For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Asia Terkunci dalam Perlombaan Rudal

Hyunmoo III

Korea Selatan

Sebagai tanggapan atas ancaman rudal Korea Utara, Korea Selatan telah mengembangkan dua rencana kontingensi untuk mengatasi masalah tersebut. Pertama dikenal sebagai Korean Massive Punishment and Retaliation yang , dirancang untuk meluncurkan serangan rudal ke Korea Utara jika terjadi provokasi seperti serangan ke korvet Angkatan Laut Korea Selatan Cheonan pada 2010 yang menewaskan 46 pelaut, atau pemboman artileri 2010 di Pulau Yeongpyeong, yang membunuh empat warga Korea Selatan.

Hal ini juga dirancang untuk skala ke atas untuk melakukan serangan habis-habisan jika Korea Utara menyerang. Rencana kontingensi kedua, Kill Chain, melibatkan penargetan kepemimpinan Korea Utara jika berada di ambang peluncuran rudal nuklir, untuk mencegah agar perintah peluncuran dikeluarkan.

Korea Selatan saat ini memiliki tiga sistem rudal. Yang pertama, rudal jelajah yang diluncurkan oleh jet tempur F-15K dari Korea Selatan. Taurus buatan Jerman adalah rudal jelajah dengan kecepatan rendah, subsonik, presisi dipandu dengan kemampuan untuk menembus bunker beton yang keras.

Yang kedua juga merupakan rudal jelajah, rudal jelajah rudal Hyunmoo-3 yang dikembangkan secara lokal. Dua versi Hyunmoo-3 beroperasi yakni -3A dengan jarak 310 mil dan -3B, dengan jarak 620 mil. Versi ketiga, -3C, sedang dikembangkan dengan rentang 930 mil, angka yang membingungkan karena Korea Utara adalah satu-satunya musuh realistis negara tersebut dan jarak terjauh antara kedua negara hanya 664 mil.

Korea Selatan juga memiliki rudal balistik jarak pendek, Hyunmoo 2B, rudal bahan bakar padat, dua tahap, dengan jarak tempuh 497 mil. Jika terjadi perang dengan Korea Utara, Hyunmoo 2B akan melesat ke langit untuk menyasar tempat-tempat yang diperkirakan menjadi tempat perlindungan Kim Jong Un. Seoul dilaporkan mengembangkan versi peluncuran kapal selam Hyunmoo 2B namun saat ini tidak memiliki kapal selam untuk meluncurkannya.

JSM diuji dari F-16

Jepang

Jepang selama bertahun-tahun menghindari memiliki senjata ofensif seperti rudal jelajah. Baru-baru ini, pemerintah negara tersebut secara tegas menyatakan keinginannya untuk membeli dua rudal jelajah yakni Joint Strike Missile (JSM) yang dibangun Norwegia dan Amerika serta rudal udara ke permukaan Joint Air-to-Surface Standoff Missile-Extended Range (JASSM-ER) buatan Amerika.

Kedua rudal tersebut akan memberi Tokyo kemampuan untuk menyerang rudal Korea Utara di landasan peluncuran dan siap untuk menembak jika tidak ada opsi lain. Rudal tersebut diklaim sebagai sebagai rudal “ofensif-defensif” yang mampu melakukan serangan pre-emptive.

Joint Strike Missile yang dibangun Kongsberg dan Raytheon Naval Strike Missile dirancang agar sesuai dengan internal di teluk senjata F-35 Joint Strike Fighter, dimana Jepang telah meemsan 42 unit pesawat siluman ini. JASSM-ER juga akan dipasang ke pesawat tempur F-15J Eagle Jepang dan memiliki jangkauan 575 mil.

Facebook Comments

error: Content is protected !!