Kelompok pasukan khusus Amerika Serikat dan Afghanistan sedang mempersiapkan serangan ke kubu ISIS di Afghanistan barat laut dalam upaya untuk mencegah kelompok tersebut agar tidak melanjutkan ekspansi mereka ke provinsi-provinsi utara Afghanistan.
Juru bicara Kementerian Pertahanan Afghanistan Jenderal Mohammad Radmanish mengumumkan rencana yang akan dimulai pada Desember ini.
“Operasi ini adalah untuk mengejar musuh yang menentang orang Afghanistan dan Pasukan Keamanan Nasional Afghanistan,” katanya.
Operasi ini bukan yang pertama kali digelarPasukan Amerika di Afghanistan (USFOR-A) berusaha menghentikan cabang ISIS di Afghanistan yang disebut “Islamic State-Khorasan Province,” atau ISIS-K, mulai berdiri di Afghanistan timur pada tahun 2015. Namun usaha mereka gagal, dan kelompok telah mendapatkan pijakan di negara Asia Tengah tersebut.
Sejak saat itu, mereka telah semakin banyak muncul di provinsi Jowzjan dan Faryab di sepanjang perbatasan utara negara itu dengan Turkmenistan. Stripes melaporkan bahwa sebagian besar pejuang berasal dari kelompok Tehrik-i-Taliban Pakistan, melintasi perbatasan dengan janji gaji yang lebih tinggi.
Laporan intelijen juga menyebutkan pejuang ISIS yang dipukul dari Irak dan Suriah telah bergabung dengan ISIS-K di Afghanistan.
Namun USFOR-A menyangkal laporan tersebut meski AFP mengatakan bahwa pergerakan pasukan ISIS ini telah terjadi. Mereka melaporkan bahwa militan terlihat memasuki wilayah yang diduduki ISIS di provinsi Jowzjan pada bulan November – termasuk beberapa yang diketahui telah berperang di Irak atau Suriah.
Letnan Kolonel Kone Faulkner, juru bicara militer amerika , mengatakan bahwa Pentagon tidak menangapi laporan tersebut.
Namun terlepas apakah pejuang Irak dan Suriah bergabung dengan ISIS-K, USFOR-A telah bertekat untuk menghancurkan total ISIS di Afghanistan. “Kami berkomitmen untuk menghancurkan mereka di manapun mereka berada,” kata Jenderal John Nicholson, yang memimpin USFOR-A, pada akhir November.
ISIS-K diyakini memiliki sekitar 1.100 pejuang yang tersebar di seluruh negeri. Jumlah ini turun dari 3.000 pada awal 2017.

