For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Penembakan Florida dan Kutukan Darah AR-15 Yang Belum Juga Selesai

Seorang wanita membawa senjata AR-15

Nikolas Cruz yang menewaskan sedikitnya 17 orang dalam penembakan brutal di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida Rabu 14 Februari 2018 disebut menggunakan   AR-15. Lagi-lagi senjata ini menunjukkan kutukan haus darah yang tidak pernah selesai.

Kelahiran AR-15 tidak bisa dilepaskan dari senapan serbu legendaris AK-47 Soviet. Sejarah kemudian mencatat keduanya menjadi senjata paling membunuh di dunia.

Bukan kali ini saja AR-15 digunakan penembak tunggal untuk membantai korbannya. Senjata ini telah digunakan dalam beberapa penembakan massal  termasuk Aurora, Colorado; Newtown, Connecticut; San Bernardino, California; Sutherland Springs, Texas; dan Las Vegas, di mana total 137 orang terbunuh.

Jumlah itu belum termasuk penembakan brutal oleh  Stephen Craig Paddock di Las Vegas Oktober 2017 lalu yang menewaskan lebih dari 50 orang dan melukai setidaknya 400 orang. Dalam aksi ini Paddock juga menggunakan salah satunya AR-15.

AR-15 lahir ketika Amerika menghadapi kenyataan senjata mereka M-14 tidak mampu menandingi AK-47 di medan perang Vietnam. Hal ini memacu Robert S. McNamara, Menteri Pertahanan saat itu, untuk mendorong Pentagon memproduksi cepat senapan serbu baru Amerika, AR-15, yang kemudian dikenal sebagai M-16.

Tetapi AR-15 sendiri sebnarnya dikembangkan pada akhir 1950-an sebagai senjata sipil oleh Eugene Stoner, mantan Marinir yang bekerja untuk startup kecil California yang disebut ArmaLite (dari situlah nama AR berasal).

di Marjory Stoneman Douglas High School di Parkland, Florida/AP

Senapan tersebut revolusioner karena bobotnya yang ringan, perawatan yang mudah dan kemampuan beradaptasi dengan komponen tambahan. Pada pertengahan 1960an, Colt membeli paten tersebut dan mengembangkan versi api otomatis untuk pasukan di Vietnam, yang disebut M-16. Model sipil tidak diproduksi massal sampai tahun 1980an

M-16 dibawa bergegas dan sempat menjadi bencana dalam Perang Vietnam. Tapi kekurangan itu segera bisa ditutupi hingga tetap dipertahankan di gudang senjata Amerika. Dari sana, NATO melakukan standardisasi pertahanan dan meminta negara Eropa membangun senapan serbu mereka sendiri untuk kemudian disebarkan ke seluruh dunia non-komunis.

Pada 1980-an dua senjata AK-47 dan AR-15 dengan berbagai keturunannya adalah sepasang kekuatan global yang menakutkan.

Pada 1980-an dan 1990-an, komunisme mengalami kegagalan, ekonomi pasar menyambut barang tua Stalin. Pemerintah baru membongkar stok besar merka dan melanjutkan membanjiri dunia.

Di antara penggerak utama Kalashnikov adalah Pentagon, yang membeli mereka dengan jumlah ribuan bagi pasukan proksi di Afghanistan dan Irak. Pentagon juga membagikan puluhan ribu M-16 dan M-4 karabin yang didasarkan pada desain AR-15, dengan kekuatan yang sama.

Banyak dari pasukan ini gagal, yang membawa senapan mereka ke pasar atau direbut musuh, membuat semakin banyak senjata yang tidak bisa dikontrol keberadaannya.

Hari ini varian Kalashnikov dan AR-15 tetap senjata yang paling sering terlihat di medan perang modern. Mereka adalah senjata pokok dari pemberontakan dan terorisme dan rutin digunakan dalam penembakan massal.

AR-15 mampu menimbulkan kerusakan lebih parah pada jaringan manusia daripada senapan lain yang banyak digunakan pada penembakan massal. Hal ini terutama karena kecepatan proyektil yang lebih tinggi dibanding senapan di kelasnya dan memberikan pukulan yang lebih menghancurkan pada tulang dan organ tubuh. Proyektil juga lebih mungkin untuk pecah saat mereka melewati tubuh, menimbulkan lebih banyak kerusakan.

Pemerintah Amerika melakukan sedikit upaya untuk menghentikan penyebaran senjata kelas ini. Kisah kejahatan, teror dan penindasan dengan keturunan Kalashnikov dan AR-15, yang dialami oleh warga sipil di bawah hujan peluru entah kapan akan berakhir.

Facebook Comments