For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Cinta Terlarang Menjadi Awal Mataram Tunduk di Bawah Belanda

Sisa-sisa Kraton Mataram di Kotagede Yogyakarta / Informasi Budaya Jawa

Mataram Islam yang didirikan Panembahan Senopati dan masih memiliki garis penerus dari Demak dikenal sebagai kekuatan yang gigih melawan kekuatan asing, dalam hal ini VOC. Tetapi pada akhirnya kerajaan itupun tunduk dan tidak berdaya menuruti semua keinginan VOC. Bagaimana hal itu terjadi.

Mataram Islam mencapai puncak keemasan pada masa pemerintahan Sultan Agung Hanyokrokusumo (‎1593‎ – ‎1645) dan mulai memerintah tahun 1613.

Pada tahun 1614 VOC (yang saat itu masih bermarkas di Ambon) mengirim duta untuk mengajak Sultan Agung bekerja sama namun ditolak mentah-mentah. Pada tahun 1618 Mataram dilanda gagal panen akibat perang yang berlarut-larut melawan Surabaya. Meskipun demikian, Sultan Agung tetap menolak bekerja sama dengan VOC.

Seluruh Pulau Jawa akhirnya berada dalam kekuasaan Kesultanan Mataram, kecuali Batavia yang masih diduduki militer VOC. Hingga pada 1628 dan 1629 Sultan Agung menyerang VOC tetapi semuanya gagal. Setelah wafat, Sultan Agung digantikan putranya yang kemudian bergelar Amangkurat I yang berkuasa 1646‎ – ‎1677.

Pada masa pemerintahan Amangkurat I, yakni pada tahun 1669 sejarah besar terjadi di Kerajaan Gowa. Setelah melalui perjuangan yang berat, upaya Pangeran Hasanudin untuk membendung kekuasaan VOC di Goa (Makassar) pun berakhir. Melalui Perjanjian Bongaya, Hindia Belanda akhirnya menguasai wilayah tersebut dan melakukan monopoli perdagangan.

Karaeng Galesong, salah satu putra Pangeran Hasanudin tidak sudi tunduk. Dia memilih untuk meninggalkan negeri yang dicintainya dan berlayar ke Jawa. Dia akhirnya mendarat di Madura yang saat itu di bawah kekuasaan Mataram Islam. Trunojoyo, Bupati Madura saat itu menerima baik kedatangan Karaeng Galengsong dengan sisa-sisa pasukan Gowa. Bahkan pangeran dari Makassar itupun dijadikan menantunya.

Di pusat kerajaan Mataram yang dipindah dari Kotagede ke Pleret (Bantul) muncul masalah serius. Adipati Anom, putra Amangkurat I sedang memendam marah pada ayahnya. Putra Mahkota ini dipaksa membunuh wanita yang dia cintai oleh ayahnya. Roro Oyi, gadis yang diambil dari Surabaya sejak kecil itu memang rencananya akan dinikahi oleh Amangkurat I, tetapi justru menjalin cinta dengan Adipati Anom.

Amangkurat I pun murka dan mengancam jika tidak mau membunuh Roro Oyi maka gelar Putra Mahkota akan dicabut. Dengan berat hati, Roro Oyi dan keluarga yang mengasuhnya dibantai. Makam Roro Oyi masih terjaga dengan baik di wilayah Banyusumurup, Girirejo, Imogiri.

Adipati Anom yang menyimpan marah kemudian berniat melakukan kudeta. Maka dia pun melakukan kontak dengan Trunojoyo untuk membantu usahanya tersebut. Trunojoyo yang memang sudah lama tidak suka berada di bawah Mataram pun menyanggupinya. Karaeng Galengsong dan pasukannya juga siap membantu. Orang-orang Gowa ini juga menaruh dendam pada Amangkurat I karena pernah menghina Raja Hasanudin.

Trunojoyo mulai memberontak. Di luar dugaan, kekuatannya semakin besar. Banyak daerah yang bergabung dengan Trunojoyo. Adipati Anom justru panik hingga akhirnya berubah sikap dan kembali membela ayahandanya.

Tetapi pasukan Trunojoyo sudah mengepung Kraton Pleret memaksa Amangkurat I melarikan diri ke arah barat. Kraton Pleret pun dihancurkan. Dalam pelariannya Amangkurat I kemudian meninggal di Tegal Arum, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah dan dimakamkan di tempat tersebut. Adipati Anom pun diangkat menjadi Amangkurat II di tengah pelarian.

Tidak ada cara lain. Untuk bisa mengalahkan Trunojoyo dan pasukannya, dia harus meminta bantuan VOC di Batavia serta membangun kraton baru yang kemudian daerah Kartasura yang dipilih. VOC menyanggupinya dengan syarat, biaya perang ditanggung Amangkurat II. Mau tidak mau syarat itu diterima. Hanya karena tidak punya uang, maka dia meminjam kepada VOC. Lagi-lagi permintaan itu disanggupi termasuk meminjamkan uang untuk membangun kraton baru. Syaratnya, sampai utang itu lunas, maka seluruh pelabuhan di pesisir utara Jawa yang ada di bawah kekuasaan Mataram harus diserahkan ke VOC.

Dengan bantuan VOC, Amangkurat II berhasil mendesak Trunoyojo dan Karaeng Galengsong. Trunojoyo dan Karaeng Galesong sebenarnya memiliki wilayah pertahanan di Kediri dan Bangil. Namun mereka terus tertekan hingga akhirnya terdesak sampai wilayah Blitar kemudian ke Malang. Di wilayah Ngantang Malang keduanya membangun benteng pertahanan terakhir di daerah Ngantang Malang. Di tempat inilah Trunojoyo dan Karaeng Galengsong gugur dan dimakamkan.

Perjanjian antara Amangkurat I dengan VOC menjadi titik penting perubahan drastis sikap Mataram terhadap kekuatan asing. Pengaruh asing telah membuat Mataram terpecah menjadi beberapa kerajaan.  Pemberontakan Pangeran Mangkubumi berakhir dengan perjanjian Giyanti, yang memecah Mataram Islam dibagi menjadi dua yakni Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang didirikan Mangkubumi dan selanjutnya bergelar Hamengkubuwono I. Dalam perjalanannya kemudian muncul Kadipatan Puro Pakualaman.

Sedangkan pemberontakan Pangeran Sambernyawa melahirkan perjanian Salatiga yang mengurangi wilayah Kasunanan Surakarta untuk diberikan kepada dia dan kemudian menjadi Mangkunegaran.

Semua pengangkatan raja di kerajaan-kerajaan ini harus mendapat persetujuan Hindia Belanda. Bahkan untuk Kasultanan Ngayogyakarta,  Sri Sultan Hamengkubuwono X menjadi satu-satunya raja yang diangkat tanpa persetujuan Belanda.

Dendam antara anak dan ayah karena cinta terlarang menjadi salah satu pendorong sejarah besar ini terjadi.

Berbagai sumber

Facebook Comments