Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk mengirimkan kapal perang mereka untuk berlayar melalui Selat Taiwan. Sebuah langkah yang dapat memancing reaksi tajam dari Beijing di tengah hubungan China-Amerikaberada di bawah tekanan akibat sengketa perdagangan dan krisis nuklir Korea Utara.
Kapal perang Amerika yang berlyar di Taiwan dapat dilihat sebagai tanda dukungan baru Presiden Donald Trump setelah serangkaian latihan militer China di sekitar pulau yang memiliki pemerintahan sendiri tersebut. China di sisi lain tetap mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya.
Rencana ini juga muncul setelah hubungan kedua negara yang terus memanas terkait Laut China Selatan. Baru-baru ini Amerika mengirimkan kapal perang mereka berlayar di wilayah konflik tersebut setelah China mendaratkan bomber berat mereka di pulau yang mereka bangun.
Para pejabat Amerika mengatakan kepada Reuters Selasa 5 Juni 2018 bahwa Amerika Serikat sebenarnya telah memiliki rencana untuk mengirimkan kapal induk satu kali tahun ini, tetapi pada akhirnya rencana itu tidak dijalankan, karena kekhawatiran tentang mengganggu hubungan dengan China.
Terakhir kali kapal induk Amerika melakukan transit di Selat Taiwan pada tahun 2007, selama pemerintahan George W. Bush, dan beberapa pejabat militer amerika percaya bahwa transit kapal induk sekarang ini sudah terlalu terlambat.
Pilihan lain yang kurang provokatif adalah melanjutkan rencana dengan mengirimkan kapal perang melalui Selat Taiwan. Misi semacam ini terakhir dilakukan pada bulan Juli 2017.
Pentagon menolak mengomentari setiap operasi potensial di masa depan dan tidak jelas seberapa cepat rencana itu akan direalisasikan.
Berbicara di Beijing, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Hua Chunying mendesak Amerika Serikat untuk secara hati-hati menangani masalah Taiwan agar tidak merusak hubungan bilateral dan perdamaian serta stabilitas di wilayah Selat Taiwan.
“Kami telah berulang kali menekankan bahwa masalah Taiwan adalah masalah inti yang paling penting sensitif dalam hubungan China-AS,” katanya Selasa.
Trump, yang melanggar protokol sebagai presiden terpilih dengan menerima panggilan telepon dari presiden Taiwan pada tahun 2016, telah melunakkan retorikanya tentang Taiwan dalam beberapa bulan terakhir saat ia mencari bantuan China dalam kebuntuan nuklir dengan Korea Utara.
Amerika Serikat dan China juga sedang berusaha mencari jalan keluar dari sengketa perdagangan yang terjadi akhir-akhir ini.
China telah mengkhawatirkan Taiwan dengan meningkatkan latihan militer tahun ini, termasuk menerbangkan pembom dan pesawat militer lainnya di sekitar pulau itu dan mengirim kapal induknya melalui Selat Taiwan yang memisahkannya kedua wilayah.
“Mereka menyalakan api,” kata seorang pejabat Amerika berbicara dengan syarat anonimitas kepada Reuters menggambarkan pandangan Amerika tentang kegiatan China di sekitar Taiwan.
Sejak menjabat, Trump juga telah menyetujui penjualan senjata senilai US$1,4 miliar ke Taiwan dan membuat marah Beijing dengan menandatangani undang-undang yang mendorong kunjungan pejabat senior Amerika ke Taiwan.

