For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

F-16 Pernah Kebingungan dan Putus Asa di Perang Afghanistan

Ketika Perang Afghanistan dimulai pada 2001, Angkatan Udara Amerika merasa sudah siap sepenuhnya untuk melawan Taliban di medan kasar dan berat.

Namun ketika sampai ke lapangan, semua menjadi berubah. Jet-jet tempur mereka khususnya F-16 sempat kebingungan untuk mencari dan membidik target.

Secara khusus, jet tempur Angkatan Udara memang dirancang untuk bertempur melawan jet-jet buatan Rusia. Akibatnya, kemampuan untuk memindai target di darat menjadi kurang begitu mampu.

Beberapa F-16 pilot dari 389 Fighter Squadron yang berbasis di Idaho terpaksa melakukan improvisasi menggunakan peralatan yang ada sebenarnya tidak pernah direkomendasikan oleh para insinyur perang. Secara khusus, mereka memaksa rudal anti-tank menggunakan kamera pendeteksi panas.

“Pada akhir November 2001, F-16 pilot mulai melakukan misi ke Afghanistan dari pangkalan Al Udeid di Qatar dengan membawa rudal RUPS-65G Maverick yang menggunakan sensor infra red,” demikian ditulis dalam sejarah resmi Air Combat Command 2012.

AGM-65G seberat 675-pound dimaksudkan untuk menghancurkan tank Soviet yang banyak digunakan Taliban. Sensor akan mendeteksi panas mesin tangki dan memandu rudal untuk menghantam target.

Masalahnya hal itu hanya bisa dilakukan jika pilot bisa melihat target di layar kokpit mereka. Akhirnya, Maverick pun dimodifikasi dengan kamera. Menggunakan Maverick sebagai sensor adalah taktik yang sebenarnya juga dikembangkan A-10 sebelum perang Afghanistan.

Secara teori, rudal akan mendeteksi orang dan truk serta tank, dan membantu F-16 pilot menemukan pemberontak di sepanjang jalan berliku pegunungan Afghanistan. Sensor utama F-16 adalah radar multi-mode yang akan maksimal mendeteksi pesawat bergerak cepat.

Dalam prakteknya, Maverick tidak memiliki selalu maksimal juga meski menggunakan kamera. Ternyata tank mewakili target yang jauh lebih besar dan lebih panas daripada tempur Taliban atau truknya.

“Kami mencoba untuk menggunakan Mavericks sebagai sensor [untuk jalan pengintaian], tetapi mereka tidak bekerja dengan baik, seperti yang kita tahu,” kata seorang perwira F-16 sekaligus sejarawan Angkatan Udara. “Tidak ada cara untuk mengidentifikasi target dengan itu.”

Tetapi setidaknya Maverick bisa menemukan hot spot. Dengan kata lain, rudal bisa membantu mengarahkan pilot menuju daerah di mana gerilyawan mungkin berkonsentrasi. Tetapi tidak bisa memilih target tunggal.

Dengan kondisi ini Angkatan Udara dengan cepat melakukan penyesuaian dengan kondisi di Afghanistan dan, kemudian, Irak. Pentagon kemudian membeli ratusan sistem penargetan LITENING dan Sniper untuk pesawat Angkatan Udara, Angkatan Laut dan Korps Marinir. Pod sniper yang tetap digunakan saat ini,  berfungsi di siang dan malam karena memiliki kamera sensitif.

Selain itu juga ditambah laser untuk mengukur jarak dan membimbing amunisi.
Berbeda dengan sensor Maverick itu, pod penargetan modern yang dipasang ini dapat membedakan orang perorangan dan truk di tanah. Hari ini, peralatan tersebut menjadi standar pesawat tempur AS militer. F-35 pesawat tempur siluman paling canggih pun menggunakan teknologi ini.

Sumber: A War is boring

Facebook Comments