
Dikembangkan sebagai pencegat untuk melindungi Angkatan Laut AS (U.S. Navy’s Carrier Battle Groups/CVBG) menjadikan F-4 mau tidak mau harus kerap bertemu pesawat Soviet seperti Tu-95 dan Tu-16 pembom di berbagai belahan dunia.
Jet F-4 Phantom US Navy seringkali diluncurkan oleh flattops Amerika untuk mencegat dan membayangi pembom strategis Uni Soviet yang mengitari kapal induk Amerik adengan ketinggian rendah sebagai sebuah bentuk provokasi.
Sejumlah F-4 memiliki tugas utama untuk memastikan bahwa semua penyusup udara bertemu dalam luar perimeter pertahanan udara Carrier Group.
LCDR Fred Staudenmayer, yang dulu dikenal dengan istilah RIO (Radar Intercept Officer) yang bertugas bersama F-4 di East Coast F-4J operasional USN skuadron (VF-33 Tarsius dari 21 Juni 1973 sampai 19 Januari 1974 mengaku memiliki beberapa pengalaman mencegat Tu -9s dan Tu-16 selama penugasannya di laut Mediterania.
Dalam buku Soviet bombers in Peter E. Davies book F-4 Phantoms U.S. Navy and Marine Corps Gray Ghosts Staudenmayer menjelaskan kerap kali bomber Rusia masuk ke kawasan mereka.
“Aku melihat radar dan mendeteksi blip radar di sekitar dua belas mil, diikuti langsung oleh visual, dan kami langsung mendekatinya. Terbang di dekat sayap dengan ketinggian 500 ft. Hal ini sebagai bentuk mengawal tamu tidak diundang. Selama pelayaran di Teluk Biscay di USS Independence kami sering kali menemui pesawat Soviet menyusup. Seingat saya sekitar 30 hingga 40 kali dan semuanya kami cegat,” katanya.
F-4 milik VF-11 Red Ripper juga terlibat dalam banyak mencegat Tu-16. Salah satunya dilakukan William Greer dan Davies yang terjadi pada malam hari.
Biar kerap kali dalam suasana tegang, tak jarang terjadi hal-hal yang lucu tetapi menjengkelkan. Seperti yang terjadi ketika Steve RUDLOFF mencegat sebuah Tu-95. Seorang kru bomber yang berposisi sebagai penembak belakang dengan santainya menawarkan Vodka dengan mengangkat botol tersebut ke arahnya.
”Dalam status Alert 5 (kondisi siaga tinggi untuk awak di dek) aku pun segera meraih majalah playboy dan aku tunjukkan kepadanya. Orang itu tersenyum hangat dan mengacungkan jempol. Kami selalu mengambil gambar dari mereka, dan sebaliknya. Bahkan kami kerap melepas masker agar bisa saling mengambil gambar kami ”
Tidak jarang justru ketika mencegat sesama kru pesawat itu saling ngobrol dengan hangat. “Suatu saat saya berbicara dengan kru dalam bahasa Inggris. Dia mengaku tinggal di Moskow. Tetapi kemudian ada orang lain berbicara Rusia yang masuk dan akhirnya pembicaraan kami berhenti,” ujar Rudolf.
Sumber:

