For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Tak Ada Lagi Koordinasi di Suriah, Rusia Tutup Hotline dengan Pentagon

Kementerian Pertahanan Rusia telah menutup operasi hotline komunikasi dengan Pentagon mulai Sabtu 8 April 2017. Keputusan ini diambil menyusul serangan rudal Amerika Serikat ke lapangan udara militer Suriah pada Kamis 6 April 2017.

Dengan penutupan jalur komunikasi ini maka tidak aka nada lagi komunikasi kedua pihak yang disepakati untuk memastikan tidak ada insiden udara antara pesawat kedua pihak.

“Sekitar satu jam yang lalu, atase militer AS di Moskow dipanggil ke Kementerian Pertahanan untuk memberikan catatan resmi, yang mengatakan pihak Rusia pada 8 April mulai pukul 00.00 menangguhkan  ketaatan terhadap kewajibannya berdasarkan nota kesepahaman  pencegahan insiden dan memastikan keselamatan penerbangan dalam menjalankan operasi di Republik Arab Suriah,” kata Mayjen Igor Konashenkov, juru bicara resmi Kementerian Pertahanan  kepada wartawan sebagaimana dilaporkan Kantor Berita TASS.

Jenderal Konashenkov membantah laporan media Amerika yang mengklaim Rusia telah memutuskan untuk menjaga hotline tetap terbuka.

Dia mengatakan Departemen Pertahanan telah mengirimkan pemberitahuan resmi kepada Pentagon melalui saluran diplomatik militer.

Laporan tentang rencana kementerian untuk menangguhkan kesepakatan sudah muncul sejak Jumat sore. Pihak Rusia harus membuat langkah setelah Amerika melakukan  serangan dengan rudal Tomahawk di sebuah pangkalan udara Angkatan Udara Suriah di Shayrat.

Kesepakatan diambil pada bulan Oktober 2015 yang mewajibkan masing-masing pihak memberi tahu tentang serangan yang akan dilakukan. Hal ini untuk  mencegah insiden antara pesawat Rusia dan Amerika di langit Suriah.

Keputusan Rusia ini akan membawa risiko tinggi terjadi benturan kedua pesawat mengingat keduanya beroperasi di wilayah yang sama tetapi dengan target yang sering berbeda. Rusia mentargetkan pemberontak, sementara sebagian pemberontak itu didukung Amerika Serikat.

Facebook Comments