Jepang Tunda Pengembangan Jet Tempur Siluman F-3

ATD-X

Jepang dilaporkan akan menunda keputusan untuk mengembangkan jet tempur siluman sendiri karena perencana militer akan lebih fokus terlebih dahulu pada peralatan baru seperti pencegat rudal balistik dan pesawat siluman F-35.

Dihadapkan dengan ancaman militer yang meningkat dari Korea Utara dan meningkatnya aktivitas jet tempur China di atas Laut Cina Timur, Jepang mendapat tekanan untuk memperbaiki pertahanannya di dua front tersebut.

Empat sumber yang dikutip Reuters Senin 13 November 2017 menyebutkan penundaan pembangunan jet tempur baru yang dikenal sebagai F-3, akan menimbulkan tanda tanya mengenai masa depan salah satu kontrak militer paling besar di dunia yang diperkirakan mencapai lebih dari US$ 40 miliar atau sekitar Rp542 triliun untuk pengembangan dan pembangunan jet tempur tersebut.

“Arahnya adalah keputusan F-3 untuk ditunda,” kata salah satu sumber yang memiliki pengetahuan tentang diskusi tersebut. Orang-orang yang berbicara dengan Reuters meminta untuk tidak diidentifikasi karena mereka tidak berwenang untuk berbicara dengan media.

Mereka mengatakan keputusan tersebut, apakah akan terus maju sebagai program dalam negeri atau mencari kerja sama internasional, kemungkinan akan terjadi setelah 2018.

“Mengenai keputusan F-3, termasuk apakah kita akan menunda pilihan, kita belum sampai pada kesimpulan apapun,” kata juru bicara Kementerian Perekonomian dan Logistik Departemen Pertahanan.

Analis memperkirakan pengembangan F-3 bisa menghabiskan biaya US$ 40 miliar yang sebagian lain mengatakan jumlah itu baru sebagai biaya awal.

Dengan anggaran pertahanan sekitar US$ 50 miliar yang meningkat di bawah 1 persen setiap tahunnya besaran anggaran pengembangan tersebut memang akan cukup berat.

Terlebih saat ini Jepang menghabiskan uang dalam rekor tertinggi dalam untuk membeli peralatan militer Amerika  termasuk jet tempur generasi kelima F-35, rudal Raytheon dan pesawat komando yang dibangun Boeing Co dan Textron Inc.

Pada tahun 2013, Jepang membeli peralatan militer dari Amerika senilai 118 miliar yen (US$ 1 miliar). Pada tahun lalu, pengeluaran tersebut telah meningkat empat kali lipat menjadi 486 miliar yen.

Presiden Donald Trump di Tokyo pekan lalu meminta Perdana Menteri Shinzo Abe untuk membeli senjata buatan Amerika karena pemerintahannya mendorong sekutu Washington untuk berkontribusi lebih pada pertahanan bersama mereka.

Untuk saat ini, pertahanan tersebut difokuskan untuk melawan ancaman rudal balistik dan senjata nuklir Korea Utara.

Sementara pasukan pertahanan Jepang menginginkan F-3 untuk melawan kekuatan udara China yang terus tumbuh di langit  Pasifik barat dan Laut Cina Timur dimana Tokyo dan Beijing terkunci dalam sengketa teritorial. Pejuang Jepang mengacak rekor 806 kali  mencegat pesawat China di tahun yang berakhir 31 Maret lalu.

Mitsubishi Heavy, pada Januari 2016 telah menguji prototipe jet, ATD-X atau X-2 Shinshin yang dikembangkan dengan dana sebesar US$ 350 juta. Pesawat ini merupakan demonstrator untuk teknologi jet tempur siluman yang akan digunakan untuk membangun F-3.

Baca juga:

Lebih dekat dengan X-2 Shinshin, Siluman Demonstrator Jepang

Facebook Comments