For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Super Tucano, Untuk Sukses Pesawat Tak Harus Cepat, Manuver dan Mahal

Super Tucano

Pada 22 Maret 2018, untuk pertama kalinya pilot pesawat A-29 Super Tucano Angkatan Udara Afghanistan menjatuhkan bom dipandu laser GBU-58 ke sebuah kompleks Taliban di Provinsi Farah, Afghanistan. Pesawat menjatuhkan bom  seberat 250 pon dan menunjukkan kemampuan barunya.

Dalam dunia pesawat tempur, A-29 Super Tucano yang dibangun Sierra Nevada / Embraer memang tidak setenar jet-jet tempur berkemampuan tinggi semacam F-16, F-15, atau generasi Flanker.

Padahal pesawat ini telah terbukti memiliki ceruk pasar yang tinggi dan nilai manfaat yang sangat dibutuhkan di banyak negara.

Harganya yang relatif murah, menjadikan Super Tucano sebuah pilihan bagi negara-negara yang membutuhkan untuk menjaga negaranya dari pemberontakan dan kelompok bersenjata. Harus diingat, perang yang terjadi dalam beberapa dekade terakhir lebih banyak didominasi dengan kelompok bersenjata yang tidak diperkuat dengan sistem pertahanan udara modern.

Perang Afghanistan, perang melawan ISIS Irak dan Suriah, perang melawan kelompok bersenjata di Afrika menjadi contoh jelas bahwa lawan yang dihadapi tidak sebanding jika harus mengerahkan jet-jet tempur dengan kemampuan tinggi dan super mahal.

Super Tucano mengisi wilayah tersebut, dan Amerika pun mulai menyadari dengan membangun sebuah program guna mencari pesawat murah yang akan digunakan untuk perang semacam itu.

Super Tucano juga sudah terbukti sukses merebut pasar. Di saat jet-jet tempur canggih seperti Rafale, Eurofighter Typhoon, Gripen, hingga Su-35 sulit mendapatkan pembeli, A-29 justru telah berhasil menjual ratusan pesawat mereka dengan mulus.

Terakhir, Amerika membeli enam lagi pesawat tersebut untuk diberikan kepada Angkatan Udara Afghanistan untuk menambah 20 pesawat yang telah ada. Sebelumnya Lebanon juga mulai menerima pesawat serupa. Pada masa pemerintahan Obama, Amerika juga menyetujui penjualan hingga 12 pesawat serang ringan A-29 super Tucano ke Nigeria untuk membantu memerangi Boko Haram.

Sebuah A-29 Super Tucano terbang di atas White Sands Missile Range.

Super Tucano merupakan pesawat propeller-driven yang digunakan secara luas di Afrika, Amerika Latin dan beberapa tempat lain. Pesawat diproduksi oleh Embraer S.A. (EMBR3.SA), milik seorang konglomerat aerospace Brasil. Sebuah lini produksi kedua ada di Florida, Amerika dalam kemitraan antara Sierra Nevada Corp.

Lebih dari 200 Super Tucano dioperasikan oleh 10 negara. Pesawat ini digunakan untuk pelatihan dan keamanan, pengawasan, pengintaian dan misi kontra-pemberontakan.

Pesawat dapat membawa beragam persenjataan, termasuk amunisi presisi dipandu seperti bom Mk-81 dan Mk-82, serta bom GBU-12, GBU-58 dan serta senapan mesin kaliber 50. Pesawat juga dilengkapi dengan avionik canggih, komunikasi dan sensor dan dapat beroperasi dari landasan tak beraspal.

Pesawat menggunakan mesin Pratt & Whitney (UTX.N) PT 6 Kanada dan memiliki kecepatan maksimum 590 km per jam (367 mph) dan ketinggian terbang 35.000 kaki (6,6 mil).

Negara-negara lain yang menerbangkan pesawat ini adalah, Angola, Brazil, Burkina Faso, Cile, Kolombia, Republik Dominika, Ekuador, Indonesia, Lebanon dan Mauritania. Guatemala, Senegal, Ghana, Mali juga memesan pesawat ini.

Di Afghanistan sejumlah pesawat ini sudah masuk medan pertempuran sejak 2016 dan menunjukkan efektivitas tinggi serta belum ada satupun pesawat yang ditembak jatuh.  Kolombia juga telah menggunakan pesawat dalam perang panjang melawan pemberontak FARC.

A-29 Super Tucano

Harga Super Tucano relatif murah yakni sekitar US$10 juta dan harga bisa jauh lebih tinggi tergantung pada konfigurasi. Bandingkan dengan Su-35 misalnya yang harganya sekitar US$80 juta. Artinya dengan uang yang sama untuk membeli satu Su-35, sebuah negara bisa mendapatkan 8 Super Tucano. Jika Indonesia membeli 11 Su-35 maka uangnya bisa mendapatkan 88 A-29.

Tetapi lagi-lagi pesawat tempur kadang tidak sekadar dilihat dari fungsinya, tetapi juga dari elitisme dan simbol. Semakin canggih dan mahal jet tempur, kerap dikaitkan dengan kekuatan dan kegagahan sebuah negara.

Padahal banyak jet-jet tempur mahalnyang dimiliki berbagai negara sampai dengan pensiun tidak pernah sekalipun digunakan untuk perang. Kalaupun pernah kerap melawan kekuatan yang sebenarnya bisa ditangani oleh pesawat yang lebih murah.

Facebook Comments