Hadapi Rusia, Amerika Aktifkan Lagi Armada Kedua untuk Awasi Atlantik
Kapal Angkatan Laut Amerika/US Navy

Hadapi Rusia, Amerika Aktifkan Lagi Armada Kedua untuk Awasi Atlantik

Ketegangan yang semakin meningkat dengan Rusia menyebabkan NATO dan anggotanya untuk membuat sejumlah perubahan pada postur militer mereka di Eropa. Sekarang Amerika mengaktifkan kembali Armada Kedua untuk mengawasi Samudra Atlantik utara dan Pantai Timur Amerika.

Armada Kedua dinonaktifkan pada September 2011 setelah 65 tahun beroperasi sebagai bagian dari upaya penghematan biaya dan restrukturisasi organisasi. Banyak personil dan tanggung jawabnya digabung ke Komando Pasukan Armada Amerika.

Pengumuman pengaktifan Armada Kedua datang saat upacara penggantian pemimpin Komando Pasukan Armada atau Fleet Forces Command Amerika.

Pengembalian Armada Kedua adalah bagian dari pergeseran oleh Amerika menuju persiapan potensi konflik kekuatan besar, khususnya untuk melawan Rusia.

“Strategi Pertahanan Nasional kami memperjelas bahwa kita kembali di era persaingan kekuatan besar karena lingkungan keamanan terus tumbuh lebih menantang serta kompleks,” kata John Richardson, kepala Operasi Angkatan Laut Amerika, Jumat 4 Mei 2018 sebagaimana dikutip Business Insider.

“Armada Kedua akan menjalankan otoritas operasional dan administratif atas kapal, pesawat dan pasukan pendaratan di Pantai Timur dan Samudra Atlantik utara,” kata Richardson.

Mereka  akan  melakukan operasi-operasi maritim, gabungan, serta latihan dan menyediakan kekuatan maritim untuk menanggapi ancaman di seluruh dunia.

Menurut memo perubahan yang diperoleh oleh US Naval Institute News, Armada Kedua akan diaktifkan pada 1 Juli dan pada awalnya akan dikelola oleh 11 perwira dan empat tamtama, dan akhirnya bertambah menjadi 85 perwira, 164 personel tamtama, dan tujuh pergawai sipil.

Yang belum jelas adalah masa depan Armada Keempat, yang ada di bawah Komando Selatan Amerika yang dibentuk pada tahun 2008. Sebelum tahun 2008, Armada Kedua bertanggung jawab untuk operasi di perairan Amerika Tengah dan Selatan.

Sebelum aneksasi Rusia atas Crimea dari Ukraina pada 2014, pasukan Angkatan Laut  Amerika di Samudera Atlantik terutama difokuskan pada misi bantuan kemanusiaan dan bencana serta pemberantasan narkoba.

Namun aktivitas angkatan laut Rusia telah meningkat pesat dalam beberapa tahun terakhir, dengan beberapa pejabat NATO yang menggambarkannya berada di level tertinggi sejak Perang Dingin.

Angkatan laut Rusia memang lebih kecil daripada saat Perang Dingin, tetapi Moskow telah mengejar upaya modernisasi ambisius, dengan fokus utama pada Laut Hitam dan armada Utara.

Armada Utara  yang berbasis di dan sekitar Semenanjung Kola di Arktik, merupakan kekuatan militer yang signifikan dan dekat dengan wilayah NATO di Norwegia dan berisi kekuatan nuklir berbasis laut Rusia.

Pada tahun 2016, Laksamana James Foggo III dari US Navy, yang sekarang kepala Angkatan Laut Eropa, menggambarkan ketegangan antara Rusia dan Amerika sebagai “pertempuran Atlantik keempat,” setelah pertempuran kapal permukaan dan kapal selam Perang Dunia I, Perang Dunia II, dan Perang Dingin.

“Kapal selam Rusia sedang berkeliaran di Atlantik, menguji pertahanan kami, menghadapi komando kami di lautan, dan mempersiapkan medan perang bawah air yang kompleks untuk memberi mereka keunggulan dalam konflik di masa depan.”

Angkatan Laut Amerika telah meningkatkan patrolinya di Laut Baltik, Atlantik Utara, dan Arktik. Kapal-kapal Angkatan Laut Amerika juga lebih aktif di Laut Hitam untuk  melawan kehadiran Rusia di sana. Kapal Amerika dan Rusia juga beroperasi dalam jarak dekat di Mediterania timur, di mana pasukan Rusia membantu rezim Bashar Assad dalam perang sipil Suriah.

Angkatan Laut Amerika juga sedang merenovasi pangkalan era Perang Dingin di Islandia untuk menempatkan pesawat patroli maritim P-8 Poseidon guna memantau Gap Greenland-Iceland-UK  (GIUK), titik sempit yang pasti digunakan kapal Rusia saat bergerak antara Arktik dan Atlantik Utara.