Mesin Rudal Rusia Meledak, Tewaskan Dua Orang
Lokasi ledakan mesin rudal Rusia/TASS

Mesin Rudal Rusia Meledak, Tewaskan Dua Orang

Sebuah ledakan terjadi pada mesin rudal di sebuah lokasi pengujian militer di Rusia utara, Kamis 8 Agustus 2019, menewaskan dua orang. Sempat terjadi lonjakan radiasi singkat di langit sekitar tempat ledakan.

Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan sebelumnya pada hari Kamis bahwa tingkat radiasi normal setelah ledakan.

“Selama pengujian mesin jet propelan cair, sebuah ledakan terjadi dan peralatan terbakar,” kata Kementerian Pertahanan Rusia dalam pernyataannya.

“Akibat kecelakaan itu, enam pegawai kementerian pertahanan dan seorang pengembang terluka. Dua spesialis meninggal karena luka-luka mereka,” katanya sebagaimana dilaporkan Kantor Berita RIA.

Interfax mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya sebagaimana dilaporkan The Moskow Times melaporkan ledakan mesin roket terjadi di daerah pengujian senjata di dekat desa Nyonoksa di wilayah Arkhangelsk. Wilayah ini digunakan untuk tes senjata termasuk balistik dan rudal jelajah yang digunakan oleh angkatan laut Rusia.

Interfax mengutip petugas pelabuhan Arkhangelsk juga melaporkan akibat ledakan ini Rusia menutup wilayah Teluk Dvina di Laut Putih itu untuk pengiriman selama sebulan. Seorang pejabat pelabuhan mengatakan wilayah Teluk Dvina di Laut Putih akan ditutup untuk pengiriman.

Sebelumnya Departeman Pertahanan Rusia Ksenia Yudina mengatakan tidak ada radiasi pasca ledakan. Namun juru pemerintah kota mengatakan sempat terjadi kenaikan radiasi dalam jangka pendek.

“Kenaikan jangka pendek dalam radiasi latar tercatat pada pukul 12 di Severodvinsk,” kata Ksenia Yudina dikutip oleh kantor berita TASS. Pejabat kota mengatakan tingkat radiasi latar belakang telah sepenuhnya dinormalisasi.

Kecelakaan itu adalah yang kedua yang menimpa militer Rusia dalam waktu kurang dari seminggu, setelah kebakaran terjadi di depot amunisi di Siberia pada Senin 5 Agustus, yang menyebabkan ledakan besar.

Kebakaran itu memicu ledakan kuat yang berlanjut selama sekitar 16 jam, menewaskan satu orang, melukai 13 lainnya dan memaksa lebih dari 16.500 orang meninggalkan rumah mereka.