For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Mampukah Kapal Selam Diesel Listrik AIP Menyaingi Kapal Selam Nuklir

Kapal Selam Kelas Soryu Jepang

Salah satu kelemahan dari kapal selam konvensional atau diesel listrik adalah kemampuannya untuk menyelam dalam waktu yang lama. Saat di dalam air, kapal selam bergerak menggunakan tenaga listrik. Namun secara periodik  kapal selam harus ke permukaan untuk mengisi baterai yang digunakan untuk menyimpan daya. Pengisian menggunakan mesin diesel yang hanya bisa dilakukan di permukaan air.

Hal ini menjadikan kapal selam nuklir memiliki keunggulan besar dibandingkan dengan kapal selam diesel listrik.

Tetapi satu hal yang tidak boleh dilupakan saat ini teknologi Air Independent Propulsion (AIP) telah secara signifikan meningkatkan kemampuan kapal selam konvensional untuk menyelam dalam waktu lama.

Sebuah kapal selam yang muncul ke permukaan, terutama pada masa sekarang di mana teknologi mata-mata sangat tinggi, berarti dia bunuh diri karena akan terlacak dan kemudian diburu.

Kapal selam bertenaga nuklir pertama kali masuk layanan pada  tahun 1950-an. Reaktor nuklir lebih tenang dan, tidak mengkonsumsi udara serta  menghasilkan output daya yang lebih besar, yang memungkinkan kapal selam nuklir untuk tetap terendam selama berbulan-bulan saat bepergian pada kecepatan yang lebih tinggi di bawah air.

USS Virginia
USS Virginia

Keunggulan ini dipimpin Angkatan Laut Amerika  yang kemudian mempensiun semua kapal selam diesel listrik mereka untuk diganti dengan kapal selam nuklir.

Namun, sebagian besar angkatan laut Negara lain tetap mempertahankan  kapal selam diesel dengan sejumlah alasan, terutama biaya yang murah serta kompleksitas yang lebih sederhana.

Pada 1990-an, kapal selam didukung oleh teknologi Air Independent Propulsion (AIP) muncul dan masuk layanan. Meskipun konsep berawal dari  abad ke-19 dan telah diuji dalam beberapa prototype kapal selam, teknologi ini untuk pertama kali digunakan Swedia yang menggunakanya pada kapal selam Kelas Gotland. Inilah kapal selam pertama di dunia yang menggunakan AIP.

Kelas Gotlands dengan panjang 60 meter  didukung oleh mesin  siklus Stirling, mesin yanag mengkonsumsi kombinasi oksigen cair dan bahan bakar diesel.

Sejak itu, kapal selam AIP  telah menjamur di seluruh dunia menggunakan tiga jenis mesin. Sekitar 60 kapal selam dengan teknologi AIP sat ini beroprasi di 15 negara di seluruh dunia. Sekitar 50 kapal selam lain sedang dalam pesanan dan pembangunan.

China telah mengoperasikan 15 kapal selam dengan mesin   Stirling yang dikenal sebagai kapal selam Kelas Yuan (Type 039A). China juga berencana untuk membangun  20 kapal selam lagi serta  satu kapal selam yang lebih besar Type 032  yang dapat menembakkan rudal balistik.

Jepang  memiliki 8 kapal selam kelas Soryu  yang juga menggunakan mesin Stirling, dengan 15 lebih direncanakan untuk dibangun. Swedia,  telah mengembangkan 14 kapal selam berbagai jenis dengan mesin  Stirling.

Jerman juga telah membangun puluhan kapal selam bertenaga AIP, terutama kapal selam kecil Type 212 dan 214, dan telah mengekspor mereka ke seluruh dunia. Kapal selam Jerman semua menggunakan sel bahan bakar elektro-katalitik, teknologi ini umumnya lebih efisien dan tenang daripada Stirling, meskipun juga lebih kompleks dan mahal.

Negara-negara lain yang berniat untuk membangun kapal selam bertenaga bahan bakar sel termasuk Spanyol (S-80), India (kelas Kalvari) dan Rusia (Kelas Lada).

Prancis telah merancang beberapa kapal selam menggunakan mesin  siklus turbin uap yang disebut MESMA. Tiga upgrade kapal selam kelas Agosta-90b dengan mesin MESMA melayani di Angkatan Laut Pakistan.

Pertanyaannya kemudian dengan teknologi AIP yang mampu merapatkan jeda kemampuan apakah kemudian mereka akan mampu melawan  kapal selam nuklir? Secara teknis, di luar kemampuan kru, kita akan membandingkan beberapa kemampuan keduanya.

Next: Stealth

Facebook Comments