2016 Istimewa Bagi Palestina, 2017 Adalah Penentuan

palestina

Tahun 2016 disebut Sekretaris Eksekutif Faksi Fatah, Saeb Erekat, sebagai  tahun yang cukup istimewa bagi Palestina.  Pasalnya, terdapat sejumlah keputusan dunia internasional yang  berpihak pada kepentingan Palestina menuju kemerdekaannya.

Yang terakhir adalah, lahirnya resolusi Dewan Keamanan PBB nomor 2.334  di bulan Desember 2016 yang mengecam permukiman ilegal Zionis Israel.

Erekat juga mengatakan, seluruh rakyat Palestina menanti 2017 yang akan menjadi saksi berakhirnya pendudukan Israel di atas tanah Palestina.

Dalam wawancara dengan situs berita “Wafa Palestina,” Erekat menerangkan, bahwa dengan bergabungnya Palestina pada sejumlah kesepakatan internasional selama ini, cukup memberi dasar bagi PBB untuk memberi pengakuan kepada Palestina sebagai negara dengan status pemantau non-anggota di PBB pada tahun 2012.

Sampai hari ini, sambung Erekat, terdapat 138 negara yang mengakui eksistensi Palestina, di samping pengakuan beberapa parlemen di Eropa yang bersimpati dengan masalah Palestina. Persoalan Palestina menjadi pembahasan dan masuk ke dalam 16 keputusan yang dihasilkan oleh Sidang Umum PBB, belum lagi pada konferensi Gerakan Non-Blok dan keputusan-keputusan yang dihasilkan oleh Liga Arab.

Karena itu, Erekat berharap, pada 2017, persoalan Palestina akan menjadi prioritas perhatian bagi negara-negara Arab dan dunia internasional. Dengan harapan, agar perhatian serius ini berlanjut pada upaya serius untuk membangun negara Palestina yang merdeka dan mandiri.

Erekat meminta, dunia internasional agar memberi sanksi kepada Israel atas pelanggaran yang dilakukan terhadap Palestina, berupa blokade yang terus berlanjut di Jalur Gaza. Demikian pula perluasan permukiman yang masih gencar dilakukan Israel. Belum lagi kejahatan lain seperti penahanan atas warga Palestina -yang cenderung membabi buta.

Senada dengan Erekat, Penasehat Presiden Palestina, Husam Zomlot juga mengatakan, bahwa 2016 adalah babak pendahuluan sebelum memasuki babak penentuan atas  konflik  politik Palestina-Israel  di tahun 2017. “Kita berharap pada tahun 2017 merupakan tahun gembira bagi rakyat Palestina. Di mana benar-benar akan berakhir pendudukan Israel atas tanah Palestina,” ujar Zomlot seperti dilansir suarapalestina.id, hari ini.

Karena itu, menurut Zomlot, dipadang perlu untuk segera mengakhiri perselisihan internal Palestina. Hal itu harus ditandai dengan upaya setiap faksi perjuangan dalam tubuh Palestina untuk mengintropeksi diri atas sejumlah kesalahan yang mempengaruhi hubungan Palestina dengan dunia luar.

Terkait dengan rencana Konferensi Perdamaian yang akan digelar di Prancis, Zomlot menegaskan, bahwa keikutesertaan Palestina menunjukkan keseriusan untuk tercapainya perdamaian secara adil dan paripurna berdasarkan undang-undang internasional.

Baca juga:

Swedia Akui Palestina, Israel: Menyedihkan!

Facebook Comments