Israel Ungkap Operasi House of Cards, Serangan Terbesar ke Suriah Sejak 1974

F-15 Israel

Israel merilis tentang operasi “House of Cards” yang dilakukan pada Mei 2018 lalu. Operasi ini disebut sebagai serangan terbesar Israel ke Suriah  sejak 1974.

Situs resmi IAF  menuliskan pada 9 Mei 2018, pesawat dan aircrew Israel menunggu lampu hijau sebelum memulai serangan mendadak. Baterai Divisi Pertahanan Udara tersebar di seluruh teater utara Israel dalam persiapan untuk menghadapi ancaman yang datang dari sisi lain perbatasan. “Ini bukan serangan biasa – ini adalah serangan terbesar IAF di Suriah sejak 1974. Musuhnya adalah  Pasukan Quds Iran,” tulis situs tersebut Kamis 13 September 2018.

Dalam waktu kurang dari dua jam, pesawat Israel menyerang lebih dari 70 target di bawah ancaman sistem pertahanan  udara. Sistem peringatan radar berwarna merah di sektor utara dan sistem rudal pertahanan udara Iron Dome segera menghadapi serangan berkelanjutan.

“Anda tidak bisa mengerti apa yang sedang terjadi – situasi gelap dan banyak rudal diluncurkan ke arah kami. Saya melihat api menuju ke arah saya dan mereka menghilang dalam hitungan detik,” kata Letnan Kolonel M ‘, Komandan Skuadron 107 (Knights of the Orange Tail) yang mengoperasikan pesawat F-16I Sufa.

Formasi penerbangan F-15i  pertama juga telah diterbangkan dan segera melakukan serangan kejutan ke pasukan Quds dengan serangan udara jauh di dalam wilayah Suriah.

rekaman serangan /iAF

Orang-orang Iran, yang sudah menyadari apa yang akan terjadi, mulai menembak ke arah pesawat. “Beberapa pesawat melakukan manuver mengelak, beberapa terbang di ketinggian yang lebih rendah. Presisi dan konsentrasi sangat penting – kesalahan kecil bisa membuat Anda terkena. Itu adalah malam yang luar biasa. Ubu adalah pertama kalinya kami pernah melihat sesuatu seperti ini “.

Divisi Pertahanan Udara Israel sangat menyadari bahwa ancaman baru meningkat di teater utara. Batalyon Iron Dome yang terletak di teater utara yang telah ada enam bulan sebelumnya sudah diminta untuk mengambil bagian dalam salah operasi terbesar di wilayah tersebut.

“Kami terus belajar tentang musuh dan kemampuan sistem kami,” kata Letnan Kolonel Amos Jerbi, komandan batalion itu.

“Tonight is Night ” adalah ekspresi umum di antara para personel pencegat malam itu. “Kami memulai shift kami setiap malam dan siap untuk melawan gangguan keamanan”, kata Letnan Kolonel Jerbi.

rekaman serangan /iAF

“Para prajurit sedang bersiap siaga. Suatu malam, sistem melaporkan temuan baru. Hanya dalam beberapa detik, kami melihat serangan misil besar-besaran menuju ke Gunung Hermon. Itulah saat saya berkata: ‘Saatnya bergerak’. Itulah saat bagi kami untuk menerapkan semua yang kami latih selama sebulan terakhir “.

Saat yang dramatis itu adalah awal dari malam pertempuran terbesar di teater utara yang dilihat oleh IAF dalam 44 tahun. “Kami menanggapi dan mereka menyerang kami. Kami menghadapi banyak sasaran, termasuk SAM yang diadang oleh sistem ‘Iron Dome,” kata Letnan Kolonel Jerbi.

Letnan Kolonel M ‘, Komandan Skuadron 107 (Knights of the Orange Tail) juga menuturkan kisahnya. “Saya naik ke tempat tidur sekitar pukul 12 malam ketika saya ditelepon dan diberitahu bahwa saya harus kembali ke skuadron,” kenangnya.

“Ketika saya tiba saya menyadari bahwa rudal telah diluncurkan menuju wilayah Israel,” katanya. Dia menambahkan pada saat itu, lusinan jet tempur sudah mulai membelah menjadi formasi sebagai persiapan untuk tinggal landas. Semakin banyak formasi penerbangan yang diluncurkan untuk menyerang target jauh di wilayah Suriah.

rekaman serangan /iAF

“Itu bukan hanya ‘operasi’, itu adalah hari pertempuran yang sebenarnya. Ada ratusan anggota dinas intelijen yang bertugas. Para petugas intelijen tiba dan kami mulai merencanakan target untuk serangan yang akan datang”, kata Mayor D, Kepala Departemen Decoding dan Wakil Komandan Satuan Intelijen Visual.

Ini adalah bagaimana IAF memulai serangannya pada baterai dan target SAM jauh di dalam wilayah Suriah. Baterai SAM canggih  SA-17 dan SA-22 yang tiba di teater utara dalam dekade terakhir.

Target yang diserang oleh IAF dipilih dari kumpulan target. Tahap pertama dari proses ini adalah memetakan target dan memahami nilai masing-masing. Tahap kedua adalah membedakan antara target yang ditetapkan sebagai bagian dari operasi, dan target responsif seperti baterai SAM. “Saya sudah di IAF selama 18 tahun dan saya tidak dapat mengingat peristiwa sebesar ini”, tekan Mayor D.

Facebook Comments