Di suatu tempat di Samudera Atlantik Selatan kapal seberat 34.000 ton dan panjang 265 meter terkatung-katung. Dia adalah Sao Paolo, kapal induk yang pernah menjadi kebanggaan Angkatan Laut Prancis dan Brazil
Kapal induk itu mengambang tanpa tujuan di atas ombak. Ini terjadi setelah kapal terjebak dalam perselisihan internasional atas kandungan racunnya.
Dia seharusnya dibawa ke Turki untuk dihancurkan, tetapi negara itu menolaknya. Sementara Brazil juga tidak mau menerima lagi karena kapal itu sudah dibeli oleh sebuah perusahaan.
Sao Paulo satu-satunya kapal induk di armada angkatan laut Brasil telah terjebak dalam ketidakpastian selama lima bulan.
Kapal induk Sao Paulo adalah kapal perang Brasil terbesar, dengan 31.000 ton dan kapasitas hingga 40 pesawat. Persenjataannya terdiri dari tiga peluncur rudal ganda dan senapan mesin kaliber besar.
Tidak digunakan selama beberapa dekade, kapal itu dibongkar di Prancis. Lambung kembali ke Brasil dan ditawarkan untuk dijual oleh Angkatan Laut Brasil untuk proses daur ulang ramah lingkungan.
Kapal berusia 60 tahun itu dijual oleh Angkatan Laut ke galangan kapal Turki Sök Denizcilik dan Ticaret Limited, yang berspesialisasi dalam pembongkaran kapal.
Kapal tersebut meninggalkan Brasil pada 4 Agustus dengan bantuan kapal tunda. Perjalanan ini menimbulkan protes di seluruh dunia dan dipantau secara real time oleh Greenpeace.
Turki mencabut izin masuk dengan mengatakan Brasil tidak dapat membuktikan bahwa São Paulo bebas dari asbes.
Bahan beracun yang digunakan dalam pembangunan banyak kapal abad ke-20. Jadi, kapal itu berbalik arah.
Simak selengkapnya dalam tayangan berikut:

