For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Amerika Pernah Bangun Monster Lapis Baja, Tapi Cuma Dua

Ketika Perang Dunia II, tidak ada yang menandingi Jerman soal membuat tank raksasa. Nazi memiliki raksasa lapis baja, seperti King Tiger seberat 70 ton, Maus 188 ton atau P.1000 yang tidak pernah ada, raksasa seribu ton.

Sementara  Soviet menurunkan resimen tank berat berat JS-2 56 ton. Di hadapan mereka M-4 Sherman Amerika yang memiliki berat 30 ton  benar-benar tampak lemah.

Karena berbagai alasan, seperti kemudahan produksi dan transportasi ke luar negeri, Amerika Serikat memang memilih untuk tidak membangun tank berat selama Perang Dunia II. Bahkan M-1 Abrams saat ini beratnya hanya 60-70 ton  jauh lebih ringan dari Maus.

Namun ternyata Amerika Serikat juga sempat membangun tank monster selama Perang Dunia II. Dia adala T28 yang memiliki bobot 95  ton dan menjadi tank terberat dalam sejarah Amerika.

Secara teknis, T28 sebenarnya bukanlah sebuah tank tetapi  self-propelled (juga dikenal sebagai assault gun). Alih-alih memasang senapan di menara berputar seperti di tank biasa, meriam  menempel di lambung depan, yang berarti hanya bisa menembak ke arah depan.

Hal ini menjadikan  T28 menjadi senjata tak biasa di gudang persenjataan Amerika. Dalam Perang Dunia II, armada lapis baja Amerika  terdiri dari tank dan tank destroyer  yang meroket (pada dasarnya tank dengan armor yang lebih sedikit dan senapan yang lebih kuat).

Bahkan M-3 Grant, kendaraan  tempur yang tidak berperikemanusiaan, memiliki meriam 37 milimeter untuk melengkapi meriam 75 milimeter yang terpasang di lambung.

Tentara Jerman dan Soviet juga memiliki   assault gun. Keunggulan dari Sturmgeschutz III serta Jagdpanther Jerman, atau Su-85 atau Su-100 Soviet, adalah  mereka lebih murah untuk diproduksi daripada tank karena menara adalah komponen  mahal,  sambil tetap mempertahankan  baju besi tebal dan senapan yang kuat. Melepaskan menara juga membuat mereka menjadi sasaran yang lebih kecil dan kurang terlihat.

Kelemahannya adalah bahwa tembakan senjata tetap hanya ke depan berarti bahwa untuk menyerang  target ke samping  atau belakang, seluruh kendaraan harus berputar ke arah itu, bukan hanya memutar menara. Dalam pertarungan mobile freewheeling melawan tank lain, ketidakfleksibelan itu bisa berakibat fatal.

Tapi digunakan sebagai penyergap dimana profil rendah mereka membuat mereka sulit dikenali, atau untuk memberikan dukungan tembakan  infanteri, mereka sangat efektif. Bagi tentara Sekutu yang harus menghadapinya, apakah mereka disebut tank atau senjata self-propelled tidak ada bedanya.

T28 berbeda dengan kendaraan Amerika lainnya karena dirancang untuk tugas khusus. Angkatan Darat Amerika  memiliki banyak tank serang  Sherman dan tank perusak. Yang tidak dimiliki adalah senjata untuk menembus benteng Jerman.

Perencana Amerika  sangat khawatir dengan Siegfried Line, rantai panjang kotak-kotak dan bunker yang menjaga perbatasan barat Jerman. Sebuah studi Departemen Ordnance tahun 1943 menyimpulkan bahwa sebuah kendaraan bersenjata dan lapis baja berat dibutuhkan untuk mengatasi pertahanan tersebut.

“Konsep asli yang diusulkan untuk memasang senapan baru 105mm T5EI di dalam tank yang setara dengan armor depan 8 inci menggunakan sistem penggerak listrik yang dikembangkan untuk tank berat T1E1 dan tank menengah T23,” kata  sejarawan tank RP Hunnicutt dalam bukunya ‘Firepower:  A History of the American Heavy Tank’.

“Senapan kecepatan tinggi T5E1 memiliki kinerja penetrasi yang sangat baik terhadap beton dan bila dipasang di sasis lapis baja berat diharapkan sangat efektif dalam menembus pertahanan kuat.”

NEXT: ARMOR TAK TERTANDINGI

Facebook Comments