For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Pembangunan Kapal Selam Taiwan Jalan di Tempat

Dua kapal selam Taiwan / Asia Times

Taiwan mengalami kesulitan untuk bergerak maju dalam program Indigenous Defense Submarine (IDS), yang bertujuan untuk membangun delapan kapal selam diesel-listrik untuk menggantikan empat kapal tua mereka.

Taiwan atau Taipei perlu meningkatkan penghindaran asimetrisnya untuk melawan kemungkinan invasi dari China daratan. Tentara Pembebasan Rakyat Rakyat Cina secara rutin mengitari Taiwan, yang oleh penguasa Komunis di Beijing dipandang sebagai provinsi pemberontak. Baru-baru ini, dua kapal perang China bergerak ke arah selatan di lepas pantai timur pulau itu.

“Kami menghadapi masa-masa sulit dalam memperoleh komponen yang cocok dan tersedia untuk kapal selam,” kata seorang pejabat senior pertahanan Taiwan, berbicara dengan syarat anonym kepada Asia Times.

Seorang perwira senior angkatan laut lain membenarkan hal tersebut dengan menyoroti fakta bahwa negaranya telah mencoba mendapatkan pasokan dari pembuat kapal di Amerika Serikat dan Eropa dalam empat hingga lima tahun terakhir.

Versi Senat Amerika dari Undang-Undang Otorisasi Pertahanan Nasional untuk 2019 menyerukan kepada Washington untuk mendukung pembelian senjata pertahanan Taiwan untuk peperangan asimetris dan peperangan bawah laut.

Sesuai dengan Undang-Undang Hubungan Taiwan tahun 1979, yang mendefinisikan kembali hubungan Amerika dengan Taipei setelah pemerintahan Presiden Jimmy Carter telah mengalihkan pengakuan diplomatik kepada China, pemerintah Amerika harus menyediakan pertahanan pulau itu.

Masalahnya adalah bahwa Angkatan Laut Amerika saat ini hanya menggunakan kapal selam bertenaga nuklir dan Pentagon tidak mendukung platform konvensional. Akibatnya, Taiwan harus fokus pada model Eropa dan Jepang.

Angkatan laut Eropa memiliki serangkaian kapal yang mampu seperti Type 214 dan Tipe 218SG Jerman, Kelas Baracuda dan kelas Scorpene Prancis, kelas Gotland Swedia, kelas Todaro Italia, dan kelas Walrus di Belanda.  Sementara Jepang dapat menawarkan kapal selam kelas Soryu canggih.

Kontraktor Belanda, RH Marine, baru-baru ini setuju untuk membantu Taipei mereparasi dua kapal selam Zwaardvis yang sudah ketinggalan zama. Masalah ini sensitif untuk Eropa, yang sejauh ini tidak mau mendukung program pertahanan Taiwan karena khawatir dapat merusak hubungan dengan China. Pembuat kapal besar dan beberapa pembuat komponen untuk kapal selam di Eropa menolak mengomentari masalah ini.

Perwira angkatan laut Taiwan mengatakan kapal selam Jepang juga merupakan pilihan yang baik untuk proyek IDS, karena kebijakan ekspor senjata Tokyo “dapat memberikan Taipei kesempatan untuk memperoleh desain dan teknologi ‘zona merah’.”

Namun dia mengakui pemerintah Jepang akan selalu menjadikan reaksi Beijing menjadi pertimbangan, jadi “tidak akan ada lampu hijau [dari Tokyo] tanpa pemerintah Amerika memberikan dukungan yang lebih kuat.”

Selain dari mesin diesel-listrik, Taiwan juga mencari teknologi Air Propulsion Independent (AIP), yang meningkatkan kemampuan kapal selam  dalam menyelam dan desain lambung untuk memproduksi kapal selam baru.

Dilaporkan bahwa Taipei dapat membeli sistem tempur Amerika untuk kapal masa depannya. Pada bulan April, Departemen Luar Negeri Amerika mengesahkan penjualan komponen kapal selam ke pulau itu oleh pabrikan Amerika.

Menurut Lyle Goldstein, seorang profesor penelitian di US Naval War College: “Taiwan tidak memiliki pilihan yang benar-benar baik di masalah ini karena mencampurkan sistem kompleks dari berbagai negara akan menjadi resep bencana.”

Selain itu, dia berpikir sebagian besar negara Eropa  akan tidak ingin dikaitkan dengan proyek tersebut. Hal yang sama berlaku untuk Jepang dan Korea Selatan.

Laksamana Chen, yang sekarang menjadi anggota dewan lembaga penelitian pertahanan utama pulau itu, mengatakan kepada Taiwan Central News Agency pada Mei bahwa negaranya memiliki ” peluang jendela ” antara 2020 dan 2035 untuk meningkatkan kemampuan militernya sebelum pasukan pertahanan China akan menjadi sepenuhnya dimodernisasi.

Tetapi bagi Goldstein Taiwan sangat tertinggal jauh di dalam dunia peperangan bawah laut hingga akan sangat sulit melawan China.

Selain itu, membangun kekuatan kapal selam dari awal membutuhkan biaya yang sangat besar. “Taipei kemungkinan akan membelanjakan uang yang sama dengan cara yang bijaksana dengan berinvestasi dalam perang ranjau defensif atau rudal anti-kapal.”

Facebook Comments