For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Hidup Setan! Merdeka!

ImageObrolan di Angkringan Pakdhe Harjo sudah berlangsung beberapa lama sebelum Rukijo tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya berjalan ke becaknya yang dia parkir di dekat angkringan. Pakdhe Harjo dan Noyo dengan heran memperhatikan tingkah Rukijo yang tampak sibuk membuka jok becak.

Tak berselang satu menit, Rukijo pun sudah kembali ke tempat duduknya. ”Ini tak kasih. Terutama buat kamu No,” ujarnya sambil meletakkan beberapa barang kecil di depan Noyo serta tersenyum kecil.

Seketika Noyo terhenyak. Matanya menatap heran secara bergantian ke barang itu dan ke Rukijo yang masih senyum-senyum kecil sambil menikmati kembali teh jahe di gelasnya.

Ediaaannn…” akhirnya Noyo berujar. ”Kok bawaanmu barang seperti ini je Kang,” Noyo masih keheranan sambil geleng-geleng kepala.

”Ini kalau sampai ketahuan Mbakyu apa ora dadi geger karena dikira yang enggak-enggak,” imbuh Noyo lagi.

”Apa ta itu Le?” Pakdhe Harjo yang belum bisa melihat jelas barang yang diberikan Rukijo bertanya.

Kang Rukijo saiki rada gemblung jebule Dhe. Lha ini bawa kondom sak gepok begini. Dadi curiga aku,” timpal Noyo. Wajah Pakdhe Harjo pun mendadak berubah menjadi keheranan sambil menatap Rukijo.

”Begini lho..” merasa dicurigai Rukijo angkat bicara. “Beberapa hari lalu aku mengantar penumpang ke kampus UGM. Lha ternyata sampai di sana ada pembagian kondom gratis. Aku dikasih ya diterima saja. Namanya juga gratis apa salahnya,” terang Rukijo.

”Lha kok kondom dibagi-bagi gratis itu ada apa?” Pakdhe Harjo masih saja bertanya.

”Untuk memperingati Hari AIDS maka digelar pekan kondom nasional. Kegiatannya ya bagi-bagi kondom gratis itu,” terang Rukijo lagi.

”Lha kok Hari AIDS diperingati dengan pembagian kondom maksudnya gimana?” terus saja Pakdhe Harjo bertanya. Sementara Noyo manthuk-manthuk mulai paham keadaan.

Wah jan jenengan ki De masa ora mudeng ta. Kan salah satu penularan virus AIDS itu melalui hubungan seks yang tidak sehat. Gonta-gonti pasangan, hubungan dengan sejenis serta jarum suntik yang biasa digunakan untuk pesta narkoba. Jadi dibagi-bagilah kondom. Karena jika berhubungan badan menggunakan kondom tidak akan tertular,” kali ini Noyo yang mengambil alih penjelasan.

Pakdhe Harjo manggut-manggut tetapi masih dengan wajah ragu. ”Lha itu yang melaksanakan program bagi-bagi kondom itu siapa?” tanyanya.

”Katanya sih pemerintah. Kementerian Kesehatan dan Komisi Penanggulangan AIDS. Tetapi akhir-akhir ini Kementerian Kesehatan membantah ikut kegiatan itu. Padahal sebelumnya Bu Menteri Kesehatan mengatakan pembagian kondom itu tidak menyalahi aturan. Karena yang dibagi bukan barang terlarang,” ujar Rukijo lagi.

”Aku kok masih bingung ta Le,” ujar Pakdhe Harjo pelan. ”Tadi kamu bilang penularan AIDS salah satunya lewat hubungan seks yang tidak sehat. Terus dikasih kondom. Artinya, pemerintah itu ingin mengatakan berhubungan seks tidak sehat boleh-boleh saja asal pake kondom. Jadi menurut pemerintah gonta-ganti pasangan silahkan. Selingkuh silahkan. Jajan di lokalisasi silahkan. Asal pakai kondom. Begitu kan kira-kira?” lanjut Pakdhe Harjo.

”Ya kalau orang berpikir seperti jenengan sah-sah saja Dhe. Memang kesan yang muncul salah satunya seperti itu,” jawab Rukijo.

”Jan gemblung tenan. Harusnya kalau ingin tidak ketularan AIDS itu ya pemerintah berjuang keras menjelaskan dan mengarahkan rakyatnya agar tidak berhubungan seks dengan ngawur. Harus setia dengan pasangan. Bukannya malah seperti memfasilitasi orang agar melakukan hal yang tidak benar. Kenapa kok tidak bagi-bagi jarum suntik agar mereka yang biasa pakai narkoba punya suntik sendiri-sendiri. Tidak satu suntik dipakai bareng-bareng. Jadi tetap pakai narkoba tetapi tidak tertular AIDS,” Pakdhe Harjo tampaknya mulai emosi.

”Lha kan narkoba itu barang terlarang Dhe,” Noyo yang berujar singkat.

”Lho, gonta-ganti pasangan, jajan dan sejenisnya itu apa bukan hal terlarang? Semua agama melarang. Nyatanya pemerintah juga sering nggrebek pelacuran karena hal itu dinilai melanggar aturan. Tetapi malah difasiltasi dengan bagi-bagi kondom gratis. Lha apa bedanya dengan bagi-bagi suntik untuk para pemakai narkoba? Prinsipnya sama. Memberi fasilitas kepada kejahatan dan kesalahan agar bisa dilakukan dengan benar dan sehat,” suara Pakdhe Harjo makin jelas tampak emosi,

”Memang kegiatan kondom ini jadi kontroversi kok Dhe. Banyak pihak yang berpikiran kaya jenengan itu. Muhammadiyah, NU, tokoh pendidikan, tokoh agama protes. Dan akhirnya setelah diprotes baru Kementerian Kesehatan ngomong itu bukan kegiatan mereka. Tetapi kegiatan distributor kondom,” Rukijo kembali bersuara.

”Wajar kalau mereka protes. Aku sebagai orangtua juga protes. Coba dipikir, orangtua sudah bekerja keras mendidik anak. Sejak kecil diajari soal moral dan agama. Termasuk jangan berzina. Kyai, pendeta, pastur dan juga guru pun berjuang menjaga umatnya agar tidak terperosok melakukan tindakan keji. Lha, kok ada lembaga negara yang terkesan melegalkan perzinaan. Wajar kalau protes.” sejenak Pakdhe Harjo berhenti sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya.”Mbok sekarang kalau misalnya orang yang bagi-bagi kondom itu pasangannya jajan di lokalisasi tetapi pakai kondom. Apa ya mereka bisa menerima? Yakin pasti tidak bisa menerima. Tetapi malah bagi-bagi kondom menyuruh orang lain melakukan hubungan seks bebas asal tidak tertular penyakit. Ini benar-benar zaman edan.”

”Lha mungkin Kementerian Kesehatan , Komisi Penanggulangan AIDS atau distributor kondom itu berpikir bahwa tugas mereka adalah menjaga kesehatan. Bukan menjaga moral,” seloroh Noyo.

”Ya tidak bisa begitu. Semua harus bertanggungjawab bagaimana menjadikan warganya sehat badannya dan moralnya,” timpal Pakdhe Harjo.

”Embuh Dhe. Aku yo bingung,” Rukijo tak bisa lagi berkomentar banyak.

”Bukan hanya kita yang bingung Le,” kata Pakdhe Harjo,”Tetapi setan pun pasti juga bingung sekarang ini.”

Maksudte?” hampir bersamaan Noyo dan Rukijo bertanya.

”Gimana gak bingung. Menjerumuskan manusia ke jurang maksiat itu menjadi tugas setan. Lha tugas itu malah diambil alih oleh manusia. Melalui lembaga resmi pula. Jadinya para setan itu bingung mau ngapain. Tidak ada kerjaan lagi. Makanya setan di Indonesia itu gendut-gentut karena kerjanya cuma tidur. Tetapi tugasnya beres dikerjakan oleh manusia. Mereka saat ini mungkin sedang leyeh-leyeh dan setiap ketemu sesama setan mereka pun berteriak ’hidup setan! Merdeka!” Pakdhe Harjo benar-benar emosi. Sementara Rukijo dan Noyo hanya diam tercenung.

Facebook Comments

Comments are closed.