Melalui upaya kucing-kucingan yang cukup melelahkan, tanker Iran yang sebelumnya ditahan Inggris akhirnya berhasil menjual muatannya. Namun tetap tidak jelas siapa yang membeli minyak tersebut.
Tanker Adrian Darya-1 Iran sempat menghilang dari deteksi sebelum gambar satelit muncul yang menunjukkan kapal ada di lepas Pantai Suriah pada Jumat 6 September 2019 .
Kementerian Luar Negeri iran mengatakan tanker tersebut telah menjual muatannya. “Sebuah kapal tanker yang dicurigai berusaha mengirimkan minyak Iran ke Suriah dengan alasan sanksi internasional kini telah menjual muatannya, “ kata Iran sebagaimana dikutip BBC.
Tidak dijelaskan siapa yang membeli minyak tersebut. Seorang juru bicara kementerian luar negeri Iran hanya akan mengatakan kapal itu telah mengirim barangnya setelah berlabuh “di pantai Mediterania”.
Kapal itu telah menjadi pusat pergolakan diplomatik Amerika-Iran. Kapal ditangkap marinir Inggris di lepas Gibraltar pada bulan Juli dan ditahan di sana sampai 15 Agustus ketika Iran memberikan jaminan bahwa ia tidak akan berlayar ke Suriah. Kapal tanker itu membawa 2,1 juta barel minyak mentah Iran.
Amerika pada Ahad 8 September 2019 berjanji akan menjatuhkan sanksi kepada siapapun yang membeli minyak dari tanker tersebut.
“Kami akan terus menekan Iran dan ketika Presiden [Trump] mengatakan tidak akan ada keringanan dalam bentuk apa pun untuk minyak Iran,” kata pejabat Departemen Keuangan Amerika Sigal Mandelker kepada Reuters.
Di bagian lain Kementerian Luar Negeri Iran mengatakan pihaknya sedang mempersiapkan pembebasan kapal tanker berbendera Inggris disita oleh Iran yang dilihat banyak orang sebagai langkah balas dendam. “Stena Impero sedang melalui proses hukum final dan akan segera dibebaskan,” kata jurubicara Abbas Mousavi.
Kapal telah ditahan sejak 19 Juli, karena dituduh melanggar hukum maritim – dan Iran secara konsisten membantah penyitaannya memiliki kaitan dengan penahanan kapal tanker Iran.
Perusahaan pencitraan satelit, Maxar, merilis foto-foto yang katanya menunjukkan kepada Adrian Darya sekitar dua mil laut dari pelabuhan Tartus, Suriah, Jumat. Kapal, awalnya dikenal sebagai Grace 1 ketika ditahan pada bulan Juli di lepas Gibraltar.
Amerika Serikat membuat permintaan resmi untuk mengambil alih kapal itu pada Agustus, tetapi pengadilan di Gibraltar menolaknya. Nasib tanker itu diperumit oleh pendekatan yang berbeda dari para pemimpin Amerika dan Eropa ke Iran.
Amerika tahun lalu menarik diri dari kesepakatan internasional 2015 untuk membatasi program nuklir Iran, dan menerapkan kembali sanksi. Sebagai tanggapan, Iran berhenti mematuhi beberapa komitmen dalam kesepakatan. Sementara Uni Eropa berupaya untuk menyelamatkan perjanjian itu.
Amerika telah berusaha dengan berbagai cara untuk merebut kapal tanker itu sejak dirilis oleh Gibraltar. Negara itu mengeluarkan surat perintah dan daftar hitam kapal serta mengancam sanksi terhadap negara mana pun yang menawarkan bantuan. Sejak itu kapal telah berlayar ke timur melintasi Laut Tengah.
Awal pekan ini terungkap bahwa seorang pejabat Amerika bahkan telah menawarkan kepada kapten kapal jutaan dolar untuk mengubah arah dan mengangkut kapal tanker itu ke suatu tempat yang mungkin bisa direbut oleh Amerika.
Menyusul munculnya gambar satelit pada hari Sabtu, Kantor Luar Negeri Inggris menyebut laporan kehadiran kapal di dekat Suriah “sangat meresahkan”.

