Bintang hypervelocity atau kecepatan super tinggi secara misterius bermunculan dari lubang hitam dan melesat masuk ke galaksi Bima Sakti.
Menurut penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan Astronomi Nasional di Hull, Inggris, bintang hipervelocity melaju dengan kecepatan 300-700 kilometer per detik, yang berarti lebih cepat dari kecepatan gerak galaksi kita.
Sebagian besar dari miliaran bintang di galaksi, termasuk matahari kita, melakukan perjalanan dengan kecepatan rata-rata sekitar 800.000 kilometer, atau 500.000 mil, per jam. Tapi bintang ini bergerak tiga kali lebih cepat.
Bintang ini telah terdeteksi sejak 2005 dan sejauh ini ada 20 kasus yang dikonfirmasi. Kebanyakan dari mereka adalah bintang tipe B, yang berarti mereka lebih besar dari Matahari.
Telah terjadi perdebatan besar seputar asal usul bintang-bintang yang memisahkan diri ini. Beberapa ilmuwan percaya bahwa beberapa mungkin berasal dari pusat rotasi Bima Sakti, sementara yang lain percaya bahwa benda-benda asing yang masuk ke tata surya kita.
Sebuah makalah yang diterbitkan dalam Jurnal Bulanan Royal Astronomical Society pada bulan April 2017 membuat argumen bahwa semua bintang hipervelocity adalah benda asing.
Menurut penelitian, bintang super cepat ini adalah bagian dari sistem biner, dan dia berhasil lolos dari rumah asal mereka, atau dikenal dengan Magellanic Cloud (LMC), yang merupakan galaksi satelit tetangga.
Para ilmuwan di University of Cambridge melihat data dari Sloan Digital Sky Survey untuk membangun simulasi komputer dari bintang-bintang yang melarikan diri dari LMC ke Bima Sakti. Mereka meramalkan bahwa ada sekitar 10.000 bintang pelarian yang tersebar di langit.
“Penjelasan sebelumnya untuk asal bintang hipervelocity tidak memuaskan saya,” kata Douglas Boubert, penulis utama makalah ini dan seorang mahasiswa PhD di University of Cambridge Institute of Astronomy Rabu 5 Juli 2017.
“Bintang hipervelocity kebanyakan ditemukan di rasi bintang Leo dan Sextans – kami bertanya-tanya mengapa begitu,” tambahnya.
Semakin dekat bintang-bintang berada pada sistem biner, semakin cepat mereka mengorbit satu sama lain, dan kemudian mereka bisa mencapai kecepatan cukup cepat untuk menjadi bintang hipervelocity.
A dwarf galaxy is firing super-fast stars at the Milky Way https://t.co/6a5ZVQ5UaJ
— Cambridge University (@Cambridge_Uni) July 5, 2017
Menurut para periset, bintang pelarian yang dimulai di Bima Sakti terlalu lambat untuk menjadi bintang hipervelocity karena bintang tipe B biru tidak mampu mengorbit cukup dekat dengan bintang pendamping mereka dalam sistem biner.
Namun, galaksi yang bergerak cepat seperti LMC bisa menimbulkan bintang cepat, sehingga yang tercepat akan bisa lolos dari tarikan galaksi.
“Bintang-bintang ini baru saja melompat dari kereta ekspres – tidak heran mereka cepat, ini juga menjelaskan posisi mereka di langit, karena pergerakan tercepat dikeluarkan sepanjang orbit LMC menuju rasi bintang Leo dan Sextans,” kata Rob. Izzard, co penulis makalah ini dan peneliti Rutherford di University of Cambridge Institute of Astronomy.
“Kami akan segera tahu apakah kami benar. Satelit Gaia European Space Agency akan melaporkan data miliaran bintang tahun depan, dan seharusnya ada jejak bintang hipervelocity di langit antara rasi bintang Leo dan Sextans di Utara dan LMC di Selatan,” tambahnya.
Baca juga:
Black Knight: 62 Tahun Terdeteksi Mengorbit Bumi, Benda ini Tetap Misterius

