela saat malam-malam pulang dimarahi anak saya bahkan dituduh mencuri karena lima bungkus wafer miliknya saya bawa. Kebetulan saat berangkat anak saya masih tidur sehingga saya tidak bisa minta izin. Namun paling tidak saya malah punya sedikit kesempatan untuk sekadar membicarakan tentang perlunya berkorban untuk orang lain. Entah karena sadar apa karena sudah puas memarahi ayahnya, setelah obrolan itu anak saya langsung tidur. Hal lain yang bikin kalangan wartawan kadang jengah adalah sikap para pemberi bantuan yang terkesan haus publikasi media.

Hal ini kerap kali memunculkan pertanyaan sebenarnya mereka itu ikhlas apa tidak memberi bantuan. Kalau memang ikhlas ya sudah memberi ya memberi saja.. Kenapa harus diberitakan sehingga terkesan tidak ikhlas atau setidaknya riak. Baru beberapa hari setelah kejadian, undangan kepada wartawan untuk meliput pemberian bantuan terus mengalir. Bahkan sehari bisa empat undangan melalui SMS diterima para wartawan. Dan ini benar-benar bikin jengkel. Dalam kondisi yang sedemikian masih menderita ada saja yang ingin tampil menonjol. Ketika mendatangi acara pemberian bantuan pun akan lebih jengkel lagi. Setelah memberikan bantuan pemberi bantuan bersalaman dengan gubernur atau bupati sambil tersenyum. Jabat tangan pun dibuat lama agar wartawan bisa memotretnya. Benar-benar menjengkelkan. Sama seperti partai politik yang mengibarkan bendera-bendera besar mereka di depan posko. Apa maksudnya sebenarnya? mbok ya sudah kalau mau bantu ya bantu saja. Kok pakai ditunjuk-tunjukan segala.

Saya sendiri juga sempat dibuat hampir menangis dengan berbagai kepentingan yang mendompleng bencana ini. Suatu hari, saya ditelepon redaktur yang meminta agar saya meliput kegiatan di posko milik salah satu partai politik. “Yang benar saja. Kondisi seperti ini kok suruh ngurusin posko partai politik? apa tidak ada berita yang lebih bagus lagi,” kata saya waktu itu. Tetapi redaktur tetap ngotot agar tugas itu saya kerjakan karena dia juga hanya mendapat perintah atasan.

Saya pun ngotot tidak mau karena kondisi di lapangan tidak memungkinkan. Saya hanya berkata kalau sempat saya ke sana tetapi kalau tidak ya tidak. Redaktur akhirnya mau mengalah. Dan karena masih ada waktu, tugas itu bisa saya kerjakan meski dengan hati yang benar-benar dongkol. Malam harinya redaktur itu telpon minta maaf atas kejadian tadi. Dia sendiri mengaku pusing karena banyak sekali kepentingan di kantor. Kepentingan??? dalam kondisi bencana seperti ini masih ada kepentingan? luar biasa.

Namun di sisi lain, di tengah banyaknya pihak yang seolah ingin tampil sebagai pemberi bantuan, ketulusan tetap banyak ditemui di lapangan. Suatu saat, saya dan beberapa wartawan menemui beberapa orang dengan mobil membagikan ribuan nasi bungkus kepada korban gempa. Tidak ada simbol atau bendera lembaga apapun yang mereka kenakan. Sangat berbeda dengan selama ini yang kami lihat. Tertarik dengan drama ketulusan itu kami mendekat untuk sekedar mengobrol dan siapa tahu jadi bahan tulisan yang bagus. Tetapi kali ini kami yang dicuekin. Pemberi bantuan itu hanya menjawab bahwa bantuan ini tidak ada artinya sama sekali dan tidak layak untuk ditulis. “Bantuan kaya gini saja kok mau diomong-omongkan,Mas. Sudah sedikit dan akhirnya malah tidak jadi amal nanti,” kata salah satu dari mereka.

Ketulusan juga tampak ketika ribuan orang dari luar DIY setiap pagi berduyun-duyun masuk ke lokasi bencana. Mereka yang kebanyakan dari daerah Magelang dan Wonosobo itu datang ke lokasi bencana dan membantu para korban melakukan pembersihan puing-puing. Tidak ada imbalan sama sekali. Bahkan untuk makan pun mereka membawa langsung dari rumah. Jika dinilai rupiah, mungkin bantuan mereka pastilah sedikit. Tetapi yang sedikit itu ternyata lebih indah ketika diberikan dengan ketulusan daripada milyaran rupiah tetapi diikuti riak dan kepentingan.

Lucu

Ada saja memang yang terjadi dalam kondisi yang sedemikian memprihatinkan. Bahkan jurnalis kerap kali menemukan kejadian-kejadian lucu yang membuat senyum atau bahkan tawa tidak bisa ditahan. Salah satunya kejadian lucu yang terjadi akibat adanya pertemuan dua budaya yang berbeda. Seperti diketahui, akibat gempa ratusan relawan dan tim SAR asing juga terjun ke lokasi. Suatu hari, tim SAR dari Hongkong hendak membuka posko di daerah Pleret. Komandan tim SAR bilang pada orang-orang untuk pergi ke posko mereka guna mendapat perawatan kesehatan.

Orang yang diajak bicara bingung karena tidak paham dengan bahasa mandarin yang digunakan sang komandan hingga hanya plenggang-plenggong. Sementara sang komandan juga tidak kalah bingungnya untuk bisa menjelaskan apa maksud mereka. Akhirnya dengan susah payah keduanya bisa saling memahami. Seorang pemuda sambil cengengesan ngloyor pergi untuk melaksanakan perintah komandan sambil secara ngawur menirukan ngomongan komandan “cang cing cung cang cing cung. Ra mudeng,” katanya. Kami yang mendengarkan pemuda itu berguman tak urung tersenyum kecut.

Tim Kesehatan dari Malaysia yang sebenarnya secara bahasa tidak terlalu berbeda bahasa dengan Indonesia pun sempat dibuat kebingungan ketika memeriksa salah seorang perempuan korban gempa. “Kepala saya sakit tidak sembuh-sembuh terus kaki saya rasanya cekot-cekot,” seorang wanita anggota tim medis terbengong dengan kata cekot-cekot. “Apa itu cekot-cekot?” katanya dengan nada benar-benar bingung. Untunglah ada wartawan yang kemudian menjelaskan apa arti cekot-cekot meski juga bingung mencari kalimat mudah untuk menjelaskan kata dalam bahasa Jawa yang berarti rasanya sakit dan ngilu tersebut.

Soal teknologi, ada juga kejadian yang bikin para wartawan tersenyum. Saat itu pasukan Marinir Amerika Serikat hendak membawa berbagai peralatan dengan pesawat yang ukurannya sangat besar. Benar-benar besar, bahkan seorang tim SAR dari Jepang, yang sebenarnya merupakan negara maju pun sempat dibuat kagum dengan besarnya pesawat. Sebelum mendarat, tim kecil dari Marinir AS diturunkan untuk mengecek apakah landasan Bandara Adisucipto cukup kuat untuk mendarat pesawat super jumbo tersebut. Ketika menggunakan alat ukur kekerasan ternyata Marinir ini malah dibuat geleng-geleng kepala. Angka-angka di alat ukur malah tidak mau berhenti saking kerasnya landasan. “Unlimited! Unlimited!” kata sang Marinir sambil geleng-geleng kepala. Mungkin dia heran ada landasan yang sedemikian keras. “Pantes aja kalau landing di Yogyakarta kerasnya minta ampun lha wong terlalu keras,” celetuk salah seorang wartawan sambil cengengesan.

Banyak sekali kejadian-kejadian yang menyertai gempa 27 Mei 2006. Dari rasa sedih yang luar biasa hingga kemuakan yang luar biasa bercampur dengan rasa haru dan sesekali tersenyum. Berminggu-minggu saya nyaris tanpa libur berada di lokasi bencana menjadikan saya benar-benar merasa kelelahan. Bahkan saya sempat keluar darah dari hidung yang kata dokter karena stress.

Akhirnya saya mengajukan usulan ke redaktur untuk sementara di pindah ke Sleman memantau Merapi yang masih terus beraktifitas. Pikir saya liputan Merapi bisa sekaligus rekreasi dan menghirup udara sejuk pegunungan. Redaktur pun menyetujui permintaan saya itu. Tetapi apa daya, dua hari setelah pindah, Merapi justru erupsi besar yang menghancurkan kawasan Kaliadem yang mengakibatkan dua orang meninggal dunia. Niat istirahat gagal total. “Rasain, siapa suruh minta pindah Sleman,” goda redaktur saat itu.

Facebook Comments

error: Content is protected !!