AS dan mitra koalisinya telah melakukan lebih dari 11.000 serangan udara ke ISIS baik di Irak atau Suriah sejak kampanye dimulai. Dan pesawat tanker pengisian bahan bakar di udara telah memegang kunci dalam kesuksesan misi ini.
“Kami mungkin bukan ujung tombak, tapi kami yang memungkinkan jangkauan global,” kata seorang Mayor dari 340th Expeditionary Air Refueling Squadron yang karena alasan keamanan hanya disebut namanya sebagai Richard.
Stratotanker dari Pangkalan Udara Al Udeid Air Base di Qatar mengisi bahan bakar untuk aset udara di wilayah Komando Sentral AS yang tanggungjawanya meliputi Afghanistan.
Tanpa pengisian bahan bakar di pertengahan penerbangan, “beberapa pesawat tempur mungkin bahkan tidak bisa sampai ke tujuan mereka,” kata Richard sebagaimana dikutip Star and Stripes Minggu 3 April 2016.
“Jika mereka kehabisan amunisi mereka bisa segera pergi. Jika mereka kehabisan bahan bakar maka mereka harus meninggalkan pesawat. Tapi bahan bakar bukan lagi jadi masalah karena kita di sana menyediakan untuk mereka. ”
Menurut juru bicara 379 Air Expeditionary Wing yang membawahi 3340th Expeditionary Air Refueling Squadron, dari 1 Januari hingga 20 Maret sejumlah KC-135 dari 3340th Expeditionary Air Refueling Squadron telah memasok lebih dari 97 juta pon bahan bakar.
Pada 2015, pengisian armada bahan bakar dari Al Udeid telah terbang lebih dari 14.700 sorti dengan sekitar 103.419 jam terbang untuk mendukung operasi di Afghanistan dan Operasi Resolve Inherent melawan ISIS.
Stratotanker digunakan untuk mengisi bahan bakar pesawat baik dari Amerika maupun non Amerika yang memiliki perjanjian dengan AS, kata Richard.
Untuk memenuhi misinya, 3340th Expeditionary Air Refueling Squadron terdiri dari petugas aktif, cadangan dan penjaga komponen.
Ada sekitar 60 kru dan sekitar 25 penerbangan KC-135 per hari. Ukuran skuadron dan misi tempo tinggi membuat sejumlah tantangan, termasuk rotasi awak, pelatihan awak, aliran misi dan menyeimbangkan bahan bakar yang diturunkan dibandingkan bahan bakar yang tersedia.
Pemeliharaan airframes KC-135 yang telah tua karena telah digunakan selama sekitar 60 tahun juga menimbulkan tantangan lain selain juga cuaca buruk. “Kami tidak berhenti,” kata Richard.
Baca juga:

