For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Matahari Telah Terbit dari Barat

“Jogja mau punya gawe lagi Dhe, Ngarsa Dalem arep mantu,” ujar Suto membuka pembicaraan di Angkringan Pak Dhe Harjo tadi malam.

“Iya, dan kayaknya kali ini lebih besar dari pada yang sudah-sudah. Sebanyak 12 kereta kraton dikerahkan. Undangannya juga jauh lebih banyak di banding mantu sebelumnya. Bakalan lebih ramai ini,” belum sempat Pak Dhe Harjo menanggapi, justru Noyo yang duduk di samping Suto yang berkomentar.

”Ya bagus itu. Biar kita bisa menunjukkan bahwa budaya kita itu luar biasa. Indah dan adiluhung serta penuh dengan nilai dan nasihat yang luhur,” ujar Pak Dhe Harjo sambil beranjak berdiri untuk menambahkan arang di tungku api.

”Biar setidaknya orang-orang kita ingat bahwa budaya kita itu tidak kalah dengan budaya orang lain,” tambah laki-laki yang sebagian besar rambutnya sudah memutih itu sambil kembali duduk.

”Betul itu Pak Dhe. Malah sekarang ini film Dhaup Ageng diputar di bioskop yang biasanya kebanyakan muter film barat. Kata Mas Ubay itu juga untuk menunjukkan bahwa budaya kita itu hebat,” kata Noyo lagi.

”Mas Ubay ki sapa?” seloroh Suto

”Halah, itu lho suaminya Jeng Reni, menantu Ngarsa Dalem yang nikah sebelum ini. Namanya kan Mas Ubay to,” dengan nada santai Noyo menjawab.

”Memange masmu po kok mas mes jang jeng. Kualat kapok mengko,” tegur Suto.

”Ya enggak lah kalau kualat. Wong biasanya dipanggil seperti itu kok,” sambil meraih tempe mendoan, Noyo menjawab.

”Tetapi memang sudah kewajiban Kraton untuk terus melestarikan budaya. Karena Kraton kan memang pusat budaya dan…” Belum lagi Noyo merampungkan kalimatnya sudah dipotong Pak Dhe Harjo,”Ya enggak bisa seperti itu. Kewajiban semua orang untuk melestarikan budaya asli. Biar Kraton berjuang mati-matian tetapi rakyat tidak peduli dengan miliknya sendiri, ya sama saja lama-lama budaya asli Indonesia akan mati. Hilang tergilas budaya lain  seperti yang sudah terjadi sekarang ini. Semuanya mengacu ke budaya orang lain. Sedikit-sedikit meniru barat. Coba lihat, bagaimana kondisi budaya kita yang semakin sekarat karena tidak diperhatikan apalagi diurus oleh para pemiliknya.Anak-anak muda memilih budaya barat. Pendidikan selalu mengacu budaya barat. Politik, ekonomi, seni, gaya hidup semua mencontoh barat. Benar-benar kiamat sudah dekat.”

Walah Dhe. Kok dalam banget. Ini cuma masalah budaya. Kok tekan kiamat barang.  Tidak ada dalil yang menyebutkan bahwa tanda-tanda kiamat itu ketika budaya barat dijadikan acuan. Lebay ah Dhe,” Suto menanggapi dengan nada sinis pendapat orang tua yang duduk di depannya itu.

”Yang ada tanda kiamat itu ketika matahari terbit dari barat,” tambah Noyo yang mendukung pendapat Suto.

”Lho siapa tahu ta, matahari terbit dari barat itu maksudnya semua orang memulai segala hal dari barat. Termasuk budaya dan pola pikir yang semua mengacu dan mencontoh negara yang ada di bumi bagian barat sana,” kata Pak Dhe Harjo.

”Maksudnya gimana to itu Dhe? Agak-agak tidak mudeng aku,” tanya Suto.

”Ya sekarang lihat di kanan-kira kita ini. Apa semua tidak mengacu dan meniru apa yang terjadi di barat. Demokrasi ya ala barat. Padahal apa iya mesti pas demokrasi itu di semua tempat,” ujar Pak Dhe Harjo.

”Atau lihat ekonomi kita juga meniru barat yang liberal dan kapitalis. Lupa pada ekonomi koperasi yang katanya pas dengan Indonesia. Juga lihat pendidikan kita yang lebih banyak mengajarkan teori-teori dan pemikiran orang barat. Tidak mau secara serius mempelajari ajaran-ajaran asli Indonesia seperti pemikiran Gadjah Mada, Empu Prapanca, Sultan Agung, dan sebagainya. Semua melihat ke barat. Hampir di semua bagian kehidupan sudah meniru barat. Jika tidak, maka dibilang kuno atau ketinggalan zaman. Makan ya menu ala barat, wanita tidak merasa modern jika tidak berpakaian yang memperlihatkan paha dan dada. Takut dibilang tidak gaul akhirnya minum minuman keras dan memakai narkoba sudah dianggap biasa,” lanjut Pak Dhe Harjo lagi.

Sementara Noyo dan Suto manggut-manggut. Mulai paham apa yang dimaksud pemilik Angkringan tersebut.

Merasa mendapat kesempatan, Pak Dhe Harjo meneruskan penjelasannya. ”Padahal, dulu orang barat itu yang justru datang ke timur. Mereka mencari makanan ke negara timur. Berbagai ilmu penting seperti matematika, kedokteran, ilmu perbintangan, perdagangan, pendidikan dulunya barat yang belajar ke Timur. Tetapi sekarang justru kebalikannya kan?”

”Terus itu yang jenengan maksudkan matahari telah terbit dari barat? Karena semuanya saat ini justru berkaca dan meniru negara-negara barat?” tanya Suto

”Bisa saja maksudnya memang seperti itu. Dulu dimulai dari timur. Sekarang dimulai dari barat,” jawab Pak Dhe Harjo singkat.

”Tetapi apa berarti semua budaya barat itu jelek terus tidak boleh ditiru?” kali ini Noyo yang bertanya.

”Ya gak semua jelek. Tetapi banyak yang tidak sesuai dengan kondisi kita. Yang baik silahkan ditiru. Tidak masalah. Tetapi kalau yang jelek ya jangan dimakan mentah-mentah. Tidak ada budaya yang sempurna. Termasuk budaya kita. Pasti masih banyak yang kurang. Nah, budaya lain diambil untuk melengkapi yang kurang tadi. Intinya, budaya sendiri jangan dilupakan. Kalau mengambil budaya orang lain dengan melupakan atau meninggalkan budaya sendiri itu namanya ngawur. Kalau seperti itu akhirnya kita hanya jadi bangsa pemalas. Tidak mau mikir dan menciptakan karena lebih memilih untuk meniru. Dan cepat atau lambat masyarakat seperti itu pasti akan gampang dipengaruhi, dikendalikan bahkan diperbudak oleh budaya orang lain. Ujung-ujungnya pasti akan mengalami kehancuran. Kiamat!” ujar Pak Dhe Harjo dengan nada tegas.

Dimuat di rubrik Angkringan Harian Jogja edisi Minggu 20 Oktober 2013

Facebook Comments

Comments are closed.