Salah satu alasan yang menjadikan F-35 menjadi proyek yang berlarut-larut dan mahal adalah konsep awal untuk membangun sebuah jet tempur untuk kepentingan bersama, baik Angkatan Udara, Angkatan Laut atau Marinir. Makanya kemudian F-35 dikenal sebagai Joint Strike Fighter.
Seharusnya akuisi semacam ini bisa menghemat biaya karena meminimalkan redundansi dan duplikasi antara layanan militer. Tapi dalam praktik terbukti hanya menjadi ilusi. Pengembang F-35 pun mulai mengakuinya meski tidak secara terbuka.
“Saya tidak mengatakan mereka buruk. Saya juga tidak mengatakan mereka baik, “kata Letnan Jenderal Christopher Bogdan dari Kantor Bersama F-35. ” Aku hanya mengatakan ini sulit.” Tetapi menurut Bogdan meski pengembangan pesawat tempur bersama sulit dalam praktek, tetapi bukan berarti tidak dicoba sama sekali.
Ide di balik pengembangan pesawat bersama adalah bahwa platform umum akan memungkinkan beberapa layanan untuk bisa menghemat ekonomi dalam pengembangan dan produksi. Tetapi F-35 telah membuktikan sebaliknya. Menurut Defense One, tiga varian Joint Strike Fighter ini ternyata hanya berbagi sekitar 20 persen bagian-bagian yang sama.
Alasannya sederhana. Penerbangan tempur di tiga layanan yakni USAF, US Navy dan Marnir memiliki kebutuhan yang berbeda, konsep penerbangan yang berbeda, dan budaya organisasi yang berbeda. Upaya untuk memenuhi semua keperluan itu dalam satu pesawat akhirnya berujung menjadi pada program termahal yang pernah ada dalam sejarah pengadaan senjata di dunia.
Pada 2013 Rand Corporation sudah mengingatkan pengembangan pesawat tempur bersama akan menjadi masalah dalam biaya. “Kebutuhan untuk mengakomodasi kebutuhan layanan yang berbeda dalam desain tunggal, berpotensi menyebabkan biaya keseluruhan yang lebih tinggi, meskipun ada efisiensi.”
Pada akhrinya untuk memenuhi syarat masing-masing layanan, pesawat harus menggunakan teknologi berbeda, rekayasa ulang setiap varian juga tak terelakkan.
Biaya sudah meledak dengan segala masalah yang terus ada tanpa akhir. Hanya saja membatalkan program adalah hal yang hampir tidak mungkin. Meski sejumlah pihak mengatakan hasil dari program ini adalah jet tempur cacat dan sangat mahal.

