For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Apakah Korea Utara Harus Takut pada Pembom B-1B?

USAF

Kurang dari satu bulan setelah uji bom nuklir Korea Utara yang dilakukan pada 9 September 2016, Amerika mengirimkan pembom strategis Rockwell International B-1B Lancer di Osan Air Force Base di Korea Selatan. Maksudnya jelas, Pentagon ingin memberikan pesan kepada Kim Jong un untuk tidak main-main mengancam Korea Selatan karena Amerika akan berdiri membelanya.

“Ikatan antara Amerika Serikat dan Republik Korea (ROK) sangat dekat dan komitmen tidak akan terguncang oleh perilaku agresif Korea Utara,” kata Letnan Jenderal Thomas Bergeson, Komandan 7th Air Force Angkatan Udara AS.

“Apa yang kita tunjukkan hari ini adalah salah satu alat kita yang bisa menjadi pilihan untuk membela dan mempertahankan keamanan Semenanjung Korea dan kawasan sekitar. ”

Sepasang B-1B terbang dari Pangkalan Angkatan Udara Andersen di wilayah AS di Guam pada 21 September. Sebelumnya pada 13 September, sebuah B-1B terbang di atas semenanjung Korea, namun tidak mendarat.

“Semenanjung Korea menghadapi krisis keamanan akibat dari percobaan nuklir kelima Korea Utara bersama dengan peluncuran terus menerus dari SLBM dan rudal balistik meskipun ada kecaman masyarakat Internasional,” kata Letnan Jenderal Lee Wang-kuen, Komandan Operasional Angkatan Udara Republik Korea.

B-1A awalnya dirancang pada 1970-an sebagai bomber nuklir ketinggian tinggi yang mampu menembus kecepatan 2 Mach. Namun, Presiden Jimmy Carter membatalkan program itu pada tanggal 30 Juni 1977 dan mendukung program rudal jelajah udara (yang diluncurkan dari B-52), rudal balistik antarbenua dan apa yang akhirnya menjadi siluman bomber Northrop Grumman B-2 Spirit. Beralihnya ke B-2 karena menyadari B-1A tidak akan lagi bisa menembus sistem benteng pertahanan udara Soviet. Dibutuhkan pesawat siluman untuk melakukan tugas itu. Jika memaksakan pesawat konvensional itu berarti bunuh diri.

Presiden Ronald Reagan akhirnya menghidupkan kembali program Lancer pada 2 Oktober 1981. Bedanya B-1A diubah menjadi B-1B dengan misi yang berbeda. Bomber bagu dioptimalkan untuk penetrasi tingkat rendah.

Selain itu, pesawat ini dimodifikasi dengan intake udara mesin baru dan upgrade lainnya untuk mengurangi radar cross-section-nya. Pesawat B-1B yang dihasilkan tidak lagi memiliki kemampuan terbang 2 Mach tetapi hanya sekitar 1,2 Mach, tetapi pesawat harus memiliki kemampuan bertahan hidup yang jauh lebih baik.

Setelah Perang Dingin, Angkatan Udara menghapus kemampuan nuklir armada B-1B dan mengkonversi pesawat menjadi platform senjata konvensional. Pesawat ini telah tampil sangat baik dalam peran konvensional di atas Irak dan Afghanistan.

Editor pertahanan The National Interest, Dave Majumdar Kamis 22 September 2016 menulis selama bertahun-tahun, Angkatan Udara telah menambahkan sejumlah amunisi presisi-dipandu, data link dan sensor ke dalam bomber terhormat ini untuk tetap relevan di masa depan.

Angkatan Udara juga tengah melakukan upgrade pembom dengan avionik baru termasuk Northrop Grumman Scalable Agile Beam Radar,  Global Strike active electronically scanned array radar dan modifikasi lainnya.

Namun, meskipun B-1B upgrade akan tetap relevan untuk dekade yang akan datang, Lancer tidak dapat bertahan hidup di dalam wilayah udara sangat dipertahankan. Paling-paling, B-1B dapat beroperasi dalam lingkungan ancaman menengah.

Sebanyak 20 Armada pembom B-2 siluman saat ini menjadi satu-satunya pembom strategis di Angkatan Udara AS yang dapat menembus gelembung anti-akses / area denial yang diisi oleh sistem rudal permukaan ke udara buatan Rusia atau China seperti S -300V4, S-400 atau HQ-9.

Di masa depan, Angkatan Udara akan bergantung pada bomber baru Northrop Grumman B-21 Raider untuk memastikan bahwa mereka dapat mencapai target di seluruh dunia dalam wilayah udara bahkan paling berbahaya.

Raider tersebut diharapkan mulai beroperasi pada 2030. Angkatan Udara berharap untuk membeli minimal 100 Raider.

Meski demikian, B-1B yang dikirim ke Korea tetap harus menjadi sesuatu yang tidak bisa diremahkan oleh Kim Jong un. Bukan saja karena Pyongyang belum memiliki anti access /area denial yang tangguh, tetapi lebih dari itu.

Seperti yang dikatakan petinggi militer AS, B-1B hanya menjadi salah satu alat sementara di belakangnya persenjataan yang jauh lebih mampu tentu akan dikeluarkan dari gudang jika memang benar-benar terjadi konflik. Artinya, Pyongyang tetap harus berpikir ketika B-1B datang mendekat padanya bahwa dia berhadapan dengan kekuatan militer yang tidak bisa dianggap remeh.

Baca juga:

Seberapa Penting Area Denial dalam Perang?

Facebook Comments