Presiden Rusia, Vladimir Putin membuat pernyataan yang memicu ketegangan dunia dengan mengatakan negaranya telah membangun dua senjata nuklir yang tidak akan mampu diadang oleh siapapun.
Dua senjata tersebut adalah rudal balistik antarbenua RS-28 yang dijuluki sebagai Sarmat-2 dan kapal selam tanpa awak yang bisa melakukan serangan nuklir.
Apa dan bagaimana sebenarnya kemampuan rudal Sarmat-2 ini? RS-28 Sarmat adalah rudal balistik antarbenua berbahan bakar cair yang saat ini sedang dikembangkan oleh Rusia. Rudal ini dibangun untuk menggantikan ICBM SS-18 Satan yang sudah tua.
Kantor Berita TASS pernah melaporkan rudal yang juga dikenal sebagai SS-X-30 akan masuk ke layanan pada akhir 2018. SS-X-30 menjalani tes pop-up pada akhir 2016 dan uji penerbangan akan dilakukan pada awal atau akhir kuartal pertama 2017.
Jika pernyataan Putin benar bahwa Sarmat-2 telah diuji, maka berarti itu lebih cepat dari jadwal yang telah ditentukan sebelumnya.

Setelah pecahnya Uni Soviet, pabrik di Dnepropetrovsk menghentikan produksi SS-18. Di bawah perjanjian START-1 , Rusia membatalkan 154 rudal. Mereka yang masih dalam layanan ditarik dari operasi setelah berakhirnya siklus hidup mereka.
Menurut sumber terbuka, 46 rudal berbasis silo ini sampai saat ini masih bertugas. Merekalah yang nantinya akan diganti oleh SS-X-30 yang tentu saja disertai dengan peningkatan kemampuan silo untuk meluncurkan rudal baru tersebut.
Berbeda dengan pendahulunya (SS-18), SS-X-30 akan membanggakan massa lepas landas jauh lebih kecil dan rentang penerbangan yang lebih besar.
Menurut Kolonel Jenderal Viktor Litovkin penasihat komandan Rudal Strategis Angkatan yang juga analis militer TASS, jika kisaran SS-18 adalah 11.000 kilometer, SS-X-30 akan dapat mencapai target sejauh 17.000 km.

