Yang Lain Mengutuk Pembantaian Warga Palestina, Amerika Tetap Bela Israel

Business Insider/Reuters

Sejumlah negara mengutuk pembantaian warga Palestina dalam aksi yang digelar Senin 14 Mei 2018 dan mengakibatkan 55 orang tewas ditembak tentara Israel. Namun Amerika tetap membela sekutu abadinya tersebut.

Gedung Putih dalam pernyataanya Senin mengatakan tanggung jawab atas tewasnya banyak orang ini ada pada Hamas yang telah dibunuh oleh pasukan Israel di tengah demonstrasi menentang kedutaan AS baru di Yerusalem.

Wakil sekretaris pers Gedung Putih, Raj Shah mengatakan pemerintahan Trump mendukung “hak membela diri” Israel.

Ketika ditekan lebih lanjut dan bertanya apakah ada tanggung jawab ada di pihak Israel, yang telah menembakkan amunisi mematikan ke demonstran Palestina, Shah menyalahkan “eksploitasi sinis” Hamas atas situasi tersebut. “Kami percaya Hamas memikul tanggung jawab. Ini adalah upaya propaganda, ”kata Shah.

Sementara sejumlah negara lain mengutuk tindakkan Israel. Saudi mengutuk keras pembantaian orang Palestina yang tak bersenjata oleh pasukan keamanan Israel pada Senin 14 Mei 2018.  Kecamanan juga dikeluarkan banyak negara.

Kementerian Urusan Luar Negeri Arab Saudi di dalam satu pernyataan menyampaikan dukungannya buat rakyat Palestina untuk melaksanakan hak sah mereka sejalan dengan resolusi internasional dan Gagasan Perdamaian Arab, kata Saudi Press Agency.

Kementerian tersebut juga menyerukan dihentikannya bentrokan antara rakyat Palestina dan tentara Israel.

Pembunuhan itu dilakukan Israel pada Senin, sebagai “reaksi atas protes massal Palestina” terhadap pemindahan Kedutaan Besar Amerika

Pada Desember lalu, Presiden Amerika Donald Trump mengumumkan pengakuannya atas Jerusalem sebagai Ibu Kota Israel, dan memerintahkan pemindahan Kedutaan Besar di Israel ke kota suci yang menjadi sengketa tersebut.

Pada Senin Kuwait News Agency melaporkan Kuwait mengatakan pembantaian kejam Israel terhadap rakyat Palestina melanggar hukum hak asasi manusia internasional.

Dalam satu pertemuan yang dipimpin oleh Perdana Menteri Sheikh Jaber Mubarak Al-Hamad As-Sabah, Pemerintah Kuwait menyeru Dewan Keamanan PBB agar mensahkan tindakan mendesak guna melindungai warga sipil Palestina terhadap kekerasan oleh Israel.

Pemerintah Kuwait juga menyampaikan keprihatinan yang mendalam mengenai penggunaan kekuatan secara berlebihan oleh tentara Israel terhadap rakyat Palestina yang memprotes pembukaan Kedutaan Besar AS ke kota suci yang menjadi sengketa, Jerusalem.

Pada Senin, bentrokan baru meletus sehubungan dengan peresmian pemindahan Jedytaab Besar AS ke Jerusalam, tempat 55 orang Palestina  tewas oleh pasukan keamanan Israel, kata Kementerian Kesehatan Palestina.

Kabinet Jordania pada Senin (14/5) dengan keras mengutuk peningkatan serius agresi Israel terhadap jalur Gaza, demikian laporan kantor berita resmi Jordania, Petra.

Pengutukan itu dikeluarkan saat bentrokan berkecamuk di daerah kantung pantai antara pemroter Palestina dan personel pasukan keamanan perbatasan Israel, sehingga menewaskan 55 orang dan melukai lebih dari 2.000 orang lagi.

Dewan tersebut menyatakan penggunaan kekuatan secara berlebihan oleh Israel terhadap warga sipil yang tak memiliki pertahanan di Jalur Gaza adalah pelanggaran nyata hak politik dan kemanusiaan, serta hukum mereka.

Kabinet Jordania juga mengecam pemindaah Kedutaan Besar AS di Israel dari Tel Aviv ke Jerusalem, dan berjanji akan melanjutkan upayanya untuk mencegah akibat dari keputusan semacam itu.

Menteri Negara Jordania Urusan Media Mohammad Momani mengatakan Israel mesti bertanggung-jawab atas pembunuhan warga sipil Palestina di Jalur Gaza.

“Israel, yang adalah kekuatan pendudukan, bertanggung-jawab atas kejahatan yang dilakukan di Jalur Gaza pada Senin,” kata Momani, sebagaimana dikutip kantor berita resmi Jordania, Petra.

Menteri tersebut mengutuk penggunaan kekuatan secara berlebihan oleh pasukan keamanan Israel terhadap rakyat Palestina, dan mengatakan tak-adanya penyelesaian masalah Palestina akan meningkatkan kerusuhan di wilayah itu.

Pemimpin utama Muslim Mesir juga mengecam langkah Washington memindahkan kedutaan besar Amerika Serikat ke Yerusalem dari Tel Aviv, dengan mengatakan bahwa itu memancing tanggapan keras 1,5 miliar Muslim di dunia.

Pembukaan itu bertepatan dengan peringatan 70 tahun pendirian Israel, yang disebut orang Palestina sebagai Nakba atau malapetaka.

Sheikh Ahmed al-Tayeb, Imam masjid al-Azhar Mesir, otoritas keagamaan tertinggi Mesir dan salah satu kampus paling terkemuka di dunia dalam pembelajaran Muslim Sunni mengatakan pemilihan waktu untuk pemindahan kedutaan besar Amerika menunjukkan preferensi terhadap logika arogansi dan kekuasaan dengan mengorbankan nilai keadilan, yang membuatnya jauh dari stabilitas dan perdamaian.

Dia mengatakan langkah tersebut menentang perasaan 1,5 miliar Muslim di seluruh dunia. Al-Tayeb menyeru warga dan lembaga sipil mengambil semua tindakan damai dan tindakan untuk mengungkapkan penolakan terhadap sikap negara yang memihak kelompok Zionis dengan mengorbankan hak Arab Palestina, demikian pernyataan itu.

Facebook Comments

Translate »