EROPA TIMUR JATUH DALAM PROPAGANDA

Meskipun AS dan 28 anggota NATO yang berkumpul di perbatasan Rusia dan menggelar latihan perang besar-besaran serta memamekan kekuatan senjata, alasan yang digunakan adalah untuk menahan kebangkitan Rusia yang bersikeras memulihkan kemuliaan kekaisaran.
Jadi apa yang mengaduk hati dan pikiran Eropa Timur menjadi percaya bahwa Rusia telah menimbulkan ancaman eksistensial untuk mereka? Tidak ada yang lebih berbahaya daripada suara propaganda dan dentang nyaring uang.
Dalam upaya untuk mengindoktrinasi khalayak dengan ide tentang ‘agresi Rusia, media Barat menggunakan dua peristiwa sejarah. Yang pertama adalah konflik Rusia-Georgia tahun 2008 dalam perang lima hari yang dimulai pada tanggal 7 Agustus ketika pasukan Georgia membuka serangan militer di pada Tskhinval, ibukota Ossetia Selatan.
“Meskipun kala itu ada serangan yang membunuh belasan penjaga perdamaian Rusia dan ratusan warga sipil. Namun media Barat menggambarkan Rusia sebagai agresor dan Georgia menjadi korban yang malang.”
Ya, pasukan Rusia kemudian bergulir ke Georgia tepat setelah mereka mengambil serangan awal, mengambil alih beberapa kota, tapi apa yang akan dilakukan negara lain jika ada di bawah kondisi yang sama? Dalam kasus apapun, Rusia menyelesaikan penarikan pasukan dari Georgia pada 8 Oktober dua bulan setelah serangan dimulai. Namun, sampai hari ini media Barat masih menyeret hal itu sebagai semacam bukti-sempurna tentang niat buruk Rusia.
Padahal sebuah penyelidikan independent yang ditugaskan oleh Uni Eropa, sampai pada kesimpulan bahwa Georgia bertanggung jawab untuk memicu permusuhan.
“Dalam pandangan Mission, Georgia yang memicu perang ketika menyerang Tskhinvali (di Ossetia Selatan) dengan artileri berat pada malam 07-08 Agustus 2008,” demikian diplomat Swiss Heidi Tagliavini yang memimpin penyelidikan ketika mengumumkan hasil penyelidikan.
Kemudian ada ‘pancaplokan’ Rusia atas Crimea pada 2014 ketika Ukraina sedang dilanda perselisihan karena banyak kelompok yang gelisah dengan kepentingan Barat di Kiev. Tapi faktanya sekarang orang-orang Crimea tampaknya puas dengan status baru mereka sebagai warga negara Federasi Rusia.
Bahkan Forbes mengakui, satu tahun setelah Crimea bergabung dengan Rusia, jajak pendapat menunjukkan bahwa penduduk setempat yang terdiri dari Ukraina, etnis Rusia atau Tatar kebanyakan setuju: hidup dengan Rusia lebih baik dari pada dengan Ukraina.
Mungkin jika media Barat akhirnya akan mendapatkan cerita langsung akan bingung tentang situasi sekitar Crimea. “Lihat, tidak pernah ada ketegangan Crimea oleh pasukan Rusia. Pada kenyataannya, pada 16 Maret 2014, orang-orang dari Crimea terlepas dari latar belakang etnis mereka hampir dengan suara bulat dalam referendum yang demokratis memilih untuk bergabung dengan Federasi Rusia. Tidak ada tank, tidak ada tentara Rusia, tidak setetes darah yang berharga.”
“Jadi, seperti yang kita dapat melihat dengan jelas, tindakan NATO di perbatasan Rusia benar-benar tidak berdasar dan lebih berdasarkan pada hype dan histeria. Tapi yang pasti tidak membuat mereka kurang berbahaya. Sayangnya, tampaknya satu-satunya cara agar orang-orang Barat akan bangun dan memahami tentang Rusia selama 30 tahun terakhir adalah ketika mereka benar-benar mengalami ketakutan dan kebencian ketika melihat militer tentara asing bermain di halaman belakang mereka sendiri,” tutupnya.

