Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un dilaporkan sangat takut akan dibunuh saat melakukan perjalanan ke Singapura guna bertemu dengan Presiden Donald Trump. Ini adalah perjalanan terjauh selama dia mengambil alih kekuasaan pada tahun 2011 setelah ayahnya, Kim Jong il meninggal.
“Kim sangat khawatir tentang keamanan di puncak dan takut upaya pembunuhan,” tulis Bloomberg mengutip dua sumber yang akrab dengan pembicaraan itu Rabu 6 Juni 2018.
Kim telah lama mengkhawatirkan pembunuhan, bahkan di negaranya sendiri. Tetapi sebagai pemimpin sebuah negara yang sering mengancam Amerika dengan perang nuklir, naik pesawat dan terbang melintasi wilayah udara internasional ke negara netral membuatnya merasa semakin tidak aman.
Bahkan di sepanjang Zona Demiliterisasi (DMZ) dengan Korea Selatan, Kim bepergian dengan tingkat pengamanan yang mengesankan.
Tetapi Korea Utara hampir tidak memiliki angkatan udara, dan akan menempatkan pemimpinnya pada pesawat sipil di wilayah yang ditumpuk dengan ancaman dari darat ke udara dan kehadiran penerbangan militer Amerika yang besar.
Korea Utara mempertahankan bahwa Amerika memiliki “kebijakan bermusuhan” terhadapnya dan berpikir akan mencoba melakukan perubahan rezim jika ada kesempatan.
Komentar dari Penasihat Keamanan Nasional Trump John Bolton membandingkan Korea Utara ke Libya, di mana pemimpinnya tewas dalam intervensi yang didukung Amerika kemunkinan juga memicu ketakutan ini.
Meski terlihat seperti paranoid, ketakutan Kim juga bukan tanpa dasar. China dikabarkan telah menyelidiki rencana pembunuhan terhadap Kim yang melibatkan pamannya.
Saudara tiri Kim, Kim Jong Nam, juga dibunuh di negara tetangga, Malaysia, dengan agen syaraf yang diduga oleh pihak berwenang Kim.
Selain itu Kim lebih rentan terhadap pembunuhan dari rekannya, Trump. Kim adalah kelanjutan sebuah dinasti, sementara Trump hanyalah presiden. Jika Kim meninggal tanpa penerus yang jelas, negaranya bisa jatuh ke dalam kekacauan.
Jika seorang presiden Amerika meninggal, ada rantai suksesi yang sudah lama terbentuk, namun jika Korea Utara terlibat dalam kematian, akan ada neraka yang harus dibayar.
Orang dalam mengatakan Kim mencari jaminan keamanan dari Amerika dengan imbalan tindakan denuklirisasi, tetapi Kim tetap khawatir pembunuhan pada dirinya akan terjadi.

