For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Seberapa Penting Sebenarnya Turki bagi NATO?

Wakil Presiden Amerika Mike Pence mengeluarkan ultimatum ke Turki awal pekan ini apakah Ankara tetap menjadi mitra NATO atau membahayakan aliansi dengan melanjutkan pembelian sistem pertahanan udara S-400 buatan Rusia.

Peringatan Mike Pence terhadap akuisisi pertahanan rudal S-400 dari Rusia mendorong Wakil Presiden Turki Fuat Oktay mengeluarkan peringatan tandingan untuk menunjukkan bahwa negaranya adalah  sekutu NATO yang dermawan, tidak akan dipaksa untuk meninggalkan kesepakatan.

Turki harus diakui secara strategis penting bagi Amerika Serikat dan NATO karena sejumlah alasan.

Pangkalan Udara Incirlik/Sputnik

Pangkalan Udara Incirlik

Incirlik, pangkalan udara Turki yang terletak 110 kilometer dari perbatasan negara itu dengan Suriah, telah menjadi aset penting yang strategis baik untuk NATO maupun militer Amerika .

Dibangun pada tahun 1955 dengan bantuan Amerika untuk melawan Uni Soviet selama Perang Dingin, fasilitas ini kemudian menjadi landasan peluncuran kampanye di Timur Tengah, termasuk selama Perang Teluk Pertama, Operasi Enduring Freedom di Afghanistan, dan ofensif koalisi pimpinan Amerika melawan ISIS di Suriah.

Bantuan Amerika untuk milisi Kurdi di Suriah, yang oleh Turki dianggap sebagai teroris telah menjadi batu sandungan utama dalam hubungan antara Ankara dan Washington.

Juru bicara Presiden Recep Tayyip Erdogan, Ibrahim Kalin, pernah mengatakan bahwa Turki akan mempertimbangkan “hak kedaulatannya” untuk menolak akses Amerika ke pangkalan udara, sementara Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu memperingatkan adanya krisis kepercayaan dalam hubungan antara kedua negara .

“Orang-orang kami bertanya, ‘Mengapa mereka menggunakan Incirlik Airbase?’ Apa tujuan Anda melayani jika Anda tidak memberikan dukungan udara terhadap [ISIS] dalam operasi paling sensitif bagi kami? ‘” Cavusoglu mengatakan kepada kantor berita Anadolu dan dikutip Sputnik.

Mereka tidak menutup pangkalan, tetapi meningkatkan tekanan dengan menunda persetujuan misi udara Amerika keluar dari pangkalan.

Namun, Turki sebelumnya menyampaikan ancamannya dengan berulang kali menolak akses anggota parlemen Jerman ke pangkalan itu pada tahun 2016, di mana sekitar 250 tentara Jerman ditempatkan. Keputusan itu dipicu oleh pengesahan undang-undang parlemen Bundestag yang mengklasifikasikan kekejaman massal 1915 terhadap Armenia oleh pasukan Ottoman sebagai genosida.

Alasan kedua dipicu oleh keputusan Berlin untuk memberikan suaka kepada personel militer Turki yang dituduh mengambil bagian dalam kudeta gagal pada Juli 2016.

Selain itu, meskipun informasi itu tidak pernah dikonfirmasi oleh pejabat NATO, Amerika, atau Turki, menurut Federasi Ilmuwan Amerika sekitar 50 hulu ledak nuklir tipe B61 diperkirakan telah ditempatkan di pangkalan itu sejak Perang Dingin.

Tentara Turki

Kontribusi dan Angkatan Bersenjata

Turki telah menjadi roda penggerak integral dalam mesin NATO sejak menjadi anggota pada tahun 1952 serta salah satu kontributor terbesar untuk anggaran aliansi. Pada tahun 2018, Turki menyumbangkan US$ 101 juta atau sekitar Rp1,4 triliun untuk dana bersama organisasi.

Negara ini juga memiliki tentara terbesar di antara 29 negara anggota setelah Amerika Serikat dan memainkan peran penting dalam Misi Dukungan Tegas atau Resolute Support Mission di Afghanistan.

Turki telah menjadi tuan rumah komando darat NATO di provinsi pesisir timur Izmir dan sistem radar penting yang strategis di Kurecik, Malatya, dan telah memungkinkan sekutu untuk menggunakan pangkalan udara utamanya, Incirlik dan Konya untuk operasi NATO, serta telah secara aktif berperang melawan kelompok bersenjata di Timur Tengah.

NEXT: AEGEAN, LAUT HITAM DAN F-35

Facebook Comments