Lari ke Argentina? Evo Morales Mengundurkan Diri

Lari ke Argentina? Evo Morales Mengundurkan Diri

Presiden Bolivia Evo Morales dilaporkan mengundurkan diri setelah tekanan aksi demonstrasi selama kurang lebih satu bulan terakhir. Kabar ini muncul setelah militer dan polisi memintanya untuk melepaskan jabatan.

Protes di negara itu telah berlangsung sejak 20 Oktober setelah Presiden Bolivia Evo Morales mendapatkan masa jabatan baru dalam pemilihan presiden. Demonstrasi dengan cepat berubah menjadi kerusuhan, disertai dengan insiden pembakaran dan pendudukan bangunan, termasuk kantor media pemerintah.

Laporan yang belum dikonfirmasi beredar pada hari Ahad 10 November 2019 yang menyebut pesawat Morales telah meminta rute rencana penerbangan ke Argentina. Cuplikan dari dugaan pelarian itu dibagikan sebelumnya di Twiter, menggambarkan sebuah jet kecil lepas landas dari bandara El Alto di La Paz.

Morales yang memimpin Bolivia selama hampir 14 tahun dalam komentar yang disiarkan televisi mengatakan dia akan mengirimkan surat pengunduran dirinya untuk membantu memulihkan stabilitas. Akan tetapi, dia menyebut telah terjadi “kudeta sipil.”

Kepala angkatan bersenjata Bolivia sebelumnya pada hari Ahad mengatakan militer telah meminta Morales untuk mundur setelah berminggu-minggu protes atas pemilihan presiden pada 20 Oktober yang dimenangkan oleh Morales.

“Kami menyarankan Presiden untuk melepaskan mandat presidennya, sehingga memungkinkan perdamaian dipulihkan dan stabilitas dipertahankan untuk kebaikan Bolivia,” kata Jenderal Williams Kaliman, komandan angkatan bersenjata Bolivia.

“Demikian juga, kami meminta rakyat Bolivia dan pihak-pihak yag dimobilisasi untuk melakukan aksi kekerasan antara saudara-saudara agar tidak menodai keluarga kami dengan darah, rasa sakit, dan duka,” menurut pernyataan pihak militer seperti dikutip Reuters.

Sebelumnya, Morales telah sepakat untuk mengadakan pemilihan umum baru setelah keluar laporan dari Organisasi Negara-negara Amerika (OAS).

OAS melakukan audit suara Pemilu 20 Oktober dan mengungkapkan terjadinya pelanggaran serius dalam pemilihan umum.

Laporan OAS mengatakan pemilihan Oktober harus dibatalkan setelah menemukan “manipulasi yang jelas” dari sistem pemungutan suara. Karena itu kemenangan Morales dipertanyakan dengan keunggulan lebih dari 10 persen atas rival utamanya Carlos Mesa.