For full functionality of this site it is necessary to enable JavaScript. Here are the instructions how to enable JavaScript in your web browser.

Belajar pada sentuhan Bill Clinton

Mantan Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton membuat langkah mengejutkan dengan berhasil membebaskan Laura Ling dan Euna Lee, dua jurnalis yang dihukum kerja paksa 12 tahun oleh Pemerintah Korea Utara (Korut). Sulit membayangkan bagaimana Clinton mencairkan hati Kim Jong-il yang selama ini dikenal keras, apalagi jika berurusan dengan negeri Paman Sam.

Korea Utara memang menjadi salah satu negara yang dijadikan ‘musuh’ oleh AS. Bahkan negara ini menjadi satu dari tiga negara selain Iran dan Irak yang oleh Amerika dimasukkan dalam istilah yang mereka sebut Poros Setan. Negara yang dituding mengancam perdamaian dunia. Perdamaian versi Amerika tentunya.

Hubungan semakin memburuk ketika Kim Jong-il nekad melakukan uji coba nuklir pada 5 April 2009 lalu dengan meluncurkan Taepodong 2. Semua kebakaran jenggot, apalagi Jepang. Wajar saja, rudal ini mampu mencapai Negeri Sakura itu hanya dalam waktu 7 menit.

Amerika kian gerah. Hillary Clinton, Menteri Luar Negeri AS menyebut Korut seperti anak kecil yang mencoba mencari perhatian dunia. Bahkan AS sudah benar-benar siap perang dengan mengirimkan pesawat super canggih mereka, F22-Raptor mereka ke Jepang.

Bayangkan, dalam situasi yang sedemikian buruk, Clinton berani datang. Apa bukan seperti masuk kandang macan? Amerika selalu memusuhi Korut, Hillari Clinton, istrinya terus menjelek-jelekan negeri itu di mana pun dan menggalang upaya untuk bersama-sama memusuhi Korut. Sulit menebak bagaimana perasaan Clinton ketika bertemu Kim Jong-il.

Namun hati Kim Jong-il yang oleh rakyat Korut dianggap dewa berhasil diruntuhkan Clinton. Bukan hanya saya yang terkejut. Seluruh dunia terpana. Semua media AS meraba-raba apa kira-kira kompensasi yang diberikan. Mereka tidak percaya meski Hillary menyatakan tidak ada kompensasi dan tidak ada hubungan antara pembebasan wartawan dengan hubungan politik kedua negara.

Media tidak percaya Kim Jong-il mau membebaskan dua wartawati AS itu dengan alasan kemanusiaan. Begitu buruknya image Kim Jong-il di mata media AS hingga seolah tak lagi punya rasa kemanusiaan.

Jepang pun dibuat terpana. Bahkan hanya sehari setelah keberhasilan ini otoritas Jepang meminta bantuan Clinton untuk bertemu kembali dengan Kim Jong-Il demi mengusut nasib warganya yang diculik sejak 1970-1980. Bayangkan, selama ini Jepang tidak berhasil melobi Korut untuk mencari kabar tentang warganya yang sudah sekian lama diculik, sementara Clinton hanya butuh waktu kurang dari 24 jam. Sepertinya tidak salah jika disebut sebagai hal yang luar biasa.

Bukannya Saya pro Amerika. Seperti halnya kebanyakan orang, Saya juga sering gemas dan sebal dengan sejumlah kebijakan luar negeri AS yang sering arogan. Mentang-mentang adidaya terus terkesan seenaknya, gempur sana gempur sini dengan alasan keamanan dalam negerinya. Gemas karena apa pun yang terjadi di Amerika, imbasnya sampai ke Indonesia. Ibarat AS demam, kita ikut bersin.

Hanya saja, dalam kasus Clinton ini, tak ada alasan untuk tidak memberi hormat dan penghargaan. Meski menyebut dirinya datang dalam kapasitas pribadi, tetap saja sulit menerima hal itu. Lembaga negara tetap saja terbawa oleh Clinton. Dan untuk nasib dua warga negaranya, Clinton dan AS rela menekan harga dirinya. ‘Mengemis’ agar dua rakyatnya dibebaskan. Tak peduli, meski Kim Jong-il dan rakyatnya mencibir. Semua rela diterima untuk nasib dua nyawa.

Ah, Saya jadi teringat dengan ribuan tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bernasib malang di negeri orang. Puluhan TKI saat ini hidup di kolong jembatan milik Arab Saudi, Lely Mariani, Sekretaris Pertama KBRI Abu Dhabi Bidang Informasi beberapa waktu lalu mengatakan sekitar 34 TKI berada dalam tahanan penjara Wathbah di Abu Dhabi Uni Emirat Arab. Lebih dahsyat lagi, Duta Besar RI untuk Malaysia, Da’i Bachtiar mengatakan ada lebih dari 8.000 TKI yang ditawan di Malaysia.

Pemerintah selalu tidak terima ketika dituding tidak melindungi TKI. Tapi, kalau melihat angka-angka di atas, menunjukkan betapa banyak rakyat negeri ini yang terlunta-lunta di negara lain.

Mereka, para TKI, itu pergi ke negeri orang manakala harapan untuk perubahan di negeri sendiri sulit untuk ditemui. Mengumpulkan uang untuk menggerakkan ekonomi keluarga di Indonesia. Tapi akhirnya mereka menjadi tawanan dengan berbagai kesalahan.

Ya, mereka ditawan di negeri orang mungkin karena memang bersalah. Salah versi mereka tentunya. Karena jika kita mengacu pada nasib dua jurnalis di Korut, mereka sebenarnya juga salah versi Korut. Toh Clinton akhirnya bisa ‘mendiskusikan’ kesalahan itu.

Apa iya kita tidak bisa meniru Clinton? Agar mereka, rakyat Indonesia itu, tidak seperti anak yatim piatu yang seolah tanpa perhatian dan perlindungan. Cukuplah cerita duka orang Indonesia pulang dari negeri orang dalam kotak mati.

Facebook Comments