For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Airbus A350 Butuh 500 Km Kabel dan 60.000 Braket, Bagaimana Memastikan Terpasang dengan Benar?

Pesawat terbang adalah sistem yang sangat rumit dan kompleks yang ketika ada masalah sedikit saja bisa menjadi penyebab sebuah malapetaka. Sehingga semua sistem itu harus terpasang dengan benar, termasuk kabel-kabel yang pasti banyak digunakan oleh pesawat.

Sebagai gambaran, sebuah pesawat A350 Airbus membutuhkan kabel sepanjang 500 kilometer, belum lagi puluhan pipa dan saluran hidrolik, semua di tempat dalam 60.000 braket. Salah di beberapa atau bahkan satu titik jelas jadi masalah serius.

Panjang kabel ini jauh dibandingkan dengan yang dibutuhkan jet tempur. Ambil contoh saja Su-30 Rusia. Jet tempur multirole ini membutuhkan kabel sepanjang kurang lebih 70 km. Sedangkan jet tempur yang lebih ringan seperti Yak-130 membutuhkan kabel sepanjang sekitar 30 km.

Pertanyaannya bagaimana memastikan bahwa semua telah terpasang dengan benar? Bagaimana meneliti puluhan ribu titik itu untuk memastikan semua sesuai tempatnya?

Untungnya ada sebuah teknologi bernama augmented reality (AR) yang bisa mempercepat proses rumit ini. Sebelum ada AR, proses pengecekan membutuhkan waktu beberapa minggu sekarang lebih cepat.

“Dulu waktu sekitar tiga minggu untuk tim inspecting memeriksa semua braket berada di posisi yang tepat,” kata Nicolas Chevassus dari bagian Inovasi Aribus EADS sebagaimana dikutip News Scientist. “Sekarang itu hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga hari.”

Sebuah badan pesawat A350 yang sedang dibangun

Airbus juga sedang menguji sistem yang disebut Mira untuk membangun pesawat selanjutnya. Sekitar 1.000 pekerja di lokasi produksi di Eropa dan Amerika Serikat telah diberikan komputer tablet yang menjalankan software augmented reality ini.

Tekniknya cukup mengarahkan kamera tablet ke bagian peswat yang ingin dicek kemudian soft ware yang ada akan mencocokan dengan database yang ada. Jika ada masalah maka akan diberi peringatan untuk kemudian dibenarkan

Airbus juga menggunakan AR untuk memeriksa dikonfigurasi kontrol panel dengan benar. Setiap switch dan tombol yang perlu untuk dites yang disorot dengan kamera tablet ini.

Sistem berbasis tablet bekerja juga tetap bekerja dengan baik ketika satu atau dua orang perlu melihat apa yang ada di layar. Tapi jika tampilan perlu dilhat oleh beberapa insinyur untuk bisa melihat sekaligus, Airbus menggunakan alat proyeksi video.

Airbus berencana untuk memperkenalkan headset dalam dua sampai tiga tahun ke depan. Kira-kira ini mirip dengan headset Google Glass.

Peneliti Airbus juga mengembangkan pelatihan lingkungan virtual di mana pekerja perakitan dapat belajar bagaimana menempatkan bagian bersama-sama. Dalam tes terakhir, orang diajarkan cara merakit bagian pintu pesawat melalui Oculus Rift.

Headset akan menjadikan mereka melihat dan berinteraksi dengan sebuah pintu maya pada lingkungan yang sebenarnya. Para peneliti menemukan bahwa pelatihan campuran antara maya dan realitas ini sama efektifnya dengan pendekatan pelatihan normal di mana pekerja akan berinteraksi langsung.

Facebook Comments